Mengenal Syekh Madinah, Seorang Ulama Cerdas dan Berani

Mengenal Syekh Madinah, Seorang Ulama Cerdas dan Berani

Berita Utama EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 18 Maret 2019 16:30:58 WIB


Padang, InfoPublik - Mungkin belum banyak yang mengenal siapa Syekh Madinah, darimana beliau berasal, dan apa sumbangsihnya bagi ranah Minang. Untuk menggali hal tersebut, Tim MMC Diskominfo Sumbar berkunjung ke daerah Ulak'an Pariaman, mencari informasi dan kisah guru Syekh Burhanuddin ini.

Kendaraan yang membawa tim sore itu, memasuki pekarangan sebuah rumah di Nagari Sungai Gimba, Ula'an Tapakih Pariaman, Jumat (15/3).

Di halaman rumah yang cukup luas tersebut terdapat kolam ikan dan beraneka tumbuhan serta pepohonan rindang yang membuat udara sebelumnya lumayan panas, menjadi terasa sejuk.

Dari keterangan Weri (30), Sekretaris Nagari setempat yang mendampingi kami, diketahui bahwa budidaya ikan dan tanaman ini merupakan kegiatan pengisi waktu si empu rumah di hari tuanya.

M. Zamir Dt. Bungsu Rky Rajo Mangkuto, si pemilik rumah menyambut kedatangan tim yang dipimpin langsung kepala dinas, Yeflin Luandri, dengan senyum terkembang. Tetua adat Nagari Sungai Gimba ini memang dikenal sangat ramah, terutama bagi setiap tamu yang hendak mendapat informasi mengenai adat dan budaya Minangkabau.

Ditemani sebungkus rokok kretek dan segelas teh manis, Zamir, begitu beliau biasa disapa memulai penuturannya.

"Sudah banyak yang datang untuk mencari referensi sejarah kesini, baik itu jurnalis, mahasiswa sampai profesor. Mereka bahkan sampai berbulan-bulan tinggal di rumah saya. Tidak hanya Indonesia, ada yang dari luar negeri juga," ucap pria 69 tahun ini.

Sesuai permintaan yang disampaikannya lewat Weri, dimana tim ingin menggali kisah Syekh Madinah, guru Syekh Burhanuddin, penyebar Islam di Minangkabau. Dengan mata menerawang, Zamir mulai bercerita,

Syekh Madinah bernama asli Abdullah Arif atau Abu Hair. Beliau adalah seorang ulama besar kelahiran Oman yang pada awal abd ke-11 Hijriah menuntut ilmu Agama Islam kepada Imam Maliki di Kota Madinah. Pada suatu hari Abdullah Arif dipanggil gurunya, diperintah untuk menyebarkan Islam ke daerah timur.

Sebelum pergi, Imam Malik memberikan 2 (dua) buah botol kosong, seraya berpesan agar si murid mengisi 2 botol kosong tersebut dengan air dan tanah setempat. Jika botol isi air dan isi tanah ditimbang dan sama berat, maka disitulah tempatnya mengajarkan agama Islam.

Singkat cerita, Abdullah Arif berlayar mengarungi Samudera Hindia ke arah timur untuk melaksanakan perintah gurunya (Imam Malik).

"Pertama kali beliau terdampar di Kerajaan Maladewa. Disana, Abdullah Arif atau Abu Hair mulai berdakwah, dan Alhamdulillah, atas izin Allah, Kerajaan Maladewa dapat di Islamkan dalam waktu kurang lebih 4 tahun. Atas jasanya, Raja setempat memberikan gelar Mahyudin yang berarti orang cerdas, berani dan pekerja keras," sebutnya.

Setelah merasa cukup, Abdullah Arif menghadap sang raja, mohon izin untuk melanjutkan dakwah ke Tanah Malaka. Sebelum tiba di Malaka, kapal yang ditumpanginya merapat di Kepulauan Andaman yang terletak di depan Teluk Benggala.

"Seperti di Maladewa, Kerajaan Andaman pun dapat di Islamkan. Abdullah Arif pun mendapat gelar tertinggi dari Raja Andaman yaitu Yahyudin," jelas Zamir sambil tersenyum.

Seiring dengan telah berkembangnya Islam di Andaman, Abdullah Arif merasa harus melanjutkan tugas sucinya menyebarkan Islam sesuai dengan perintah sang guru.

"Beliau berpamitan dengan Raja Andaman, dan melanjutkan perjalanan ke Malaka. Kira-kira 10 hari perjalanan, badai besar menerjang kapal yang ditumpanginya. Akibatnya, kapal tersebut pecah berantakan menjadi puing-puing dan serpihan kayu yang terapung di Lautan Samudera Hindia," katanya.

Atas perlindungan dan izin Allah, dengan berpegangan pada patahan kayu tiang kapal, Abu Hair terapung-apung dan terbawa arus gelombang Samudera Hindia ke arah selatan.

Sambil menyulut rokoknya, Zamir lanjutkan penuturannya. "Ternyata beliau terdampar di tengah-tengah pantai barat Pulau Perca (Sumatera), tepatnya didaerah Taluak Busuak yang kemudia disebut Pantai Pariaman."

Beberapa tahun sebelum Abdullah Arif terdampar, di Daerah Pariaman telah terjadi perang besar antara orang Minang dengan tentara Kesultanan Aceh.

"Saat terdampar, Abu Hair masih menggunakan jubah lengkap dengan sorban salamiri yang mirip seragam tentara Aceh. Karenanya, penduduk setempat langsung menyerangnya karena mengira beliau musuh," ucapnya.

Tetapi setelah diterangkan bahwa dirinya berasal dari Madinah, masyarakat setempat mengerti dan menerima kedatangannya dengan baik.

Setelah beberapa lama Abdullah Arif hidup dan bergaul di daerah Taluak Busuak, ia teringat akan pesan gurunya untuk mencari tempat menetap dalam mengembangkan agama Islam.

Keesokan harinya, Abdullah Arif berangkat menyusuri Batang (sungai) Tapakis menggunakan rakit. Tak lama kemudian, dia melihat pertemuan anak sungai yang bernama Batang Gasia.

Beliau memutuskan untuk terus menyusuri Batang Gasia tersebut ke arah hulunya, tetapi dirinya bingung dan terheran-heran melihat aliran sungai yang berbelok disitu-situ aja.

"Dengan perasaan bingung melihat fenomena tersebut, dia memutuskan berhenti lalu menaiki tebing untuk mengisi botol dengan tanah dan air sungai yang dilalui kemudian menimbangnya," jelas Zamir.

Abdullah Amir terkejut setelah mengetahui kedua botol tersebut sama beratnya. Dia berkeyakinan bahwa disinilah tanah yang dijanjikan untuk mengembangkan ajaran agama Islam sesuai dengan perintah gurunya.

Maka keesokan harinya, atas izin raja setempat Abdullah Amir mulai mendirikan pondok untuk tempat tinggal. Seiring berjalan waktu, mulai banyak berdatangan warga masyarakat lokal maupun luar daerah yang sebelumnya telah mengenal Islam untuk menuntut ilmu agama lebih mendalam kepada Abu Hair.

Ketika mengaji dan mengajarkan ilmu agama, Abdullah Amir selalu duduk di jenjang (tangga) menuju tempat dia tidur/istirahat. Jenjang ini berfungsi layaknya mimbar di masjid. Oleh masyarakat setempat, lazim di sebut gimba.

"Lama-kelamaan nama Sungai Batang Gasia berubah menjadi Sungai Batang Gimba, lalu Abdullah Amir, karena berasal dari Madinah termasyur disebut Syekh Madinah, sehingga nama mimbar beliaupun terkenal dengan sebutan Gimba Syekh Madinah," jelas Zamir sambil menghirup teh nya.

Zamir mengungkapkan, apa yang disampaikannya berasal dari Tambo Padang, yaitu kisah tertulis dari seorang raja di Ula'an dan bisa di jamin keasliaannya. "Saya mendapatkan kisah ini dari Tambo Padang yang berisi 18 halaman dan menceritakan hikayat serta asal usul Syekh Madinah," sebutnya.

Setelah dikaji, kisah dalam tambo ini ternyata cocok dan logis dengan karakter orang Minang, dimana orang Minang itu tidak mau diajar selain oleh kaumnya sendiri. "Makanya Allah mentakdirkan Kanun atau Syekh Burhanuddin untuk meng-Islamkan rakyat Minang," tambahnya.

Tetapi, tidak semua tamu yang datang bermaksud baik dan positif. Sebab, pernah suatu kali, tulisannya justru dimanfaatkan, dijadiin bahan untuk kampanye. "Tulisan dan foto saya pernah dijadikan bahan kampanye salah satu Caleg, dan itu tanpa izin," sebutnya agak emosi.

Untuk itu, dirinya berharap, agar adat dan budaya ini jangan dijadikan komoditi politik terutama bagi generasi muda.

"Jika tujuan awalnya sudah salah, kedepannya pasti tidak akan benar. Saya berharap generasi muda Minang dapat mewarisi adat budaya Minang dengan baik. Saya akan selalu siap jika diminta informasi mengenai sejarah dan adat Minangkabau," katanya di akhir wawancara yang berlangsung hampir satu jam itu.

Di akhir pertemuan, Yeflin Luandri berjanji akan kembali lagi menemui Zamir untuk wawancara kisah-kisah Minang lainnya.

Kita dari Diskominfo Sumbar mengucapkan terima kasih atas kesedian Mamak (orang tua) menerima kami. Kami harapkan tulisan mengenai Syekh Madinah ini nantinya akan membuka mata dunia mengenai ulama besar yang pernah ada di Sumatera Barat.

"Semoga tulisan ini akan menjadi ladang ibadah bagi kita semua. Kita akan kembali lagi menemui mamak untuk menggali kisah-kisah lainnya," janji Yeflin.

Lantunan Azan Ashar mengiringi langkah tim meninggalkan kediaman M. Zamir, Dt. Bungsu Rky Rajo Mangkuto diiringi lambaian tangan sang sesepuh adat ini. (Eko Kurnia/MMC Diskominfo/ toeb)