Setelah World Best Halal Destination
Artikel () 24 Desember 2016 21:57:58 WIB
Alhamdulillah. Akhirnya Indonesia, terutama Provinsi Sumatera Barat mendapatkan penghargaan dari Worl Halal Tourism Award yaitu World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Culinary Destination. Ada satu lagi yang juga dimenangkan oleh Sumbar, namun bukan dari sisi Provinsi, yaitu World Best Halal Tour Operator yang diraih oleh Ero Tour.
Setidaknya setelah mendapatkan penghargaan ini, akan ada calon wisatawan yang membuka internet, berselancar di dunia maya perihal Sumatera Barat. Mereka akan melihat lebih detil seperti apakah objek wisata yang ada di provinsi yang dianugerahi sebagai World’s Best Halal Destination.
Mungkin yang memiliki ketertarikan cukup tinggi adalah wisatawan muslim. Selama ini beberapa negara non muslim seperti Jepang dan Taiwan sudah melakukan promosi wisata halal untuk menarik minat wisatawan muslim mengunjungi wilayah mereka.
Lalu adakah bedanya antara Indonesia, dalam hal ini Sumatera Barat (Sumbar) dengan Jepang dan Taiwan dalam menyediakan wisata halal bagi para wisatawan? Menurut saya, ketiganya sama-sama akan berusaha memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim yang juga tetap harus menjaga ibadah dan makanannya agar tetap sesuai ajaran Islam ketika berada di wilayah atau destinasi wisata yang dikunjungi.
Bagi Sumbar, dan juga kota dan kabupaten, ini memang kerja berat yang harus dilakukan bersama-sama. Termasuk dengan masyarakat. Karena keberadaan objek wisata di Sumbar tidak akan berhasil menarik pengunjung tanpa mengajak masyarakat yang juga mencari nafkah di objek wisata untuk melakukan perubahan. Baik perubahan perilaku dan juga perubahan paradigma atau pola pikir.
Pemerintah provinsi Sumbar memang sudah menjadikan pariwisata sebagai salah satu gerakan terpadu yang menjadi prioritas pembangunan di Sumbar. Gerakan terpadu ini lintas lembaga dan juga lintas kota kabupaten. Kelebihan dari gerakan semacam ini adalah banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pariwisata Sumbar dari berbagai sisi.
Misalnya dari sisi pendidikan, dinas pendidikan akan mengeluarkan program sesuai bidangnya. Dari sisi pemberdayaan perempuan dan keluarga juga akan mengeluarkan program sesuai bidangnya. Dengan demikian masyarakat dan objek wisata bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.
Perbaikan-perbaikan yang substantif yang dibutuhkan oleh wisatawan muslim memang perlu diprioritaskan. Seperti tempat shalat, makanan halal, kebersihan dan kenyamanan (dari kegiatan yang dilarang agama). Termasuk juga pelayanan yang mengedepankan keramahan yang juga bagian dari ajaran Islam perihal akhlak.
Anak muda dan komunitas pegiat wisata juga perlu meng-upgrade diri dalam menbghadapi datangnya wisatawan muslim ini. Paradigma perlu diubah untuk menyesuaikan dengan suasana yang lebih Islami.
Penghargaan dunia ini merupakan potensi datangnya rezeki yang lebih banyak lagi bagi masyarakat. Jangan sampai masyarakat mengabaikan potensi yang besar ini. Mereka harus terus menerus disosialisasikan pentingnya mengubah atau memperbaiki perilaku dan juga pelayanan agar berkelas dunia.
Jika selama ini minyak bumi dan tambang menjadi sumber devisa negara terbesar yang tidak langsung dinikmati manfaatnya oleh masyarakat, maka kebalikannya dengan pariwisata. Masyarakat bisa menikmati langsung manfaat membaiknya iklim kepariwisataan. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa dari sisi pemerintah dan pelaku pariwisata seperti perhotelan, biro travel dan yang terkait sudah melakukan berbagai persiapan dan juga membuat strategi untuk meraih berkah penghargaan dunia ini.
Namun dari sisi masyarakat, di sini letak titik kritisnya. Mereka perlu terus menerus dibina, diarahkan, disosialisasikan tentang bagaimana menjadikan pariwisata sebagai sumber utama nafkah yang perlu perbaikan kualitas pelayanan dan perubahan perilaku. Jangan sampai hal-hal kecil seperti tarfi parkir mahal, ketiadaan tanda terima/bukti pembayaran, dan sejenisnya membuat iklim kepariwisataan Sumbar menjadi terganggu.
Jangan sampai masyarakat yang beragama Islam ternyata tidak bisa memberikan contoh nyata perilaku islami kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Jika negara dengan penduduk non muslim bisa menarik datangnya wisatawan halal global, seharusnya Indonesia khususnya Sumbar lebih bisa lagi. Karena sangat mungkin wisatawan halal global yang datang juga ingin melihat budaya masyarakat di negara tujuan mereka. (efs)