Membangun Kepercayaan Wisata

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 14 Desember 2020 09:05:02 WIB


Harian Bisnis Indonesia edisi 1 Desember 2020 dalam salah satu halamannya memuat tulisan dengan judul, “Sumbar Bangun Kepercayaan Wisata”. Judul ini erat kaitannya dengan kesuksesan Sumbar menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-28 dengan menjalankan protokol kesehatan. 

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Sumbar Ian Hanafiah turut berkomentar bahwa pelaksanaan MTQ Nasional ke-28 tidak ada laporan kasus Covid-19. Ian juga menyebutkan bahwa justru terjadi penurunan kasus positif covid di Sumbar. 

Ian menyebut, keberhasilan Sumbar melaksanakan MTQ Nasional ke-28 yang aman covid bisa dijadikan acuan bagi wisatawan untuk mengunjungi Sumbar. Di pengujung tahun, sudah ada perusahaan perjalanan yang akan membawa rombongan wisatawan keluarga nusantara mengelilingi Sumbar. 

Masih di harian yang sama, disebutkan bahwa Sumbar menargetkan 8,1 juta wisatawan nusantara pada 2020, yang insya Allah bakal tercapai. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, pemda tidak terlalu mengharapkan kedatangan wisatawan mancanegara. Karena BIM (Bandara Internasional Minangkabau) belum membuka penerbangan internasional. 

Terkait wisata aman covid, Ian Hanafiah dan Kepala Dinas Pariwisata Sumbar memiliki kesamaan pemikiran tentang kepatuhan terhadap protokol kesehatan bagi pelaku pariwisata di Sumbar. Karena dengan mematuhi protokol kesehatan, wisatawan aman dari covid, pelaku pariwisata seperti pelayan hotel, rumah makan dan lainnya juga aman dari covid. 

Era normal baru atau new normal, membolehkan kembali masyarakat untuk beraktivitas, berusaha, bepergian, yang diikuti kepatuhan melaksanakan protokol kesehatan. Sayangnya tidak semua orang yang melakukan usaha mau mematuhi protokol kesehatan. Padahal dengan tidak mematuhi protokol kesehatan, konsumen belum tentu mau berbelanja atau membeli produk yang dijual. Contohnya adalah para pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Jika penjual tidak memakai masker dan mencuci tangan atau mengenakan sarung tangan, konsumen belum tentu mau berbelanja atau membeli makanan di situ. 

Berbeda dengan rumah makan yang rencananya akan diberikan sertifikat sudah ikut tes usap (swab). Konsumen yang datang akan lebih merasa nyaman ketika melihat adanya sertifikat tersebut. Di sisi lain, dengan mematuhi protokol kesehatan, penjual juga akan terlindungi dari konsumen atau pembeli yang mungkin saja berstatus OTG. Ini artinya, dengan mematuhi protokol kesehatan, penjual dan pembeli akan aman dari covid. 

Kesuksesan penyelenggaraan MTQ Nasional ke-28 yang aman dari covid karena menerapkan protokol kesehatan ketat telah mengharumkan nama Sumbar sebagai penyelenggara yang mematuhi protokol kesehatan. Dan ini juga memberikan pengaruh kepada dunia pariwisata. Jika pariwisata bergerak, ekonomi akan bergerak, memberikan efek multiplier. 

Penerapan protokol kesehatan di sektor pariwisata juga disebut Menteri Pariwisata di chanel You Tube Helmy Yahya Bicara sebagai sebuah bentuk kesuksesan. Dan ini berdampak positif bagi kemajuan dunia pariwisata di masa pandemic. (efs)