Festival Anak Sumbar, Gubernur Tegaskan Hak Anak Prioritas Utama
Berita Utama Rina Yuli Hefni, S.ST.(DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN STATISTIK) 26 Juli 2026 17:30:43 WIB
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 melalui Festival Anak Sumatera Barat bertema "Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" di halaman Istana Gubernur Sumatera Barat, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Barat dan dihadiri Plt Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Ketua PKK, Ketua BKOW, Ketua DWP, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar, pimpinan instansi vertikal, perguruan tinggi, kepala OPD, Kepala BUMN/BUMD, Forum Anak, serta ratusan anak dari berbagai kabupaten dan kota.
Dalam sambutannya, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan bahwa pembangunan daerah harus menempatkan anak sebagai prioritas utama karena mereka merupakan generasi penerus bangsa.
"Tidak ada pilihan untuk mengabaikan harapan dan kebutuhan anak. Jika harus menentukan prioritas, maka program untuk anak harus menjadi yang utama. Negara dan pemerintah daerah wajib hadir memenuhi hak-hak anak melalui kebijakan yang nyata dan dukungan anggaran yang memadai," tegas Gubernur.
Ia mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi momentum memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat hingga keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan ramah anak.
Gubernur juga menekankan pentingnya implementasi Kartu Identitas Anak (KIA) sebagai bentuk kepastian identitas sekaligus pemenuhan hak dasar anak. Program tersebut diharapkan dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat.
Selain itu, pemerintah daerah berkomitmen menyediakan ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak dalam proses penyusunan kebijakan yang menyangkut kepentingan mereka.
"Anak-anak bukan hanya objek pembangunan, tetapi harus menjadi subjek yang didengar aspirasinya. Ruang partisipasi anak harus terus diperkuat agar mereka dapat ikut menentukan masa depan daerah," ujarnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa nilai-nilai agama dan keteladanan Rasulullah SAW menjadi landasan penting dalam memberikan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan kepada anak-anak.
Pada kesempatan tersebut, penghargaan juga diberikan kepada anak-anak berprestasi dari berbagai kabupaten dan kota sebagai bentuk apresiasi atas prestasi sekaligus motivasi bagi generasi muda Sumatera Barat.
Sementara itu, Plt Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian PPPA, Rini Handayani, menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh cara seluruh elemen bangsa memperlakukan anak sejak dini.
"Anak-anak adalah pemimpin masa depan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Karena itu, suara anak harus didengar dan diwujudkan dalam program-program nyata," katanya.
Menurut Rini, peringatan Hari Anak Nasional di Sumatera Barat mengusung semangat pengasuhan positif dengan melibatkan keluarga, pemerintah, komunitas, serta dunia usaha untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Ia mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut disampaikan 15 poin Suara Anak Sumatera Barat yang akan menjadi bahan tindak lanjut dalam penyusunan berbagai program perlindungan dan pemenuhan hak anak.
Rini juga mengingatkan tantangan era digital yang menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi anak, mulai dari ancaman kekerasan hingga isolasi sosial akibat penggunaan gawai yang berlebihan.
"Keluarga memiliki peran utama membangun pengasuhan yang positif. Anak perlu mendapatkan ruang untuk berkembang, didengar pendapatnya, sekaligus dilindungi dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk di ruang digital," ujarnya.
Ia menambahkan, filosofi Minangkabau "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" menjadi landasan moral yang kuat dalam membangun generasi yang berkarakter dan menjamin tidak ada hak anak yang terabaikan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Sumatera Barat, Herlin Sridani, mengatakan Festival Anak Sumatera Barat menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat perlindungan anak sekaligus mendorong keterlibatan aktif anak dalam pembangunan.
"Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum memperkuat perlindungan hak anak sesuai amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak," kata Herlin.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional tahun ini meliputi Panggung Ekspresi Forum Anak, penghargaan anak inspiratif, lomba video bertema 'Sehari Tanpa Kekerasan Bersama Keluarga', lomba Ranking 1 tingkat Sumbar, lomba Kurung Anak Masuk Surau, seminar perlindungan anak, seminar ketahanan mental bagi orang tua, hingga penyampaian Suara Anak kepada Gubernur Sumatera Barat.
Selain itu, DP3AP2KB juga meluncurkan program Pantau Sumbar menuju Sumbar 2045, yang salah satu fokusnya adalah pelaksanaan screening kekerasan terhadap anak pada Juli hingga Agustus 2026.
Herlin mengungkapkan, pelaporan kasus kekerasan terhadap anak melalui aplikasi SIMPONI PPA masih tergolong rendah dan diperkirakan baru sekitar 10 persen dari jumlah kasus yang terjadi.
Karena itu, pemerintah akan memperkuat jejaring pelaporan, meningkatkan penjangkauan komunitas, serta membangun kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, media, keluarga, dan anak-anak.
Melalui Festival Anak Sumatera Barat 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berharap seluruh komponen masyarakat dapat memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan lingkungan yang aman, bebas kekerasan, ramah anak, dan mendukung lahirnya generasi emas menuju Indonesia Emas 2045. (ryh/DiskominfotikSumbar)