PENGOLAHAN LIMBAH KULIT NENAS SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF PADA TERNAK RUMINANSIA
Artikel YUNI ERLITA, S.Pt(Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan) 30 Maret 2017 15:06:32 WIB
Indonesia adalah negara yang beriklim tropis, sehingga banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang bermanfaat. Namun, tanaman-tanaman yang bermanfaat itu oleh masyarakat belum dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat sekarang cenderung mengkonsumsi bahan-bahan yang lebih instant dan praktis, akan tetapi tanpa disadari bahan-bahan tersebut menggunakan zat kimia yang jika dikonsumsi berlebihan akan berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Sebagaimana kita ketahui, di negara Indonesia banyak ditumbuhi pohon nenas yang tersebar di berbagai pulau. Bahkan hampir seluruh wilayah Indonesia terdapat pohon nenas. Dari bagian pohon nenas yang sering dikonsumsi adalah bagian buahnya, namun itupun tidak dimanfaatkan secara optimal. Masyarakat hanya mengkonsumsi bagian daging buahnya, sedangkan untuk kulitnya oleh masyarakat dibuang begitu saja. Sehingga dapat dikategorikan sebagai limbah.
Berdasarkan kandungan nutriennya, ternyata kulit buah nenas mengandung karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Mengingat kandungan karbohidrat tinggi yang menyebabkan akan tingginya gula dalam kulit buah nenas serta serat kasar yang cukup tinggi juga maka memungkinkan untuk memanfaatkannya sebagai salah satu pakan alternatif ternak ruminansia khususnya sapi.
Manfaat Kulit Nenas
Pengolahan limbah kulit nenas diharapkan dapat memperbaiki ekonomi kelompok tani serta dapat menjadikan limbah yang tadinya hanya ditimbun saja menjadi lebih bermanfaat bagi ternak ruminansia serta dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tani setempat
Produktivitas ternak terutama sapi sangat di pengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan oleh peternak. Kondisi optimum pertumbuhan ternak tidak akan tercapai dengan maksimal apabila peternak hanya memberi pakan rumput atau hijauan. Penambahan gizi dalam bentuk bahan penguat atau hijauan yang mengandung protein tinggi, sehingga harus ditambahkan dengan adanya pencampuran dengan leguminosa atau tanaman lainnya. Karena semakin bervariasi ransum atau pakan yang diberikan dapat menambah konsumsi ternak terhadap bahan pakan atau palabilitas ternak serta dapat menyempurnakan kandungan nutrisi untuk berlangsungnya aktivitas ternak serta produksi. Namun, hal yang perlu di perhatikan adanya kandungan metabolit sekunder ( zat anti nutrisi) yang dapat mempengaruhi kuantitas maupun batasan penggunaan dalam ransum.
Salah satu cara dalam mengatasi kekurangan hijauan adalah dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai pengganti hijauan. Pengembangan penggunaan limbah yang berasal dari agroindustri dan bahan pakan nonkonvensional sangat penting dilakukan. Salah satu limbah yang memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai bahan pakan alternatif adalah limbah kulit nenas.
Limbah kulit nanas merupakan sumber energi yang potensial, karena kandungan karbohidratnya yang tinggi, yaitu 71,6% bahan ekstrak tanpa N (BETN) dan 9,35 % serat kasar. Produksi limbah kulit nenas yang di hasilkan dalam industri pengalengan nenas sangat besar.
Limbah kulit nenas mengandung serat (NDF) yang cukup tinggi 57, 3%, sedangkan protein kasar termasuk rendah yaitu 3,5%. Oleh karena, itu potensi penggunaan limbah kulit nenas bukan sebagai komponen penyusun konsentrat, namun lebih sebagai pakan alternative. Limbah kulit nenas yang telah dikeringkan dapat digunakan langsung sebagai bahan pakan alternative. Sedangkan bila digunakan sebagai pakan dasar dalam pakan komplit limbah kulit nenas harus digiling terlebih dahulu. Sebagai pakan dasar limbah nenas diharapkan dapat meminimalisir ketergantungan terhadap adanya pakan hijauan bagi kebutuhan ternak ruminansia khususnya sapi.
Produksi buah nenas secara nasional mencapai 702 ton pertahun dan sebagian besar disumbang oleh lima daerah utama penghasil nenas yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat dan Jawa Timur. Potensi tanaman nenas sebagai sumber bahan pakan ternak dimungkinkan, apabila terdapat industri yang akan mengolah buah nenas menjadi produk hasil olahan berupa sari nenas. Tingkat rendemen sekitar 15%, atau dihasilkan produk limbah berupa campuran kulit dan serat perasan daging buah sebesar 85%. Walaupun tidak seluruh produksi tanaman nenas digunakan untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengolah yang ada , secara potensi terdapat 596 ribu ton pertahun limbah segar nenas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.
Buah nenas kaya akan enzim bromelin yang berguna untuk melegakan tenggorokan dan membantu pencernaan. Enzim bromelain mencerna protein di dalam makanan dan menyiapkannya agar mudah diserap tubuh.
Tekhnologi pengolahan limbah kulit nenas untuk dijadikan bahan pakan ternak ruminansia kebanyakan dilakukan dengan pengeringan karena untuk mengurangi kadar air yang tinggi dalam kulit nenas, sehingga memerlukan penanganan, pengeringan yang berlanjut sehingga didapat bahan pakan ternak yang kering.
Tetapi, limbah kulit nenas juga dapat diproses dengan cara fermentasi untuk menghasilkan silase limbah kulit nenas. Hal ini didukung oleh adanya kandungan air sebesar 75% yang memenuhi proses silase.
Fermentasi ini dapat mengurangi masalah terjadinya kerusakan limbah kulit nenas, karena silase dapat digunakan langsung sebagai bahan pakan dasar ternak ruminansia.
Hal ini dengan otomatis akan mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pengolahan secara signifikan, meskipun pengolahan dilakukan dengan menggunakan teknologi fermentasi tetap akan mengeluarkan biaya untuk pembuatan silo dan bahan aditif.
Teknologi tradisional yang dilakukan pada kulit nenas dengan menggunakan 3 cara yaitu :
- Pengeringan yaitu dengan cara kulit nenas dikeringkan dibawah sinar matahari selama 3-4 jam, sehingga didapati kulit nenas kering dengan kadar air 13%.
- Penggilingan yaitu kulit nanas yang sudah dikeringkan tadi digiling sehingga menghasilkan tepung yang dapat memberikan efek positif terhadap rumen.
- Pencampuran, kulit nenas yang sudah menjadi tepung dapat dicampurkan dengan pakan konsentrat ataupun pakan komplit yang akan diberikan pada ternak ruminansia khususnya sapi.
Penggunaan limbah kulit nenas sebagai bahan pakan ternak dapat digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan ternak ruminansia seperti sapi maupun kambing.
https://ratulebah02.wordpress.com/.../pengolahan-limbah-kulit-nanas-sebagai-pakan-a...
Berita Terkait Lainnya :
- PELATIHAN FASILITATOR GUGUS KENDALI MUTU (GKM) BAGI APARAT PEMBINA
- PELAYANAN PEMASANGAN ALAT KONTRASEPSI PADA DAERAH KHUSUS
- SATPOL PP DAN SATLINMAS SINERGI DALAM HADAPI PILKADA SERENTAK DI SUMBAR
- PELANTIKAN KEPALA DINAS KESEHATAN SEBAGAI PJ BUPATI PADANG PARIAMAN
- PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN UKM NO. 11 TENTANG PEMUPUKAN MODAL PENYERTAAN PADA KOPERASI