Human Error Dalam Birokrasi, Berdampak!

Human Error Dalam Birokrasi, Berdampak!

Artikel Havina Mirsya \'afra, S. Sos.(DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN STATISTIK) 24 Agustus 2026 13:13:53 WIB


Oleh : Eko Faiz (ASN Pemerintah Provinsi Sumatera Barat)

 

Padang, 24 Agustus 2026 - Dalam konteks bisnis atau finansial, human error mengacu pada kesalahan dalam pencatatan, perekapan, atau pelaporan data keuangan yang disebabkan oleh kelalaian, kurangnya pengetahuan, atau faktor ketidaktelitian manusia. Sedangkan dalam birokrasi, human error adalah tindakan atau keputusan pegawai yang tidak sengaja menyimpang dari aturan standar, yang sering kali menjadi gejala dari sistem kerja yang buruk, aturan yang rumit, atau kurangnya pengawasan, alih-alih murni kesalahan individu.

Birokrasi dibangun untuk memastikan pemerintahan berjalan tertib, terukur, akuntabel, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Namun, di balik berbagai regulasi, prosedur, aplikasi, formulir, dan jenjang kewenangan, tetap ada satu faktor yang tidak pernah bisa dihilangkan: manusia.

Di sinilah human error muncul.

Human error dalam birokrasi bukan sekadar kesalahan mengetik angka, salah memasukkan data, terlambat mengirim laporan, atau keliru memahami sebuah aturan. Dalam konteks pemerintahan, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi persoalan besar karena keputusan birokrasi menyangkut anggaran, pelayanan publik, administrasi pemerintahan, bahkan hak masyarakat.

Ketika Kesalahan Kecil Berdampak Besar

Salah memasukkan satu angka dalam dokumen anggaran dapat memengaruhi perhitungan. Salah menginput data penerima bantuan dapat membuat masyarakat yang berhak justru tidak menerima. Salah memahami prosedur dapat menyebabkan pelayanan tertunda. Bahkan keterlambatan satu meja dalam proses administrasi dapat membuat seluruh rantai pelayanan ikut terlambat.

Masalahnya, birokrasi sering kali bekerja dalam sebuah rantai.

Satu kesalahan di awal dapat menghasilkan kesalahan berikutnya di tahap berikutnya. Ketika tidak segera dikoreksi, kesalahan tersebut dapat berubah menjadi keputusan, laporan, kebijakan, atau penggunaan anggaran yang keliru.

Karena itu, human error tidak boleh hanya dilihat sebagai kesalahan individu. Kita perlu bertanya lebih jauh: mengapa sistem memungkinkan kesalahan itu terjadi?

Tidak Semua Kesalahan Berarti Kelalaian

Ada perbedaan antara kesalahan manusia dan kelalaian.

Kesalahan dapat terjadi karena beban kerja yang tinggi, informasi yang tidak lengkap, prosedur yang rumit, komunikasi yang buruk, sistem aplikasi yang tidak ramah pengguna, keterbatasan kompetensi, atau perubahan regulasi yang terlalu cepat.

Sementara kelalaian muncul ketika seseorang sebenarnya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi dengan sengaja tidak melakukannya atau mengabaikan kewajibannya.

Pembedaan ini penting. Jika setiap kesalahan langsung dihukum tanpa mencari akar masalah, organisasi akan menciptakan budaya ketakutan. Pegawai menjadi takut mengambil keputusan, takut berinovasi, bahkan cenderung memilih diam agar tidak disalahkan.

Sebaliknya, jika semua kesalahan dianggap sebagai human error dan selalu dimaafkan, maka akan muncul budaya permisif.

Karena itu, birokrasi membutuhkan keseimbangan antara akuntabilitas dan pembelajaran.

Dari Blaming Culture Menuju Learning Culture

Birokrasi yang sehat bukan birokrasi yang tidak pernah melakukan kesalahan. Birokrasi yang sehat adalah birokrasi yang mampu mendeteksi, memperbaiki, dan mencegah kesalahan agar tidak terulang.

Ketika terjadi kesalahan, pertanyaan pertama jangan selalu: “Siapa yang salah?” Tetapi juga: “Mengapa kesalahan ini bisa terjadi?”, “Apakah prosedurnya sudah jelas?”, “Apakah informasi yang tersedia sudah memadai?”, “Apakah beban kerja dan kompetensi pegawai sesuai?”, “Apakah sistem pengendalian internal sudah berjalan?” dan “Bagaimana agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah pendekatan dari sekadar mencari kambing hitam menjadi membangun sistem yang lebih baik.

Lima Sumber Human Error dalam Birokrasi

Pertama, kesalahan kompetensi. Pegawai belum memahami aturan, prosedur, teknologi, atau substansi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Kedua, kesalahan komunikasi. Instruksi tidak jelas, informasi tidak lengkap, terjadi miskomunikasi antarbidang, atau koordinasi hanya mengandalkan komunikasi informal.

Ketiga, kesalahan proses. SOP terlalu rumit, terlalu banyak tahapan, tidak jelas siapa melakukan apa, atau tidak tersedia mekanisme pemeriksaan sebelum keputusan dibuat.

Keempat, kesalahan teknologi. Aplikasi tidak terintegrasi, data ganda, antarmuka yang membingungkan, atau sistem belum mampu memberikan peringatan ketika terjadi kesalahan.

Kelima, kesalahan perilaku. Kurang disiplin, bekerja secara serampangan, mengabaikan prosedur, atau bahkan sengaja melakukan penyimpangan.

Lima sumber tersebut membutuhkan respons yang berbeda. Kesalahan kompetensi diselesaikan dengan pembelajaran. Kesalahan proses diperbaiki melalui penyederhanaan SOP. Kesalahan teknologi membutuhkan perbaikan sistem. Sedangkan kesalahan karena kesengajaan harus ditangani melalui mekanisme akuntabilitas dan penegakan aturan.

Birokrasi Membutuhkan Sistem yang “Memaafkan” Kesalahan

Sistem pemerintahan yang baik harus dirancang sedemikian rupa sehingga kesalahan manusia dapat dideteksi sebelum menimbulkan dampak besar.

Misalnya, sistem dapat menyediakan validasi data, double check, persetujuan berjenjang, rekonsiliasi, notifikasi, audit trail, pembatasan kewenangan, serta mekanisme koreksi.

Prinsipnya sederhana: Jangan hanya mengandalkan manusia untuk tidak melakukan kesalahan. Bangun sistem yang membantu manusia menghindari kesalahan.

Pilot pesawat memiliki berbagai sistem pengaman bukan karena pilot tidak dipercaya, tetapi karena manusia memang memiliki keterbatasan.

Demikian pula birokrasi. Pengendalian internal bukan tanda ketidakpercayaan kepada ASN. Justru pengendalian merupakan mekanisme perlindungan agar pegawai tidak mudah terjebak dalam kesalahan.

Teknologi Bukan Penghapus Human Error. Digitalisasi birokrasi sering dianggap sebagai jawaban atas berbagai persoalan administrasi. Padahal, teknologi tidak otomatis menghilangkan human error.

Digitalisasi hanya memindahkan sebagian risiko kesalahan dari kertas ke layar. Jika data awal salah, sistem digital akan memproses data yang salah dengan sangat cepat. Jika SOP buruk, aplikasi hanya akan membuat SOP yang buruk menjadi digital. Jika pengguna tidak memahami sistem, teknologi justru dapat menciptakan kesalahan baru.

Karena itu, transformasi digital harus berjalan bersama dengan peningkatan kompetensi, penyederhanaan proses bisnis, integrasi data, keamanan informasi, dan penguatan budaya kerja.

ASN Harus Berani Mengakui Kesalahan

Salah satu budaya yang perlu dibangun dalam birokrasi adalah keberanian untuk mengatakan: “Saya salah.”

Pengakuan atas kesalahan bukan tanda kelemahan. Justru merupakan bentuk integritas.

Yang berbahaya bukan pegawai yang mengakui kesalahan dan segera memperbaikinya. Yang lebih berbahaya adalah kesalahan yang ditutup-tutupi, dipindahkan kepada orang lain, atau dibiarkan sampai menjadi masalah yang lebih besar.

Integritas berarti berani bertanggung jawab atas pekerjaan, termasuk ketika pekerjaan tersebut ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, organisasi juga harus memberikan ruang bagi pegawai untuk melaporkan kesalahan secara terbuka tanpa langsung diperlakukan sebagai pelaku pelanggaran, sepanjang kesalahan tersebut memang merupakan kesalahan yang tidak disengaja.

Dari Zero Error Menuju Zero Negligence

Membangun birokrasi tanpa kesalahan manusia hampir mustahil. Karena itu, target yang lebih realistis bukan sekadar “zero error”, melainkan “zero negligence”—tidak ada kesengajaan untuk mengabaikan tanggung jawab.

Kesalahan yang jujur harus menjadi bahan pembelajaran. Kesalahan yang berulang harus menjadi sinyal bahwa sistem perlu diperbaiki. Sedangkan kesalahan yang disengaja dan merugikan kepentingan publik harus dipertanggungjawabkan.

Dengan pendekatan tersebut, birokrasi tidak menjadi lembaga yang takut salah, tetapi menjadi organisasi yang belajar dari kesalahan.

Dampak Human Error

Human Error dalam birokrasi berdampak pada penurunan kualitas pelayanan public,  pemborosan waktu dan anggaran dan menurunkan produktivitas ASN.

Disamping itu, akan mengganggu pengambilan Keputusan dan menimbulkan risiko keuangan serta menurunkan kepercayaan Masyarakat.

Lebih dasyatnya berdampak merusak reputasi organisasi, meningkatkan beban kerja serta memicu konflik internal. Terlebih lagi menghambat inovasi, menimbulkan risiko hukum dan administrative serta mengurangi efektivitas pemerintahan.

Efek Domino Human Error

Kesalahan manusia → Data/Dokumen salah → Proses terganggu → Pekerjaan diulang → Waktu dan anggaran terbuang → Pelayanan menurun → Kepercayaan publik berkurang.

Karena itu, human error tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan individu.

Kesalahan individu harus menjadi bahan evaluasi sistem.

Birokrasi perlu membangun mekanisme double check, validasi data, SOP yang sederhana dan jelas, pembagian kewenangan yang tegas, pengawasan internal, pemanfaatan teknologi, serta budaya organisasi yang mendorong pegawai untuk segera melaporkan dan memperbaiki kesalahan.