Jauh di Taqwa, Dekat di Hati

Jauh di Taqwa, Dekat di Hati

Artikel () 28 Januari 2017 15:53:05 WIB


Bagi kaum muslimin, setiap shalat Jumat akan selalu mendengarkan nasihat khatib agar menjadi pribadi yang bertaqwa. Dan janganlah mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang muslim. Kata taqwa juga sering diucapkan penceramah ramadhan karena tujuan ibadah umat Islam pada bulan ramadhan adalah menjadi pribadi yang bertaqwa.

Islam, iman, dan taqwa, bagi muslim yang beragama Islam karena sudah keturunan, sudah tidak asing lagi. Saking tidak asingnya, keislaman seorang muslim ada di dalam hatinya. Demikian pula keimanannya. Islam dan iman memang satu kesatuan. Untuk beriman, seseorang harus menjadi muslim terlebih dahulu. Setelah itu baru dia beriman. Lalu bagaimana dengan taqwa? Apakah umat Islam sudah menerapkan ketaqwaan dalam kehidupannya? Karena sesungguhnya kehidupan seorang muslim di dunia adalah untuk menyiapkan bekal di akhirat.

Jika menyiapkan bekal tanpa framing ketaqwaan, kemungkinan ia akan melenceng. Banyak umat Islam yang merasakan keislaman dan keimanan di hatinya namun merasa belum percaya diri menyatakan bahwa dirinya bagian dari orang-orang yang bertaqwa.

Taqwa dalam artian yang mudah dipahami adalah mematuhi/melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas dan juga laranganNya. Ketika Islam dan iman terkesan berbicara abstrak, maka taqwa memang lebih riil. Patuh terhadap perintah dan laranganNya atau tidak. Hanya dua pilihan, dan sulit dikerjakan. Maka tak heran jika kondisi umat Islam hari ini tertinggal di berbagai bidang kehidupan.

Misalnya saja, perintah dalam wahyu pertama untuk membaca. Umat Islam secara umum jauh tertinggal dalam hal budaya membaca. Dalam setahun, sangat sedikit jumlah buku yang dibaca oleh seorang muslim. Padahal budaya membaca tersebut turut menentukan maju tidaknya sebuah bangsa. Memang terkesan agak sulit mengimplementasikan budaya membaca sebagai bagian dari ketaqwaan seseorang. Namun demikianlah fakta yang terjadi pada hari ini. Hati merasa sebagai muslim yang beriman. Tapi ketaqwaan seperti luntur tak berbekas satu persatu.

Demikian pula masalah keamanan dalam berkendara. Berbicara tentang keamanan berkendara kepada umat Islam seperti menggarami lautan. Padahal di negara-negara maju masalah keamanan berkendara menjadi hal penting. Maka tak heran jika kecelakaan demi kecelakaan di bidang lalulintas terus terjadi karena diremehkannya masalah keamanan berkendaraan. Jika melihat salah satu maqashid syariah justru di antaranya adalah melindungi nyawa manusia.

Terkait dengan taqwa ini, dalam Surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-megenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Jika membaca apa yang tertulis dalam ayat itu, Allah SWT langsung menjadikan taqwa sebagai indikator yang terbaik di antara manusia, bukan lagi hanya muslim atau orang yang beriman. Tidak dipungkiri bahwa sudah banyak peristiwa yang memperlihatkan bahwa implementasi taqwa banyak dilakukan oleh orang di luar muslim sehingga mereka menunjukkan prestasi dan juga peradaban.

Teknologi maju mereka telah ciptakan. Jalan-jalan yang panjang, bagus dan luas serta jembatan, sudah mereka buat. Budaya antri mereka jadikan gaya kehidupan. Demikian juga budaya membaca, keamanan berkendara, menjaga kebersihan. Sehingga dengan apa adanya kita bisa melihat bahwa implementasi taqwa yang mengacu kepada nilai-nilai islam yang universal tadi ternyata lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bukan muslim. Pantas jika kehidupan terbaik pun bisa mereka nikmati. Sementara implementasi taqwa universal di kalangan muslim mengalami degradasi.

Hati kita memang boleh menyebut sebagai muslim. Namun ternyata taqwa masih jauh dari kehidupan kita. Sehingga di antara bangsa-bangsa lain, masih jauh kita harapkan kualitas terbaik kehidupan kita karena ternyata kita sendiri yang tidak melaksanakan taqwa tersebut.

Oleh karenanya, mungkin kita harus sering instropeksi dan merenungi perjalanan hidup kita. Betapa banyak keburukan yang mungkin sudah kita lakukan selama ini tapi semakin kita kerjakan, seolah-olah tidak akan ada balasannya. Kondisi sehat yang kita dapati seharusnya menjadi ajang untuk implementasi taqwa, dan sekaligus banyak istighfar. Di samping itu, bersyukur yang banyak agar Allah SWT tambahkan nikmatNya kepada kita. (efs) 

Foto ilustrasi: freefoto.com