Gugus Tugas Nasional Apresiasi Kinerja Lab Unand
Berita Utama TITA SHANIA(Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) 08 Juni 2020 11:34:49 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo, yang juga merupakan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 RI, pada Minggu (07/06), mengapresiasi langkah penanganan Covid 19 yang dilakukan oleh provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Menurutnya, tim laboratorium yang dipimpin oleh Dr. Andani Eka Putra sangat militan dalam melakukan tracing atau pelacakan secara masif pada orang orang yang berpotensi menularkan atau Orang Tanpa Gejala (OTG). Dengan pola seperti itu, ia menilai upaya penanganan penyebaran Covid 19 di Sumbar menunjukkan hasil yang baik.
Hal itu diungkapkan oleh Letjen Doni Monardo dalam telewicara virtual bersama Dr. Andani Eka Putra yang merupakan Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Telewicara itu juga diikuti oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkomindo). Pada kesempatan itu, Dr. Andani yang diberi kesempatan untuk memaparkan, mengatakan bahwa serupa dengan Korea Selatan (Korsel), Sumbar melakukan pemeriksaan langsung terhadap OTG, bukan terjebak pada pemeriksaan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Ia menganalogikan OTG sebagai harimau yang masih berkeliaran. Untuk itu, lanjutnya, lebih baik menangkap harimau yang masih berkeliaran dan bebas memangsa siapa saja ketimbang yang sudah berada dalam kandang, yang dianalogikan sebagai pasien PDP.
Dr. Andani juga mengatakan, faktor penting dalam memutus rantai penyebaran Covid 19 adalah dengan memperbanyak tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan meningkatkan kapasitas laboratorium. Ia juga berpesan bahwa perang sesungguhnya dalam melawan penyebaran Covid 19 ada dilapangan, bukan di rumah sakit. Rumah sakit hanyalah benteng terakhir untuk mencegah dan mengurangi angka kematian.
Menurutnya, apa yang dikerjakannya bersama timnya di laboratorium di Sumbar setidaknya sudah menunjukkan indikator yang positif. Dengan kapasitas lab yang ada, Dr. Andani mengatakan bahwa lab Sumbar telah memeriksa sekitar 24.000 orang dari 5 juta penduduk, yakni sekitar 0,43 persen. Hal ini mirip dengan yang dilakukan di Korea Selatan (Korsel), yakni mereka telah memeriksa sebanyak 1,3 persen dari jumlah penduduk. Bandingkan dengan angka nasional yang masih dikisaran 0,08 persen.
Ia pun menyarankan agar pemeriksaan dengan tes PCR diperluas. Karena hanya dengan tes PCR maka kepastian terinfeksi Covid 19 atau tidak dapat diperoleh. Pada awalnya, lab Unand hanya menargetkan pemeriksaan sebanyak 300 sampel swab sehari. Namun, diluar target tersebut, dirinya bersama tim pemeriksa yang sebagian besarnya adalah mahasiswa mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand, dapat menyelesaikan 700 hingga 800 sampel swab sehari. Ditambah dengan adanya mesin ekstraksi yang baru diadakan, lab ini kini menargetkan dapat memeriksa 2.000 sampai 2.500 sampel sehari.
Dr. Andani juga menyebutkan bahwa kunci suksesnya dalam mengembangkan laboratorium Covid 19 salah satunya adalah berkat dukungan Gubernur Sumbar dan pihak pihak lainnya. Ia menambahkan, inovasi yang dilakukan juga merupakan faktor pendukung kesuksesan kinerja lab-nya. Dengan kondisi terakhir yang ada di Sumbar, Dr. Andani menyatakan bahwa belum ada satu pun daerah di Sumbar yang aman seratus persen dari Covid 19. Namun, melihat perkembangan yang ada, ia menilai Sumbar termasuk daerah yang relatif siap memasuki fase new normal.
Untuk mencegah masifnya kembali penyebaran Covid 19 di Sumbar, Gubernur Sumbar telah mengatakan bahwa setiap orang yang akan masuk ke Sumbar wajib menjalani pemeriksaan swab. Jika hasil swab negatif, maka yang bersangkutan dapat masuk Sumbar. Namun jika positif, maka pendatang tersebut akan dikarantina terlebih dahulu di pulau pulau yang ada di Sumbar.