Satu Kampung Lockdown

Artikel () 15 Mei 2020 23:22:58 WIB


Harian Radar Jogja edisi 2 Mei 2020 dalam salah satu halamannya memuat tulisan dengan judul, “Satu Kampung Memilih Lockdown”. Di bawah judul tersebut tertulis, “34 Ikut Rapid Test, 15 Warga Positif Korona”. 

Di berita tersebut dijelaskan bahwa 42 KK di RT 1 RW 7 Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo melakukan isolasi mandiri dengan karantina wilayah untuk mencegah penularan covid-19. Dengan hasil tes 15 warga positif Covid-19, warga secara sukarela memutuskan sendiri melakukan karantina wilayah. Hal ini mendapat dukungan pengurus RT.  

Apa yang dilakukan oleh sekelompok warga ini menunjukkan adanya kesadaran di sebagian masyarakat untuk mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19. Mereka memutuskan sendiri melakukan karantina wilayah versi mereka menunjukkan kepedulian agar tidak semakin banyak yang terkena Covid-19.

Bayangkan jika mereka satu sama lain tidak kompak dan menyalahkan pihak yang terkena. Atau warga yang positif diusir. Pasti akan muncul kekacauan dan gangguan sosial yang memberikan dampak negatif lebih luas.  

Tapi ternyata warga kompak dan memutuskan sendiri karantina wilayah agar tidak ada yang tertular. Pengurus RT pun ikut mendukung pilihan warganya tersebut. Hal positif seperti ini sangat membantu pemerintah yang tengah berjuang menghadapi wabah Covid-19.

Masyarakat secara umum pun ikut terbantu dengan karantina wilayah mandiri yang dilakukan tersebut. Karena telah ikut berperan membatasi penyebaran Covid-19. Sehingga masyarakat di tempat lain tercegah dari penularan.  

Semoga apa yang dilakukan oleh warga di Kecamatan Purworejo ini bisa dicontoh oleh masyarakat di berbagai tempat. Sehingga sesama masyarakat saling memiliki kepedulian sosial yang tinggi dalam mencegah meluasnya wabah Covid-19.  

Saat ini, sebagian masyarakat masih ada yang tidak peduli dengan penyebaran wabah Covid-19. Sehingga mereka tidak memakai masker ketika keluar rumah dan melakukan jaga jarak fisik dan sosial.

Banyaknya berita tenaga medis dan kesehatan yang terkena Covid-19 ketika menangani pasien Covid-19 sepertinya tidak sampai ke mereka. Maka tak heran jika masih ada yang merasa tidak ada apa-apa.  

Bagi sebagian masyarakat, sepertinya harus terkena dulu Covid-19 baru sadar akan bahaya yang dihadapi. Ini jelas tidak bagus dan meremehkan bahaya yang ada di depan mata. Ada juga yang setelah terkena baru menyampaikan kepada masyarakat agar ikuti seruan pemerintah dan ulama dalam menghadapi penyebaran wabah Covid-19.  

Ada pula tokoh masyarakat atau pemimpin lingkungan masyarakat yang mendapat serangan fisik dari masyarakat akibat mengajak masyarakat untuk menghindari kerumunan atau menjaga jarak sosial. Sungguh ini sebuah hal yang tidak bagus, tapi terjadi di tengah masyarakat.  

Bahkan di media sosial ada pula masyarakat yang mencaci maki pemerintahnya karena dianggap menakut-nakuti masyarakat dengan isu Covid-19. Padahal pemerintah bekerja sesuai dengan hirarki pemerintahan dan protokol yang sudah disusun.  

Tidak dipungkiri, perkembangan teknologi informasi justru menjadikan sebagian masyarakat lebih senang berita atau informasi hoaks. Akhirnya berita atau informasi yang sebenarnya tentang Covid-19 justru tidak pernah dibaca secara serius.  

Seharusnya, dengan perkembangan teknologi dan informasi dan ponsel pintar, semakin mudah masyarakat mendapatkan berita atau informasi tentang Covid-19. Tapi, fakta yang ada menunjukkan sebaliknya. Ini juga merupakan tantangan dalam mengedukasi masyarakat terkait pandemi Covid-19. (efs)