Ketika Rakyat Kecil Mendapat Untung dari Saham
Artikel () 23 Desember 2016 17:38:00 WIB
Pada tanggal 2 Desember 2016 lalu Mandiri Sekuritas atau Mandiri Online mengadakan acara MOST Award. Acara ini dipersembahkan kepada nasabah ritel pasar modal dan merupakan yang pertama kali diadakan. Dua orang yang mendapat penghargaan ini ternyata adalah “rakyat kecil”. Selama ini pasar modal, saham, identik dengan orang-orang berduit banyak. Namun sebenarnya pemahaman itu perlu dikoreksi lagi sekarang. Karena rakyat kecil seperti sopir taksi dan satpam pun sudah bisa ikut berinvestasi di pasar modal.
Aab Abdullah Suherman adalah mantan sopir taksi sebuah perusahaan yang terkenal di Jakarta. Jaringan perusahaan taksi ini juga ada di beberapa kota di Indonesia. Aab sebelumnya tidak mengenal tentang saham maupun pasar modal. Saat dia mendapat penumpang di Bursa Efek Indonesia,penumpang tersebut menjelaskan dengan detil apa itu pasar modal. Itu pun juga karena keterampilan Aab dalam berkomunikasi dengan penumpang yang sering ia ajak bicara, sehingga penumpangnya mau menjelaskan dengan detil.
Setelah mendapat informasi demikian, Aab mencoba mencari tahu tentang saham dan pasar modal. Aab juga kembali mendapatkan penumpang di Bursa Efek Indonesia yang menganjurkan Aab mengikuti seminar Yuk Nabung Saham. Aab keesokan harinya mendatangi acara Yuk Nabung Saham dan mendatangi stan sebuah perusahaan sekuritas yang namanya mirip dengan rekening tabungannya yang versi syariah.
Setelah mendatangi stan dan bertanya, Aab yang hanya memiliki ponsel biasa disarankan mengganti ponselnya dengan ponsel pintar android yang bisa digunakan untuk berinvestasi saham. Setelah beberapa bulan mengumpukan uang, akhirnya terbeli juga ponsel android. Aab dengan modal uang 3 juta rupiah mendaftarkan diri ke perusahaan sekuritas tersebut.
Aab yang masih hijau di dunia saham dan pasar modal ini disarankan oleh petugas sekuritas tersebut agar membeli saham ketika harganya turun agar kelak bisa dijual ketika harganya naik. Istilahnya, jika “merah” beli dan jika “hijau” jual. Aab mendapat keuntungan perdana sedesar 300 ribu rupiah dari kepemilikan saham perusahaan terkait infrastruktur.
Dengan kegigihan yang luar biasa Aab terakhir sudah mencatatkan portofolio sahamnya sejumlah 180 juta rupiah. Sebagian tetap ia simpan untuk tabungannya.
Sementara itu seorang satpam yang bernama Suherman dari Bandung juga meraih sukses. Ia menentukan persentase portofolio sahamnya 60 persen menabung dan 40 persen trading. Pertama kali ia mencoba membeli saham perusahaan terkait infrastruktur. Ia mengawali mendaftar ke perusahaan sekuritas dengan dana 7 juta rupiah. Dari 7 juta kini Suherman telah memegang saham dengan nilai total 70 juta rupiah.
Aab dan Suherman adalah dua di antara sekian banyak orang Indonesia yang mendapatkan manfaat kesejahteraan dari sebuah gerakan “Yuk Nabung Saham”. Gerakan yang namanya familiar dengan menabung di bank ini memang sepertinya disengaja agar masyarakat bisa memahami lebih baik lagi tentang saham dan tabungan. Menabung saham bisa memberikan keuntungan di masa depan. Dan sudah banyak dibuktikan oleh rakyat kecil sekalipun seperti Aab sang sopir taksi dan Suherman sang satpam.
Memang membutuhkan informasi dan bacaan lebih lanjut untuk memahami seluk beluk pasar modal dan cara memiliki saham. Karena jika tidak banyak dan rajin membaca dan mencari informasi dari berbagai sumber, saham dan pasar modal mungkin seperti menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang. Padahal sudah banyak orang yang mendapatkan manfaat dari saham dan pasar modal.
Semoga semakin banyak masyarakat, khususnya rakyat kecil yang makin sejahtera seperti kisah Aab dan Suherman ini dengan cara yang positif dan memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai. Nasib seseorang bisa diubah jika berusaha sungguh-sungguh dan mencari berbagai alternatif yang ada. menabung saham adalah salah satunya, dan belum banyak dilirik orang. (efs)
Referensi dan Foto Ilustrasi: Bisnis Indonesia, 5 Desember 2016