MCA, Siapa Diuntungkan?
Artikel () 28 Februari 2018 10:43:14 WIB
Dalam sebuah dialog di stasiun televisi, Mustofa Naharawardaya salah seorang Pengurus Pusat Muhammadiyah yang menjadi narasumber acara menceritakan bahwa ada seseorang yang berpura-pura sebagai dirinya mengontak seseorang menyebarkan berbagai gambar-gambar yang berisi provokasi, dan ini terjadi di wilayah Sumbar. Mustofa menyatakan bahwa itu adalah contoh bagaimana dengan mudahnya orang lain mengatasnamakan dirinya dan kemudian mengajak orang lain menyebarkan gambar-gambar yang berisi kebencian melalui media sosial atau dunia maya. Mustofa diwawancara terkait ditangkapnya orang-orang yang disebut sebagai MCA (Muslim Cyber Army). Dan ada kemungkinan MCA yang diungkap ke public itu sebuah jebakan.
Baru-baru ini memang terjadi penangkapan orang-orang yang disebut sebagai anggota atau bagian dari kelompok MCA (Muslim Cyber Army). Orang-orang ini dinyatakan terbukti melakukan tindakan penyebaran gambar-gambar atau informasi yang menimbulkan kebencian.
Perlu diakui bahwa sudah beberapa tahun ini kehidupan media sosial masyarakat Indonesia diwarnai maraknya penyebaran informasi dan pesan-pesan yang berisi kebencian. Masyarakat pengguna media sosial sayangnya tidak perlu merasa memeriksa asal muasal informasi atau pesan tersebut.
Yang lebih buruk lagi, kebencian yang cepat tersulut ini digerakkan dengan menggunakan sentimen agama. Maka ketika tiba-tiba muncul gerakan atau organisasi yang menyebut dirinya MCA banyak orang merasa ingin bergabung di sana.
Di satu sisi, sentimen agama ini menguat akibat adanya tebaran kebencian yang menghina agama tersebut sehingga para pemeluk agama merasa agama mereka dihinakan. Di sisi lain akibat sentimen yang tidak terkendali dan bahkan tidak memperhatikan nilai-nilai agama maka dengan mudahnya mereka pun terjebak dengan penyebaran hoaks dan kebencian yang tidak berdasar.
Oleh karena itu, alangkah baiknya umat Islam atau masyarakat pengguna media sosial berhati-hati dalam menerima informasi. Karena ada semacam paradoks di masyarakat dunia maya. Akun yang tidak dikenal tiba-tiba sangat dipercaya postingannya sehingga dengan cepat disebarkan, namun akun teman sendiri belum tentu dipercaya.
Terkait maraknya semangat keislaman di dunia maya yang kemudian dituangkan dalam gerakan MCA, sesungguhnya merugikan umat Islam sendiri. Karena ketika ada orang yang ditangkap dan disebut sebagai MCA, maka MCA menjadi sebuah stereotype. Sayangnya mereka yang merasa bukan bagian dari MCA yang ditangkap tetapi MCA independen yang berkelakuan positif ataupun ada yang melakukan perbuatan negatif di satu sisi kurang peka dengan peta politik nasional. Sehingga berpotensi terjadinya suasana yang makin tidak kondusif.
Akhirnya isu MCA ini sama sekali tidak menguntungkan umat Islam yang namanya ada di MCA. Emosi atau ego dalam beragama memang bisa membutakan hati. Padahal ajaran Islam tidak seperti itu. (efs)
ilustrasi: freefoto.com