Memisahkan Ekonomi dan Politik

Artikel () 09 Desember 2016 17:07:18 WIB


Awal Desember 2016, kondisi Jakarta sebenarnya kondusif. Namun karena ada aksi dari umat Islam dengan jumlah massa yang sangat banyak, maka aparat nampaknya memilih berhati-hati dengan segala kemungkinan. Pada tanggal 2 Desember 2016 dilakukan aksi super damai dengan menggelar sajadah, di mana acara puncak adalah shalat Jumat. Namun menjelang shalat Jumat acara diisi dengan zikir, tausiyah, dan doa. Jumlah masyarakat yang berdatangan dan melakukan shalat Jumat dianggap yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan ada yang menyebut ini juga rekor dunia.  

Publik dikagetkan pada 2 Desember 2016 itu dengan tertangkapnya beberapa orang tokoh yang dilakukan pada saat subuh. Baru pada siangnya aparat mengumumkan nama-nama orang yang ditangkap dengan penjelasan adanya dugaan makar terhadap orang-orang tersebut. Penangkapan ini karena disebut “makar” seolah-olah kondisi politik dalam keadaan genting. Namun ternyata reaksi masyarakat sebaliknya. Tidak merasakan kegentingan. Sementara itu aksi super damai 212 justru semakin khusyuk dan mendapat sambutan positif dari publik karena apa yang dikhawatirkan oleh berbagai kalangan ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, yang terlihat justru tertib, khusyuk, implementasi ukhuwah islamiyah, menjaga jalur hijau dari injakan kaki, dan lainnya.

Berita penangkapan orang-orang yang diduga akan makar ternyata tidak menyebabkan respon positif pelaku pasar, baik pasar uang maupun pasar modal. Situasi politik juga relatif stabil. Berita yang sepertinya terlalu besar karena ada kata “makar” di situ ternyata tidak menyebabkan publik tersulut emosinya.

Ternyata aksi super damai 212 meskipun ada kesan ingin dibawa ke ranah politik tidak menyebabkan suasana politik memanas. Demikian juga situasi ekonomi juga trerlihat adem ayem. Kegiatan ekonomi masyarakat, baik dari kelas bawah hingga kelas atas berjalan seperti biasa. Hanya daerah seputar Monas dan beberapa jalan yang menjadi tempat shalat Jumat saja yang memang ada perubahan kondisi. Namun dengan banyaknya jumlah jamaah shalat Jumat yang berbilang jutaan tersebut tidak membuat keributan. Karena niat awal mereka memang ingin shalat Jumat dengan tujuan utama agar penista agama mereka segera ditangkap, dan ini dilakukan secara damai dan konstitusional.

Aksi 212 memang masih ada yang ingin membawanya ke ranah politik dengan tujuan akan terjadi gangguan di sektor ekonomi. Namun sepertinya masyarakat lebih memilih tidak terbawa pancingan ini. Masyarakat yang mengikuti aksi 212 di satu sisi ternyata memang berniat lurus mengikuti arahan panita sehingga tidak terlihat gejala ingin melakukan perbuatan destruktif. Sedangkan masyarakat yang tidak ikut aksi 212 juga realistis, mereka tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu. Maka meskipun jutaan orang turun ke Monas dan jalan-jalan, kegiatan ekonomi masyarakat tetap stabil. Situasi politik pun tetap stabil.

Saat ini kondisi ekonomi masyarakat secara makro sangat diuntungkan dengan keadaan yang stabil. Fluktuasi harga BBM sudah tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat. Pemerintah bersama masyarakat nampaknya sudah bisa memisahkan persoalan ekonomi dengan persoalan politik. Ini sangat menguntungkan pemerintah dan juga masyarakat.

Dengan stabilitas yang terlihat di sisi makro, maka sudah seharusnya pemerintah bisa mengeksekusi program-programnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sehingga di sisi mikro kondisi ekonomi masyarakat juga bisa distabilkan.

Dengan semakin baiknya respon masyarakat terhadap persoalan politik maka ini bisa menjadi awal yang baik terhadap respon masyarakat kepada persoalan ekonomi. Masyarakat yang sudah bisa memisahkan persoalan ekonomi dan politik ini sudah seharusnya mendapatkan apresiasi berupa kebijakan-kebijakan ekonomi pro rakyat sehingga pemerintah pun terbantu dan masyarakat pun juga turut senang.

Tidak dipungkiri bahwa persoalan politik yang ada cenderung lebih menghangat di ranah dunia maya atau media sosial dibanding di dunia nyata. Dalam dunia nyata lebih banyak masyarakat yang berpikir rasional dan realistis. Mereka memiliki prioritas yang sudah jelas, di antaranya terkait kehidupan ekonomi mereka sendiri. Berbeda dengan ranah dunia maya atau media sosial yang bisa direkayasa berbagai opini sehingga hal baik dijadikan buruk dan sebaliknya hal buruk diubah supaya kelihatan baik.

Semoga dengan peristiwa aksi super dama 212 ini, masyarakat di dunia nyata semakin memiliki kedewasaan dalam menyikapi masalah ekonomi dan politik serta bisa memilahnya. Dan pemerintah serta media pun semoga bisa memisahkan persoalan ekonomi dan politik agar masyarakat tidak terkena dampak negatif dari adanya konflik yang terjadi yang kadang biasanya tidak serta merta merupakan hajat hidup orang banyak. (efs)