Sentuhan Teknologi Kampus Jawab Tantangan Nelayan Pesisir Mentawai

Sentuhan Teknologi Kampus Jawab Tantangan Nelayan Pesisir Mentawai

Berita Utama Dedi Oscar Adams, M.I.Kom.(DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN STATISTIK) 19 Agustus 2026 11:50:52 WIB


SIBERUT — Keterbatasan fasilitas pendingin dan pasokan listrik yang belum optimal di kawasan 3T (3P) Sumatera Barat tak lagi jadi penghalang bagi nelayan Kepulauan Mentawai untuk menjaga kualitas hasil tangkapan mereka. Melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026, tiga perguruan tinggi terkemuka—Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Universitas Airlangga (UNAIR)—menerjunkan teknologi tepat guna langsung ke garis depan pesisir Bumi Sikerei.

Aksi kolaborasi yang berlangsung pada 11–12 Agustus 2026 ini memusatkan kegiatannya di Desa Muara Sikabaluan (Kecamatan Siberut Utara) dan Dusun Labuan Bajau, Desa Sigapokna (Kecamatan Siberut Barat). Rangkaian acara diisi dengan penyuluhan, pelatihan, hingga demonstrasi teknologi Cold Storage Box Portable berteknologi Phase Change Material (PCM)–Hydrogel Pack.

Menjawab Solusi Masalah Nyata di Laut Sumbar

Langkah inovasi ini berakar dari realitas keras yang dihadapi sekitar 60 nelayan lokal di Siberut. Bagi para nelayan yang kerap melaut hingga dua hari, menjaga kesegaran ikan adalah kunci mempertahankan nilai jual. Selama ini, mereka sangat bergantung pada es batu yang cepat mencair dan harus dibeli. Kondisi ini kian memprihatinkan di Dusun Labuan Bajau, di mana akses listrik belum beroperasi penuh 24 jam.

"Teknologi ini dirancang bukan sekadar inovasi laboratorium, melainkan jawaban atas kebutuhan nyata nelayan Mentawai," ujar Ketua Tim PMKI 2026, Dr. Damar Rastri Adhika, dari ITB. 

Dalam menjalankan program ini, Dr. Damar didampingi oleh Nor Basid Adiwibawa Prasetya, Ph.D. (UNDIP) dan Dr. Suhailah, (UNAIR), serta melibatkan belasan mahasiswa lintas disiplin ilmu nano, teknik fisika, dan kimia dari ketiga kampus.

Inovasi Bebas Es Batu yang Efisien

Teknologi yang dihadirkan memanfaatkan PCM–Hydrogel Pack yang berfungsi sebagai media penyimpan energi dingin dan melepaskannya secara bertahap. Berbeda dengan es biasa, keunggulan PCM antara lain dapat digunakan berulang kali setelah dibekukan kembali.

Selain itu, teknologi ini juga tidak menghasilkan lelehan air yang dapat merusak kualitas tekstur ikan. Kemudian, juga bisa mengurangi risiko kebocoran media pendingin, serta yang paling penting, desainnya portabel yang praktis dibawa ke atas perahu nelayan.

Proses alih teknologi ini berlangsung interaktif. Tim akademisi tidak hanya memamerkan alat, tetapi juga menggelar simulasi penggunaan dan menyerap masukan langsung dari nelayan setempat.

Dukungan penuh pun mengalir dari jajaran pemerintah daerah dan tokoh lokal Sumbar, mulai dari Camat Siberut Utara Panukanan Saguntung, Kepala Desa Muara Sikabaluan Aprizon, hingga Kepala Dusun Labuan Bajau Utara Arya Seta dan Kepala Dusun Labuan Bajau Selatan Ukui.

Jembatan Akademis dan Kesejahteraan Masyarakat

Bagi masyarakat pesisir Mentawai, alternatif pendingin ini membawa harapan baru untuk menekan biaya operasional melaut sekaligus menjaga daya tawar harga ikan di pasaran. Masukan dan kondisi lapangan di Mentawai ini sekaligus menjadi catatan penting bagi tim peneliti kampus untuk menyempurnakan teknologi berbasis kebutuhan lokal.

Melalui sinergi ITB, UNDIP, dan UNAIR, PMKI 2026 membuktikan bahwa riset sains dan teknologi tepat guna dari bangku kuliah mampu memberi dampak langsung bagi percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah kepulauan Sumatera Barat.(*/doa/Diskominfotik Sumbar)