Membangun Empati

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 21 September 2020 11:19:48 WIB


Membangun Empati 

Harian Singgalang edisi 17 September 2020 di dalam headlinye memuat tulisan dengan judul, “Jangan Tutup Rumah Sakit”. Di atas judul tertulis, “Kasus positif covid-19 di Sumbar Terus Bertambah”.  Disebutkan bahwa banyak IGD dan poli rumah sakit yang tutup karena petugasnya terpapar covid. Sementara itu, Harian Singgalang edisi 19 September 2020 di dalam headlinenya memuat tulisan dengan judul, “Warga Sumbar Positif Covid-19 Genap 4.000”.  

Dua berita di atas menandakan bahwa lonjakan terjadi akibat tidak mematuhi protokol kesehatan. Salah satu sebabnya adalah tidak memakai masker. Jika sudah tidak memakai masker, seseorang akan mudah menularkan dan mudah tertular. Semakin banyak yang menularkan atau tertular akibat tidak memakai masker, akan semakin banyak orang yang positif covid. Sebagian ada yang hanya diisolasi atau karantina. Sebagian lagi ada yang dirawat di rumah sakit. 

Jika makin banyak rumah sakit dipenuhi oleh pasien positif covid, akan semakin banyak tenaga kesehatan yang terfokus menangani pasien covid. Dan lama kelamaan akan membuat mereka kewalahan hingga kelelahan, yang berujung tertular karena kondisi badan melemah serta sebab-sebab lainnya. Berdasarkan data ikatan dokter Indonesia (IDI), dokter yang meninggal akibat terkena covid-19 berjumlah 117 orang. 

Hal ini seharusnya menjadi perhatian masyarakat, karena para dokter sudah banyak meneriakkan agar masyarakat memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta melakukan tes swab jika keluar kota. Jika aturan dilanggar, banyak yang terkena dan dibawa ke rumah sakit. 

Masyarakat Indonesia sebenarnya masyarakat yang gotong royong. Jika ada bencana mereka sangat dermawan. Apalagi jika bencana atau musibah yang masuk ke televisi atau internet dan kemudian viral, solidaritas berdatangan. Tetapi entah kenapa untuk masalah tenaga kesehatan yang kewalahan, masyarakat ada yang masih belum sadar atau berempati. Masyarakat yang berempati tentunya ada. Dan mereka mematuhi protokol kesehatan agtar tidak tertular. Tapi mereka yang belum berempati ini mungkin tidak menonton bagaimana tenaga kesehatan berjibaku terus menerus, atau membaca berita tentang hal tersebut. Atau belum pernah melihat langsung ke rumah sakit bagaimana kondisi yang sebenarnya. 

Akibat banyaknya tenaga kesehatan fokus kepada penanganan covid, maka masyarakat yang juga ingin berobat ke poliklinik jantung, penyakit dalam, anak, bedah, gigi, dan lainnya mengalami kesulitan. Karena untuk ke poliklinik harus memperhatikan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Selain itu mereka juga was was apakah ketika di poliklinik akan tertular oleh orang lain yang mungkin saja ada yang tidak memakai masker. Terutama di tengah terjadinya lonjakan orang positif covid tiap harinya. 

Membangun empati memang sulit, tapi bisa dilakukan secara personal atau kelompok/komunitas. Pemerintah juga tak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk memakai masker agar mereka terlindungi dan tidak menularkan kepada orang lain. Mudah-mudahan upaya yang sudah dilakukan ini bisa memberikan pengaruh positif kepada masyarakat. Membangun empati di masa pandemic covid seperti mendidik anak sejak kecil hingga besar . Ada proses yang harus dilalui dan juga waktu yang dijalani. (efs)