Etos Kerja : Membangun Negeri
Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 22 Februari 2017 13:07:27 WIB
Oleh :Wakidul Kohar
Misi pembangunan jangka menengah provinsi Sumatera Barat tahun 2016-2021, diantaranya adalah meningkatkan tata pemerintahan yang baik, bersih dan profesional. Misi ini diarahkan untuk membangun tata pemerintahan yang baik, bersih dan profesional untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Untuk itu diperlukan etos kerja dalam menjalan tugas-tugas sehari- hari.
Pertama, Kerja adalah Rahmat.
Rahmat ialah sebuah pengakuan bahwa kerja adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan ini lahir dari kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi seharusnya manusia yakin bahwa Tuhan pasti memelihara kehidupannya.
Fakta sesungguhnya, banyak pekerjaan yang tersedia di lapangan asal ia mau bekerja, sehingga orang sebetulnya tidak perlu menganggur. Pada umumnya masyarakat berpendapat bahwa mencari pekerjaan itu susah. Tetapi yang dimaksud ialah susahnya mendapatkan pekerjaan formal yang di instansi resmi yang sesuai dengan keinginan dan tuntutan citra diri sang pencari kerja. Harus diakui bahwa hal ini memang susah diperoleh karena pekerjaan demikian memang terbatas jumlahnya sementara peminatnya banyak. Tetapi lapangan pekerjaan umum yang sifatnya bisa saja non-formal, tidak melecehkan harkat kemanusiaannya, dan tidak pula selalu berpendapatan rendah sebenarnya sangat banyak. Yang sering terjadi ialah tidak bersedia mengerjakan apa yang tersedia untuk dikerjakan. Artinya, ada banyak hal yang bisa dikerjakan tetapi orang memilih tidak mau mengerjakannya karena tidak sesuai dengan keinginan dan seleranya, lalu terjadilah pengangguran.
Secara fundamental, terdapat empat alasan, mengapa dalam etos kerja ini mempercayai bahwa kerja adalah rahmat, dan karena itu harus disyukuri. Pertama, kerja itu sendiri secara hakiki adalah berkah dari Tuhan. Di sini, lewat pekerjaan, Tuhan memelihara manusia. Dengan upah yang diterima, manusia dapat menyediakan sandang, pangan, dan papan untuk keluarganya.
Kedua, di samping upah financial manusia juga menerima upah berupa non-finansial, misalnya kehormatan, jabatan, fasilitas, jaminan kesehatan, dan lain sebagainya. Banyak perusahaan atau instansi bahkan menyekolahkan karyawannya sampai ke luar negeri. Artinya mereka mendapatkan kesempatan untuk bergaul lebih luas dan meningkatkan kualitas diri mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Inilah rahmat khusus sebagai fasilitas yang diperoleh dari hasil pekerjaan mereka. Dengan demikian, melalui pekerjaan tersedia banyak paket rahmat yang diperoleh baik secara material, psikologikal, sosial, dan spiritual.
Ketiga, talenta yang menjadi basis keahlian dalam bekerja merupakan rahmat. Setiap orang diberi bakat-bakat atau talenta oleh Tuhan. Ada yang mendapat talenta matematika, ada yang mendapat talenta bahasa, ada yang mendapat talenta music, ada yang menerima talenta berupa fisik, bahkan ada yang menerima talenta berupa pikiran yang cerdas, seperti B.J. habibie. Semua bakat dan kemampuan itu merupakan rahmat dari Tuhan.
Keempat, bahan baku yang dipakai dalam bekerja juga telah tersedia karena adanya rahmat dari Tuhan. Sarana dan prasarana yang dijadikan dalam bekerja tersedia karena rahmat dari Tuah.
Dengan paradigm rahmat ini, maka manusia akan terdorong untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Rahmat Tuhan dalam segala hal yang baik dan karakter-Nya yang Mahabaik merupakan sebuah tawaran yang menyuruh manusia untuk selalu bersikap dan berpikir positif. Hal terakhir ini selanjutnya menjadi dasar yang memudahkan orang untuk bekerjasama dengan orang lain secara sinergistik.
Pada tingkat emosional, paradigma rahmat ini membuat hati menjadi tenteram, penuh rasa syukur. Dalam pengertian lain, bekerja adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan, dan dalam bentuk derivatifnya merupakan bentuk rasa syukur kepada negaranya.
Orang yang menghayati paradigma rahmat selalu yakin bahwa rezekinya diatur oleh Sang Rahmat, karirnya dibimbing oleh Sang Rahim, dan masa depannya terjamin aman oleh Sang Providensia (Yang Maha Menyediakan). Pada tingkat selanjutnya sifat ini akan mengatasi godaan sikut kiri – yang kadang berlangsung sangat brutal sampai merendahkan martabat kemanusiaan mereka – demi memperebutkan rezeki yang tidak seberapa.
Rahmat melahirkan manusia legowo. Salah satu bentuk keikhlasan yang amat penting ialah legowo, yakni kerelaan yang tulus to let something go; membiarkan sesuatu pergi dan hilang, apakah jabatan, fasilitas, atau harta benda. Ketika orang lengser dari jabatannya – atau kehilangan apa pun for that matter – umumnya orang akan merasa sangat kehilangan. Tanpa rasa legowo yang dilahirkan dari konsep rahmat, rasa kehilangan itu akan terasa sangat pedih dan menyakitkan.
Kemampuan legowo inilah yang ditunjukkan oleh William Souryadjaja, mantan pemilik Grup Astra yang kehilangan kerajaan bisnisnya secara tragis. Namun karena keyakinannya pada rahmat Tuhan, ia masih tetap tertawa sambil mengisap cerutu kesayangannya.
Kedua, Kerja Adalah Amanah
Amanah melahirkan sebuah sikap tanggung jawab, dengan demikian maka tanggung jawab harus ditunaikan dengan baik dan benar bukan hanya sekedar formalitas. Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang didelegasikan kepada seseorang akan menumbuhkan kehendak kuat untuk melakasanakan tugas dengan benar sesuai job description untuk mencapai target yang ditetapkan.
Konsep amanah akan melahirkan tanggung jawab. Tidak mungkin ada tanggung jawab tanpa konsep amanah, artinya amanah mendahului tanggung jawab, atau amanah melahirkan tanggung jawab. Selanjutnya tanggung jawab memerlukan predikat baik dan benar, artinya sebuah tanggung jawab harus ditunaikan secara baik dan benar sehingga menyamai bobot amanah yang diberikan. Jika bobot amanah dan tanggung jawab tidak seimbang maka terjadilah mismatch yang membuat salah satu pihak dapat membebaskan diri dari ikatan moral yang terjadi. Jika bobot tanggung jawab kurang, maka pemberi amanah dapat menarik amanahnya kembali, maka penerima kepercayaan dengan demikian kehilangan kepercayaan yang pernah dimilikinya. Jika amanah ditarik atau dikurangi bobotnya, padahal tanggung jawab penerima tetap tinggi, maka hubungan akan rusak bahkan cenderung putus karena penerima amanah tidak mau dirugikan atau dilecehkan. Jadi hanya ada satu pilihan; jika menerima amanah, yakni kita haru bertanggung jawab secara baik dan benar. Di sinilah dikatakan bahwa amanah akan melahirkan tanggung jawab.
Kedua, sikap kontraktor yang dapat disingkat dengan krido (Kritik Doang). Orang seperti ini jago ngomong, gemar mengkritik, suka mencela, tetapi jika diminta bertindak hasilnya nol. teorinya banyak, tapi implementasinya nol juga. Suka ikut seminar dan serasehan, tapi yang terutama dicari ialah kopi dan makan siang yang memang enak di hotel-hotel, bukan materi seminar yang serius, kemudian jika terjadi kesalahan atau kegagalan, ia selalu menyodorkan teori kambing hitam, menyalahkan kiri kanan, kecuali diri sendiri. Ia bekerja ala kadarnya, seenak udelnya, dan jika ada masalah diam-diam melepaskan diri dari tanggungjawab. Kepeduliannya dangkal sekali, Cuma sebatas mulut.
Ketiga, sikap sang mandor yang bekerja setengah hati. Awalnya bersemangat, tetapi di tegah jalan disergap rasa malas lau mandek, terutama jika menemui kesulitan. Semangat awal cukup besar tetapi tidak didukung komitmen total. Jika membentuk kepanitiaan, ia paling getol tampil sebagai pengurus inti, tetapi jika sudah mulai bekerja hidungnya jarang kelihatan. Suka bilang “ya, ya, ya, “aman tu” tapi jika hasilnya ditagih, selalu mengelak dan minta maaf tanpa rasa malu.
Keempat, sikap kerja Bonar. Inilah ideal kita. Seperti arti namanya dalam bahasa Toba – orang benar atau lurus hati – jika menerima pekerjaan ia tidak berhenti sampai pekerjaan selesai dengan baik dan benar. Ia tidak puas jika hasil kerjanya belum memenuhi standar professional. Ia punya komitmen, mau berkeringat, dan bekerja hingga pemberi kerja puas. Rasa tanggungjawab menghalanginya mengorbankan mutu pekerjaan. Ia pantang bekerja sembarangan. Ia mengharamkan penyelewengan atas kepercayaan yang diberikan.