BICARALAH SESUAI TEMPATNYA
Artikel () 06 Desember 2016 08:48:51 WIB
BICARALAH SESUAI TEMPATNYA
Oleh : Zakiah
Ada kaidah dalam Bahasa Arab yang menyebutkan: Li kulli maqam maqal wali kulli maqal maqam. Maknanya adalah bahwa setiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula. Tidak setiap kata sesuai di setiap tempat, pun sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang diucapkan.
Hati-hati sebelum kita bicara, dan ukurlah kemampuan menangkap perkataan dari orang yang kita ajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh beda caranya dibandingkan dengan ketika bicara dengan orang dewasa. Berbicara dengan remaja tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita. Orang yang tidak terampil membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa jadi kurang benar.
Perhatikan saja, ketika kita berbincang dengan keponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita. Mengapa? Hal ini karena dia tidak akan mungkin mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang tua. Akan tetapi, tentu tidak mungkin kita mempermalukan guru kita dengan cara yang sama seperti kita berbicara kepada keponakan kita.
Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil Al-Quran, mamahami dan mengetahui banyak hadis, belum cukup. Sebab, kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya hanya dengan mengobral dalil, atau sekedar menunjukkan banyaknya hafalan, tidaklah cukup.
Dalam situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental yang berbeda; ada orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan berbeda daya tangkapnya dengan orang yang sedang dilanda kesedihan.
Ada orang yang sedang menikmati kesuksesannya, dan tentu saja akan berbeda dengan orang yang sedang menghadapi masalah dalam hidupnya. Karena itu, orang yang sehat berbeda kemampuannya dalam menangkap ide, dengan orang yang sedang sakit. Seorang pembicara yang baik tidak cukup hanya terampil berbicara benar, tapi juga harus bisa memilih situasi dan kondisi kapan dia berbicara.
Mengapa banyak nasihat orangtua yang tidak didengar oleh anaknya? Saya khawatir orangtua merasa benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan kondisi anak yang sedang diajak bicara, yang mungkin sedang labil.
Memang aneh kita ini, ketika anak masih kecil, orangtua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si kecil. Tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, perpindahan masa, orangtua tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya. Karena itu, kita perlu ilmu dalam mendidik keluarga, sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa di depan keluarga.
Subhanallah! Ada banyak cara untuk berkomunikasi, dan berbahagialah jika kita diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tempatnya. Kita berdialog dengan petani tentu saja berbeda dibandingkan saat kita berdiskusi dengan seorang eksekutif. Saat kita berada di lingkungan santri yang fasih berbicara Bahasa Arab, tentu saja berbeda ketika kita harus berdialog dengan orang-orang di pasar yang mungkin tidak mengerti Bahasa Arab. Seorang dai, misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengumbar dalil, melontarkan kata-kata yang tidak bermakna. Tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Suatu ketika Umar bin Khathab bertemu dengan Abu Hurairah, lalu Umar bertanya, Mau pergi kemana engkau, wahai Abu Hurairah?, Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah Saw, jawab Abu Hurairah. Apa kata beliau? Umar bertanya lagi. Setiap orang yang mengucapkan kalimat la ilaha illallah, ia pasti masuk surga,tutur Abu Hurairah, Tunggu dulu, wahai sahabat cegah Umar. Kemudian Umar bin Khaththab pun pergi menemui Rasulullah, dan bertanya, Wahai Rasulullah! Apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)? Rasul pun mengiyakan. Tetapi, wahai Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena khawatir akan disalahpahami penafsirannya.
Mendengar keberatan Umar itu, Rasul pun tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, Ya aku setuju dengan pendapatmu. Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di pasar.
Perkataan Abu Hurairah itu tidak salah, sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi, dikhawatirkan orang yang mendengarnya salah dalam memahami maksudnya, karena tidak pada tempatnya.Demikianlah semoga menjadi pelajaran berhikmah untuk kita semua.Aamiin