KISAH RAJA YANG BERLARI DARI TAHTANYA UNTUK KHUSUS BERIBADAH
Artikel Zakiah(Tenaga Artikel) 14 Februari 2017 10:54:06 WIB
PENGANTAR
Ini adalah kisah salah seorang Raja Kaum Bani Israil. Kaumnya memilihnya untuk memegang kekuasaan dan tampuk pimpinan, lalu rasa takutnya kepada Allah SWT mendorongnya untuk pergi dari kaumnya dengan meninggalkan kursi kekuasaan dan lebih mementingkan ibadah kepada Allah SWT di daerah yang dia tidak dikenal. Dia hidup dari pekerjaannya sendiri.
PENJELASAN
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Bani Israil mengangkat seorang pemimpin mereka sesudah Musa. Suatu malam dia menjalankan shalat di atas Baitul Maqdis di bawah cahaya rembulan. Lalu dia mengingat perkara-perkara yang pernah dilakukannya, maka dia turun melalui tali. Esok pagi tali itu tergantung di masjid, tapi dia telah pergi. Nabi melanjutkan, 'Dia pergi mendatangi suatu kaum di pinggir laut. Dia mendapati mereka sedang mencetak atau membuat batu bata. Dia bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian menerima upah dari batu bata ini?' Mereka memberitahunya. Lalu dia ikut membuat batu bata bersama mereka. Dia makan dari usahanya sendiri. Jika tiba waktu shalat, dia menegakkan shalat. Hal itu lalu dilaporkan oleh para pekerja kepada kepala desa, bahwa di antara mereka terdapat laki-laki yang begini-begini. Maka kepala desa mengundangnya, tetapi dia menolaknya.
Hal itu terulang tiga kali, kemudian kepala desa datang dengan mengendarai kendaraannya. Ketika laki-laki itu melihatnya, dia kabur. Kepala desa itu membuntutinya, tetapi tidak berhasil menyusulnya. Maka kepala desa memanggilnya, 'Tunggu, aku ingin berbicara kepadamu.' Dia pun berhenti, sehingga keduanya bisa berbicara. Laki-laki itu menceritakan kisahnya. Ketika laki-laki itu menceritakan bahwa dia adalah seorang raja dan dia kabur karena takut kepada Tuhannya, kepala desa itu berkata, 'Aku mengikutimu.' Lalu dia mengikutinya dan keduanya beribadah kepada Allah SWT sampai keduanya meninggal di Rumailah Mesir."
Abdullah berkata, "Seandainya aku berada di sana niscaya aku tunjukkan kuburan keduanya berdasarkan tanda yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada kita." Dalam riwayat dalam Musnad Ahmad, "Manakala seseorang laki-laki dari umat sebelum kalian memegang kerajaan, lalu dia berpikir bahwa hal itu terputus darinya dan bahwa kehidupan yang dijalaninya telah menyibukkannya dari beribadah kepada Tuhannya, maka pada suatu malam dia menyusup dan menghilang dari istananya. Dia berada di kerajaan orang lain. Dia mendatangi pantai. Di sana dia bekerja membuat bata dengan upah. Dia pun bisa makan dan bersedekah dengan sisanya. Dia tetap demikian hingga perkara ibadah dan keutamaannya didengar oleh raja mereka. Maka raja memintanya untuk menghadap, akan tetapi dia menolak. Raja mengulang permintaan kepadanya untuk menghadap, tetapi dia selalu menolak. Dia berkata, "Aku tidak ada urusan dengannya." Lalu raja datang dengan berkendara. Manakala laki-laki itu melihatnya, dia kabur. Melihat laki-laki itu kabur, raja mengejarnya tapi gagal menyusulnya. Lalu raja memanggil, "Wahai hamba Allah,. aku tidak akan mencelakakan dirimu." Maka laki-laki itu berhenti dan raja mendekatinya. Raja bertanya, "Siapa kamu? Semoga Allah merahmatimu." Laki-laki itu menjawab, "Aku adalah fulan bin fulan, raja negara ini dan ini. Saat aku merenungkan urusanku, aku mengetahui bahwa apa yang aku jalani terputus dan bahwa ia telah menyibukkanku dari ibadah kepada Allah. Lalu aku meninggalkannya dan datang kemari untuk beribadah kepada Tuhanku Azza wa Jalla.'' Raja berkata, "Kamu tidak lebih memerlukan apa yang kamu lakukan dari diriku." Kemudian raja turun darikendaraannya, melepasnya, dan mengikuti laki-laki itu. Kedua orang itu lantas beribadah kepada Allah dan memohon kepada Allah agar dimatikan bersama. Lalu keduanya mati. Dia berkata, "Seandainya aku berada di Rumailah Mesir, niscaya aku tunjukkan kuburan keduanya berdasarkan ciri yang disampaikan oleh Rasulullah kepada kami."
Sebagian riwayat hadits menyebutkan bahwa raja ini menemukan seutas tambang di tempatnya itu, dia mengikat dengan kuat dan merayap turun dengan tambang itu dari atas masjid sampai turun ke tanah. Di sanalah dia lalu mengembara di bumi Allah yang luas. Dan sampailah pengembaraannya di tepi laut. Di sana terdapat suatu kaum yang bekerja mencetak bata. Dia bergabung dengan mereka, bekerja seperti mereka dan mendapatkan upah seperti mereka. Dia makan dari hasil keringatnya sendiri. Jika waktu shalat tiba dia meninggalkan pekerjaannya demi shalat. Pekerja baru yang bergabung kepada para pekerja lainnya adalah contoh tersendiri. Dia bersungguh-sungguh dalam bekerja, teguh beragama, dan menjaga hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. Pekerja-pekerja lain melihat keutamaannya dan akhlaknya yang mulia melalui pembawaan, ucapan, dan perbuatannya. Maka mereka menyampaikan hal itu kepada raja atau kepala desa mereka yang berdekatan dengan mereka. Dan sepertinya kepala desa ini adalah orang shalih yang mencintai orang-orang yang shalih pula. Dia ingin mengenal laki-laki yang tinggal di desanya itu maka dia meminta pembantunya untuk mengundangnya. Tetapi dia menolak untuk hadir. Justru, dia kabur dari kaumnya karena takut terhadap kerajaan dan fitnah-fitnahnya. Undangan kepala desa kepadanya terulang, begitu pula penolakannya pun terulang. Tidak ada jalan lain bagi kepala desa itu kecuali mengambil kendaraannya dan pergi menemuinya di tempat dia bekerja. Begitu laki-laki ini melihat kepala desa mendatanginya, dia langsung berlari sekuat tenaga. Kepala desa pun mengejarnya di atas kudanya yang tegap, sementara laki-laki itu di atas kedua kakinya. Kelihatannya laki-laki ini adalah laki-laki yang kuat dan tangguh, walaupun dia seorang raja. Hal ini dia buktikan dengan turunnya dia dari tempat yang tinggi dengan hanya merambat seutas tambang.
Perkara seperti ini hanya bisa dilakukan oleh laki-laki yang tangguh. Begitu pula dia bekerja membuat bata yang membuktikan kekuatan dan kekokohannya, karena pekerjaan seperti ini memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Oleh karena itu, dia bisa mendahului kepala desa yang berkuda dan berlari darinya, dan kepala desa itu tidak mampu menyusulnya. Di sini tidak ada cara lain bagi kepala desa yang ingin berbincang dengannya kecuali memanggilnya dan meminta kepadanya agar diberi kesempatan untuk berbicara, setelah kepala desa berjanji kepadanya untuk tidak menyakitinya. Laki-laki itu berhenti dan berbincang. Dia menjelaskan keadaannya, bahwa dia adalah seorang raja yang lari meninggalkan kaumnya.Ketakutannya kepada Allah mendorongnya untuk melepaskan tampuk kekuasaan.
Keadaan laki-laki ini ternyata sama dengan keadaan kepala desa. Sepertinya kedua orang ini satu ide. Kepala desa ini juga telah bertekad untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh laki-laki ini. Oleh karena itu, kepala desa meninggalkan posisi yang didudukinya dan bergabung dengan laki-laki tersebut. Keduanya meninggalkan desa tersebut dan berkelana berdua dengan saling menjaga persaudaraan. Berdua beribadah kepada Allah SWT di bumi Allah yang luas. Keduanya terus menjalani itu sampai maut menjemputnya di daerah yang jauh lagi terpencil di Mesir.
HIKMAH KISAH INI
Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita bahwa kedua orang ini sama-sama berdoa kepada Allah SWT agar dimatikan secara bersamaan, dan sepertinya hal itu dikabulkan-Nya. Sahabat perawi hadis mengetahui tempat kubur keduanya berdasarkan ciri-ciri dan tanda-tanda yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW di Rumailah Mesir. Mungkin muncul pertanyaan: ''Bukankah lebih baik bagi kedua laki-laki ini jika keduanya tetap memegang kedudukan mereka lalu menggunakan kekuasaan itu untuk memperbaiki rakyat, memerangi kemunkaran, menegakkan kebaikan, dan menerapkan syariat Allah? '' Jawabannya, bahwa hal ini berbeda, sesuai dengan kondisinya. Sebagian orang lemah dalam urusan kepemimpinan. Dia mendapati dirinya tidak kuasa untuk berjalan di atas jalan yang lurus jika dia sebagai penguasa. Kekuasaan bisa menyeretnya kepada kerusakan. Dan bisa jadi dia mampu mengatur urusan-urusan rakyat, akan tetapi terdapat penghalang-penghalang di mana dia tidak bisa mengikisnya. Misalnya, keburukan dan kerusakan telah mengakar didaerah yang dikuasainya, dan jika dia membawa mereka kepada jalan yang benar bisa jadi mereka akan melawan dan mengambil kekuasaan dengan cara-cara dosa. Adapun jika penguasa mampu mengarahkan kekuasaannya, memerangi kejahatan, dan menegakkan kebaikan, maka ketetapannya untuk terus memegang kendali kekuasaan akan lebih baik dan lebih besar pahalanya daripada berkonsentrasi kepada ibadah. Dan sepertinya kedua laki-laki ini termasuk dalam golongan yang pertama.
WALLAHU’ALAM BISHOWAB (SZ)