Ali Akbar Navis
Artikel () 19 September 2017 09:01:21 WIB
Jika orang membaca nama seorang tokoh besar dengan nama lengkapnya seperti judul tulisan ini, mungkin perlu berpikir siapakah gerangan. Tapi kalau nama populernya yang ditulis dengan A.A. Navis mungkin lebih cepat orang tahu siapakah orang yang dimaksud.
Nama Ali Akbar Navis menjadi terkenal dengan sebuah cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Meskipun belum tentu orang yang tahu judulnya juga pernah membaca isinya. Termasuk saya sendiri yang memang belum pernah membaca isi cerpen tersebut.
Namun asosiasi yang demikian kuat terhadap judul yang sangat berbobot tersebut sudah memberikan petunjuk bahwa judul “Robohnya Surau Kami” adalah semacam fenomena yang terjadi pada diri umat Islam. Sebagian orang mengkritik cerpen RSK ini karena dianggap menjelekkan Islam.
Lalu, apakah yang mau saya ulas dari seorang Ali Akbar Navis ini? Ada hal yang menurut saya cukup unik untuk dibahas di dalam tulisan ini. Pertama, Ali Akbar Navis ternyata tidak memiliki pekerjaan tetap setelah menikah. Padahal ia pernah bekerja sebagai pegawai rendahan di stasiun. Ali Akbar Navis juga pernah bekerja di Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Sumatera Tengah. Ia hanya bekerja tiga tahun di situ.
Dua tahun setelah berhenti (1957) Ali Akbar Navis menikah dengan Aksari Jasin. Ali Akbar Navis setelah menikah mencari nafkah dengan menulis dan berkarya, bukan lagi pegawai atau berpenghasilan tetap. Namun sang istri tidak mempermasalahkan, bahkan sang istri merasa senang karena suaminya bisa mengawasi anak-anaknya sambil menulis dan berkarya.
Kedua, Ali Akbar Navis menurut putrinya Gemala Ranti, enggan menetap di kota besar yang berada di luar Sumbar seperti Jakarta dan Jogjakarta. Masih menurut anaknya, Ali Akbar Navis yang mendapat tawaran sebagai dosen di Brunei Darussalam dan Malaysia, tidak ia ambil. Sementara jika melihat sejarah pendidikannya, Ali Akbar Navis tidak tamat SMP.
Kedua hal unik yang sudah saya uraikan ini jika dilihat lagi, menunjukkan kualitas dan integritas dari Ali Akbar Navis dan istrinya. Istri yang bersedia menerima suami apa adanya dan tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap menunjukkan kualitas dan integritas seorang perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Demikian pula dengan figur Ali Akbar Navis yang berprinsip tetap tinggal di Sumbar, padahal tawaran pekerjaan datang dari luar. Jika orang Minang banyak yang merantau untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan dan juga kualitas diri, seorang Ali Akbar Navis justru merasa lebih baik berdiam di Sumbar.
Meskipun berdiam di Sumbar, Ali Akbar Navis pada rentang 1971-1982 berkiprah dalam dunia politik dengan menjadi Anggota DPRD Sumbar. Ia dikenal kritis dan tegas semasa menjadi Anggota DPRD Sumbar.
Ali Akbar Navis dan istrinya hidup langgeng. Hal ini menurut saya dari sudut manajemen sumberdaya manusia, karena adanya aspek positif dari kedua pasangan tersebut. Aspek positif yang dimaksud adalah dua keunikan yang saya ulas di atas. Seorang suami yang mendapat dukungan penuh istrinya dan juga bisa menerima suami apa adanya adalah faktor yang menjadikan bahtera rumah tangga bisa berjalan dengan baik.
Meskipun kesannya remeh, tapi dalam konteks saat ini ternyata menjalankan bahtera rumah tangga tidaklah semudah dibayangkan. Maka, belajar dari keluarga Ali Akbar Navis adalah sebuah keunikan tersendiri. Di kala seorang laki-laki harus mempersiapkan bekal harta untuk menikah, maka kisah Ali Akbar Navis bisa menjadi contoh. Demikian pula di kala seorang wanita menuntut calon suaminya memiliki bekal cukup untuk menikah, kisah istri Ali Akbar Navis bisa menjadi contoh.
Ini baru contoh dari dua hal unik yang sudah saya bahas. Belum lagi melihat aspek positif lainnya dari Ali Akbar Navis. Di antaranya adalah, menurut sang istri Ali Akbar Navis dikenal humoris, sehingga istrinya sering tertawa mendengar humor dari suaminya. Sedangkan dalam kehidupan di luar, Ali Akbar Navis dikenal tegas dan kritis. Sehingga tulisannya sering berisi kritikan yang mengajak orang untuk berpikir dalam.
Setiap tokoh besar, selalu ada hal unik atau aspek positif yang bisa dipelajari dan dijadikan contoh oleh generasi sesudahnya. Terlebih lagi, Ali Akbar Navis adalah seorang penulis atau sastrawan. Mengetahui aspek positif di luar keterkenalannya sebagai sastrawan adalah hal yang mengundang keinginan untuk mencari tahu lebih banyak tentang dirinya. (efs)
Referensi: Majalah Tempo, 29 Agustus – 4 September 2016
Ilustrasi: freefoto.com