\'LOMPONG SAGU\' KUE MINANG YANG TAK TERLUPAKAN

Artikel () 29 Agustus 2016 16:23:27 WIB


“LOMPONG SAGU”

KUE MINANG YANG TAK TERLUPAKAN

Oleh : Teguh Gunung Anggun

Asap putih mengempul dari sebuah pondok sederhana pada suatu pagi menjelang siang di Jalan Raya Alai – Ampang Kota Padang, Sumatera Barat. Asap putih tersebut terjadi karena proses pembakaran dari pada sabut kelapa. Dari dalam pondok yang tidak berdinding beratap rumbia, tampak seorang perempuan berumur sekitar 55 – 60 tahun yang tengah melakukan aktivitas rutinnya. Bersamanya juga ikut terlihat seorang lelaki seumuran dengannya. Selain itu ada juga seorang perempuan separuh baya. Mereka ternyata suami – istri, serta salah seorang anaknya yang tengah membuat kue lompong sagu.

Perempuan tua yang kelihatan masih energik itu sibuk dengan mengolah adonan di dalam ember plastik berwarna biru yang berukuran sedang. Sejenak kemudian, dia mengambil daun pisang yang sebelumnya telah disediakan dari rumah. Perempuan itu lalu mengambil beberapa sendok adonan dan memindahkannya kedaun pisang. Daun pisang dilipat menyerupai bungkusan yang menyerupai agak mirip lontong yaitu bulat memanjang. Kedua ujung bungkusan daun pisang, disematkan lidi daun kelapa yang dipotong pendek – pendek. Ujung lidi diruncingkan terlebih dahulu.

Setelah beberapa adonan terbungkus daun pisang, perempuan tadi memindahkan keatas bara api dari sabut kelapa yang tengah dijaga suaminya. Satu persatu adonan dideretan diatas tungku pembakaran berukuran sekitar 20 cm x 150 cm. Setelah pembakaran penuh, perempuan itu melanjutkan membungkus adonan yang masih tersisa dalam ember.

Sementara itu, tugas pembakaran dilanjutkan oleh sang suami, dan sesekali dibantu anaknya. Sembari menjaga bara api agar tidak padam atau api tidak membesar, lelaki itu sibuk membolak – balikan bungkusan lompong sagu. Sekali – kali ia tampak menyiramkan air dari genggaman tangannya ke arah tungku pembakaran. Rupanya, dia memadamkan api.

“Memasak lompong sagu cukup dengan bara saja. Kalau dengan api hidup, daun bakal gosong. Sementara lompongnya belum masak”, jelas Kamaruddin nama lelaki pembuat lompong sagu itu. Beberapa ia kelihatan memejamkan mata karena perih tak tahan kena terpaan asap pembakaran sabut kelapa.

Karena tidak boleh api lansung, maka pembakaran lompong sagu tidak menggunakan tempurung atau batok kelapa. “ Batok kelapa api baru tajam, sehingga cepat membuat daun gosong”, ulasnya.

Kamaruddin dan keluarga sudah lama mengeluti usaha lompong sagu ini. Bahkan empat anak mereka yang telah memberi tiga cucu itu dibesarkan dengan kuliner asli Minangkabau ini. Dua dari empat anaknya juga menggeluti usaha yang sama. “Untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, usaha ini boleh juga. Tapi untuk berharap lebih, memang tidak bisa. Artinya hasil usaha ini baru sekedar Lapeh makan saja”, ungkap Kamaruddin. Pernyataan itu dibenarkan oleh istrinya, Syamsinar.

Entah alasan itu pula, Kamaruddin mengatakan, tidak banyak yang serius yang menekuni usaha lompong sagu. Sebagian besar diantaranya banting stir ke usaha lain, seperti membuat lontong gulai, lotek, pical, gado – gado, soto padang, gorengan dan usaha kuliner lainnya. Akibatnya tidak banyak lagi kawan – kawan yang berprofesi pembuat lompong sagu.

“Tapi saya, tidak ikut – ikutan latah pindah usaha. Dari dulu hingga sekarang, saya dan keluarga tetap bertahan dengan usaha ini. Biarlah tidak bisa kaya, tetapi kami bisa tetap menjaga makanan tradisional Minangkabau ini terutama dari gempuran kuliner cepat saji dari luar”, ujarnya seraya memindah – mindahkan lompong sagu yang telah masak dari pembakaran kemeja lainnya yang disediakan untuk memajang lompong yang sudah masak, tidak jauh dari pembakaran.

Ya, Kamaruddin benar. Di Kota Padang saja, jumlah usaha lompong sagu bisa dihitung dengan jari. Ini kontras dengan usaha kuliner dari luar Sumbar, seperti pecel lele/ayam, sate madura, fried chiken dan lainnya. Padahal, lompong sagu sangat terkenal tempo doloe. Bahkan lagu bertema makanan berbahan dasar berupa adonan sagu dicampur pisang (pisang batu/pisang raja), dan gula aren/merah ini populer menjadi tembang hits yang dilantunkan penyanyi legendaris Minang Elly Kasim, dengan judul yang sama. Diantara liriknya berbunyi sebagai berikut :

“Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang

Di tangah – tangah, di tangah – tangah karambia mudo

Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang

Awak juo, awak juo malapeh hao”

 

Meski demikian, Kamaruddin memetik hikmahnya juga. Selain warga yang menetap di Kota Padang, sejumlah warga Sumatera Barat, terutama yang hidup dan menetap diperantauan banyak yang memsan lompong sagu kepada dia.

“Banyak juga yang pesan. Ada yang minta dikirim ke Pekan Baru, Pulau Jawa da Kalimantan. Bahkan ada juga minta dipaketkan keluar negeri, seperti ke Malaysia, Singapura dab Brunai Darulsallam”, ujar Sulastri yang sering membantu usaha orang tuanya, jika pekerjaan mengurus suami dan anak – anaknya sudah rampung.

Selain lompong sagu, Kamaruddin juga menyediakan kuliner asli Minangkabau lainnya, yakni palai bada, berupa sambal yang juga dimasak dengan cara dibakar diatas bara sabut kelapa. “ Sama dengan lompong sagu, juga tidak banyak saudara kita yang menekuni usaha palai bada ini. Jika tetap seperti ini, kita kuatir kulliner khas Minangkabau ini akan segera punah. Karena tidak ada lagi yang bisa membuatnya”, pungkas Kamruddin. (TGA)