SDM Pariwisata
Artikel () 24 Agustus 2016 17:07:23 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah forum menekankan pentingnya memilih orang terlebih dahulu baru menugaskan pekerjaan kepada orang yang dipilih. Pernyataan Arief ini dilontarkan terkait adanya kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) pariwisata. Arief Yahya mengutip dari sebuah buku Jim Collins berjudul Good to Great (padek.co 24/7/16).
Menurut Arief, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) konsisten menggelar pelatihan dasar SDM Kepariwisataan di berbagai destinasi wisata. Kementerian Pariwisata telah menjalankan pelatihan SDM Kepariwisataan sebanyak 50 kali di berbagai provinsi di Indonesia.
Menurut Deputi Bidang Kelembagaan Kemenpar, Ahman Sya, saat ini sekitar 35 ribu SDM di Indonesia sedang dinaikkan levelnya sehingga makin berkualitas dalam menyambut tamu wisatawan dan juga dalam menghadapi perkembangan pariwisata global.
Bagi wilayah yang akan menjadikan pariwisata sebagai bagian penting peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, penyediaan SDM pariwisata adalah syarat mutlak. Karena tanpa SDM pariwisata yang terlatih dan memiliki kompetensi, niscaya sektor pariwisata akan cenderung stagnan.
Kebutuhan akan SDM pariwisata ini merupakan bagian tak terpisahkan dalam pelayanan kepariwisataan kepada wisatawan. Para wisatawan, memiliki ekspektasi tertentu ketika mengunjungi destinasi wisata. Misalnya ketersediaan toilet yang bersih. Bagi wisatawan muslim, adanya tempat sholat yang bersih dan nyaman adalah kebutuhan mutlak.
Jika melihat Kota Padang misalnya, ketersediaan tukang parkir resmi di Pantai Padang dan mampu memberikan pelayanan yang baik adalah syarat minimum mutlak yang harus dipenuhi. Demikian juga Kota Bukittinggi dan wilayah lainnya.
Sebelumnya, wisatawan sering mengeluhkan oknum tukang parkir liar yang meminta tarif parkir dengan harga mahal. Namun aduan-aduan yang sampai ke pihak Pemerintah Kota Padang ini akhirnya diberikan solusi yang bertujuan memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Pelan-pelan petugas parkir bisa bekerja sesuai dengan tugasnya dan diberikan identitas resmi.
Contoh semacam ini menunjukkan bahwasanya kebutuhan SDM pariwisata di Sumbar amatlah besar. Petugas parkir pun pada suatu saat harus mendapatkan pelatihan dan tersertifikasi karena tugasnya cukup berat, yaitu mengatur kendaraan yang parkir dan memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Betapapun nikmatnya pengunjung berwisata, tetapi ketika hendak meninggalkan tempat wisata tersebut mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari petugas parkir karena meminta tarif tinggi akan membuyarkan ingatan nikmatnya berwisata. Bahkan cenderung menceritakan pengalaman buruknya kepada orang lain termasuk melalui media sosial maupun media online lainnya.
Demikian pula dengan pelibatan penduduk di sekitar kawasan wisata. Pelibatan mereka selain dalam rangka meningkatkan kesejahteraan juga dijadikan secara permanen sebagai bagian dari SDM pariwisata. Orang-orang semacam ini perlu diberikan pelatihan, penyadaran, pencerahan, agar mereka menyadari bahwa diri mereka sendiri yang akan menyebabkan datangnya banyak wisatawan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka dari hasil interaksi dengan wisatawan, baik dengan berdagang maupun lainnya.
Saya memprediksi akan banyak dibutuhkan SDM pariwisata di Sumbar. Keberadaan mereka sangat menentukan kemajuan pariwisata di Sumbar. Karena tidak semua yang bisa bekerja di sektor ini dikarenakan masalah karakter maupun budaya. Maka penyiapan SDM ini juga mesti selektif, disamping juga akomodatif terkhusus kepada SDM pariwisata yang tinggal di sekitar kawasan wisata.
Di samping itu, Sumbar juga direncanakan akan menjadi destinasi wisata halal atau wisata syariah. Dan oleh Pemprov Sumbar hal ini akan diseriusi mengingat kesempatan yang bagus dan momentumnya tepat. Meskipun pencanangan destinasi wisata halal ini belum dilakukan, namun persiapan SDM pariwisata harus sudah mulai dirancang. Karena SDM pariwisata yang menekuni wisata halal ini akan lebih banyak perannya mensukseskan wisata halal tersebut.
Yang menarik, negara lain yang penduduknya mayoritas non muslim juga tertarik mengembangkan wisata halal di negaranya mengingat jumlah wisatawan di sektor ini jumlahnya besar. Maka Sumbar selaku wilayah mayoritas muslim jangan sampai kalah dalam menyiapkan SDM pariwisata untuk wisata halal ini.
Memang dibutuhkan kerja keras untuk mengubah pola pikir SDM pariwisata yang akan disiapkan ini. Dengan mengubah pola pikir, maka perilaku akan berubah, dan mengarah kepada SDM pariwisata yang berkualitas. Ini sangat dibutuhkan sekali.
Wisata halal maupun wisata konvensional membutuhkan banyak SDM pariwisata. Ini adalah peluang bagi anak negeri yang memiliki keinginan untuk memasuki dunia kerja dengan menekuni profesi sebagai SDM pariwisata. Jika SDM pariwisata ini memiliki sertifikasi, maka mereka seharusnya akan mendapat imbalan yang layak.
Dan SDM pariwisata yang tersertifikasi ini perannya juga akan secara positif meningkatkan kunjungan wisatawan karena wisatawan sudah mendapatkan layanan yang optimal dan berkualitas dari para SDM pariwisata ini.
Saya berharap SDM pariwisata ini ke depannya akan memberikan efek multiplier berupa kesejahteraan kepada masyarakat. Baik kepada lingkungan terdekat mereka yaitu keluarga, dan juga lingkungan di luarnya. Sehingga dengan demikian pariwisata benar-benar mampu mengubah atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekali lagi, tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Syarat dan ketentuan yang berlaku itu di antaranya adalah tentang kualitas dan kuantitas SDM pariwisata yang telah tersebar di berbagai destinasi wisata. Dan yang tak kalah pentingnya adalah perilaku atau ketaatan terhadap ajaran agama dari masyarakat maupun SDM pariwisata itu sendiri. Jangan sampai wisatawan justru melihat SDM pariwisata dan masyarakat yang dikenal patuh dengan ajaran agama justru memperlihatkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama. Karena hal seperti ini akan berbalik kepada dunia pariwisata itu sendiri. Apalagi Sumbar adalah salah satu destinasi wisata halal. (efs)