LAGI, PENELITI KLAIM MASIH ADA ENERGI GEMPA 9 SR DI MENTAWAI
Berita Utama Biro Humas Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat(Biro Humas Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat) 25 Juni 2015 09:05:17 WIB
Padang, Selama 32 hari lakukan penelitian menggunakan kapal Falkor milik Schmidt Ocean Institute Amerika Serikat, 10 peneliti geofisika kelautan asal Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP), Earth Observatory Singapore Nanyang Technological University (EOS-NTU), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan banyak patahan aktif di bagian barat Sumatera tepatnya di Kepulauan Mentawai. Tim peneliti juga mengklaim telah berhasil melakukan pengambilan data seismik beresolusi tinggi dan data paras dasar laut.
Melalui penelitian bertajuk Mentawai Gap Tsunami Earthquake Risk Assessment (MEGA-TERA), Profesor Satish Singh dari IPGP mengatakan, dari dua lokasi penelitian, masing-masing di cekungan Wharton dan kawasan sebelah barat Pulau Siberut, ditemukan banyak patahan aktif di dekat palung dengan arah berbeda-beda, baik di lempeng yang tersubduksi maupun lempeng diatasnya. Kekuatan gempa yang tersimpan di pertemuan lempeng dimaksud mencapai 9 Skala Richter, bahkan memungkinkan memicu terjadinya tsunami. Akan tetapi, tidak bisa ditentukan kapan energi tersebut dilepaskan.
“Penelitian ini sangat menarik. Kami telah mencitrakan dasar laut, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kekuatan gempa yang mungkin ditimbulkan bisa mencapai 9 SR, bisa jadi lebih rendah karena kekuatannya sudah ada yang keluar tahun 2010 lalu,” terangnya kepada awak media di Auditorium Gubernuran, Selasa (23/06/2015)
Dalam kesempatan yang sama, peneliti asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Nugroho Hananto mengatakan, penelitian dilakukan untuk melihat pergerakan zona subduksi di Mentawai. Hasilnya penelitian akan disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, yang bisa dijadikan bahan untuk menyusun mitigasi bencana yang harus disiapkan menghadapi kemungkinan bencana yang ditimbulkan.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya gempa diiringi tsunami, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menyiapkan mitigasi bencana, mulai dari memberikan sosialisasi dan kesiapsiagaan bencana pada masyarakat. Sejumlah jalur evakuasi, khususnya evakuasi vertical atau shelter telah didirikan untuk dijadikan sebagai lokasi mengamankan diri, guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa jika terjadi tsunami.
“Kita sudah petakan daerah rawan. Di situ kita bangun shelter untuk menampung masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi tsunami. Kita fokus ke shelter dibanding jalur horizontal yang justru memicu kepanikan dan kemacetan,” jelasnya.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O Blake yang juga hadir bersama para peneliti di Auditrorium Gubernuran, Padang, Selasa (23/6/2015) mengatakan, Amerika akan terus mendukung para peneliti yang ingin melakukan riset tentang sains ataupun teknologi. Sementara dengan Sumatera Barat sendiri, Pemerintah Amerika akan mencoba menjajaki kemungkinan kerjasama membangun Smart City.