Konstruk Media terhadap Islam
Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 19 April 2017 11:17:56 WIB
Konstruk Media terhadap Islam
Oleh : Wakidul Kohar
Media massa dalam kajian ilmu komunikasi dikenal mempunyai beberapa fungsi, yaitu fungsi pendidikan, hiburan, informasi. Akan tetapi bila di lihat secara mendasar, media massa berfungsi sebagai surveillance dalam arti media masa berfungsi mengamati realitas dan melaporkan realitas itu kepada masa, karena tidak semua orang mampu mengamati kehidupan sosial keagamaan.
Media massa juga berfungsi sebagai story teller artinya media masa menceritakan realitas kepada massa. Reaalitas diceritakan dalam bentuk Scanhand reality ( kenyataan yang dibuat), bukan realitas sebenarnya. Masyarakat adalah penonton di dinding gua, media masa menceritakan dan melukiskan realitas apa yang ada dalam gua dan melukiskan di dindingnya, tapi apakah sama apa yang ada di dinding gua dengan yang ada di dalam gua sebenarnya.
Tujuan pemberitaan pada setiap media adalah untuk kemajuan masyarakat, ketentraman masyarakat, karena media bekerja untuk masyarakat. Maka cara memberiatakan harus menghormati hak azazi manusia. Media tidak boleh jadi bagian dari masalah masyarakat. Namun beberapa pengamatan menujukkan terdapat berita yang propokatif, dengan prinsip berita “ harus heboh”.
Harapan masyarakat, termasuk masyarakat Sumatera Barat sangat tinggi terhadap peran media, sehingga mampu menjadi pelopor budaya yang berkualitas dan memberikan informasi yang kredibe. Pesatnya perkembangan media massa dan tumbuhnya berbagai stasiun televisi serta surat kabar cetak maupun online, turut memungkinkan semua lapisan masyarakat untuk mengakses informasi secara bebas dan sangat terbuka. Namun optimisme terhadap peran media, mulai dipertanyakan dan menjadi bahan kajian lebih dalam oleh kalangan akademisi dan pemerintah sebagai pelindung masyarakat .
Fenomena arus informasi yang semakin deras dan tumpang tindih tak jarang menimbulkan terjadinya konstruksi atas realitas yang telah terjadi dan secara sadar atau tidak, dapat melahirkan realita baru. Setiap media mempunyai cara dan kecenderungan dalam menampilkan sebuah berita. Hal ini dikarenakan kebijakan media dan latar belakang wartawan yang dapat mempengaruhi dalam menentukan berita apa yang akan dimuat dan bagian mana yang menjadi fokus pemberitaan serta bagian lain yang tidak diberitakan
Pragmatisme media, yang tercermin dalam mengejar ratting demi keuntungan finansial, memaksa media mengadopsi logika pasar industri yang di identikkan dengan hal-hal yang sensasional dan spektakuler. Akibatnya, media menyamakan yang bernilai berita dengan sensasi murahan. Padahal dalam sebuah konten berita, tersirat pesan yang ingin disampaikan oleh wartawan kepada pembacanya. Ada tema yang diangkat dari suatu peristiwa dan ada karakter intrinsik yang dikenal sebagai nilai berita (news value). Nilai berita ini menjadi ukuran yang berguna atau yang biasa diterapkan untuk menentukan layak dan tidaknya suatu berita (newsworthy)
Berita di berbagai media komunikasi massa makin didominasi oleh tema-tema kekerasan, diantaranya permasalahan pembunuhan, penipuan, dan penganiayaan. Kecenderungan itu berlangsung secara terus menerus, hingga manusia menjadi tidak peka bahkan menjadi mati rasa terhadap gejala kekerasan. Menganggap kekerasan sebagai kewajaran untuk dilihat dari krisis sosial, kemanusiaan, dan krisis spiritual. Lebih jauh kekerasan tersebut bahkan diciptakan, diprovokasi, dikomersialisasikan, dan dibudayakan sehingga akhirnya terwujudlah budaya kekerasan atau budaya yang menghasilkan kekerasan.
Pada sisi lain, penyiaran berita negatif juga terjadi pada komunitas tertentu, terutama realitas umat Islam di negara-negara Islam, turut menyumbang kepada gambaran negatif image Islam, malahan perpecahan umat Islam, kepahaman jumud dan tidak berbudaya sering dipandang sebagai mewakili pandangan Islam secara menyeluruh. Terdapat standar ganda media dalam penyampaian berita kekerasan agama, isu terorisme, hingga menciptakan realitas baru untuk menggiring publik kepada apa yang disebut “islamfobia.”
Image Islam dimunculkan dalam berbagai bentuk, baik secara positif, negatif ataupun netral. Dalam hal ini media dipandang sangat berperan dalam memunculkan bentuk image tertentu. Image negatif seperti teroris, fundamentalis, radikal dan militan sering dikaitkan dengan Islam. Semua bentuk image dipublikasikan melalui media massa dengan menggunakan teori komunikasi massa, dimana organisasi media menyampaikan pesan-pesan kepada khalayak ramai, dan pesan-pesan ini akan dilihat serta dipahami oleh penontonnya, sekaligus akan mempengaruhi mereka. Oleh yang demikian, media dikatakan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap masyarakat.
Maka diperlukan cara cerdas membaca berita dengan prinsip mengurangi psikologi gemar sebar berita. Ketika membaca berita, usahakan untuk jangan langsung menyebarkannya walau isinya mungkin mengkhawatirkan atau malah menggiurkan. Ingat bahwa tidak semua hal yang diberitakan di dunia maya adalah sebuah kebenaran. Jadi, seseorang ikut serta dalam menyebarkan informasi yang salah, berarti mereka sedang meneruskan berita HOAX kepada orang lain dan membuat mereka berpotensi untuk tertipu. Dalam kajian Islam, diperingatkan dengan prinsip tabayun.“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.” (Q.S. al-Hujarat: 49: 6)
Prinsip tersebut mempuyai arti bahwa setiap berita harus diteliti lebih lanjut kesahihan beritanya. Jika merasa kurang akurat, masyarakat berkewajiban cross check kabar tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan di bidangnya. Prisip selanjutya tabayun juga berarti jeli dan teliti dalam membaca berita. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengecek validitas sebuah informasi, adalah dengan melakukan kritik sumber berita.