Sumbar Aman dari Beras Sintetis

Berita Utama YANITA SELLY MERISTIKA, S.Kom(Dinas Pangan) 22 Mei 2015 09:22:00 WIB


Padang – Indonesia akhir-akhir ini dihebohkan oleh beras sintetis. Hal ini tentu sangat merisaukan masyarakat,  termasuk Sumbar, sehingga membuat Gubernur Irwan Prayitno memerintahkan tim terpadu pengawasan pangan untuk mengecek ke lapangan. Hasil sidak tim ini, Kamis (21/5) ke beberapa distributor dan pedagang beras, beras yang dijual dinyatakan aman.

“Kami tadi sidak ke Pasar Raya Padang sekaligus memeriksa dan dialog dengan sejumlah distributor dan pedagang beras. Beras sintetis yang dihebohkan itu di Sumbar tidak ada. Distributor memasok beras dari petani lokal, tidak ada yang impor.” kata ketua tim terpadu, Ir. Efendi, MP  yang merupakan Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumbar.

Kepala Badan  menjelaskan tim terpadu pengawasan keamanan pangan segar Sumbar tersebut beranggotakan Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, BPOM dan lainnya. Bahkan petugas dari labor pertanian untuk memastikan kondisi dan jenis beras yang dijual itu, juga diikutkan.

Sementara itu, H. Mardi dari Asosiasi Pedagang Pasar Raya Padang yang juga distributor beras, menjelaskan pihaknya bersama pedagang beras lainnya, tidak menjual beras seperti yang dihebohkan orang belakangan.

“Kita selama ini membeli beras dari petani lokal. Apalagi saat ini baru saja panen musim tanam pertama, hasil padi petani sedang panen raya. Ada petani yang meminta beli berasnya, tapi stok saya banyak,” kata Mardi.

Namun Mardi tidak mematahkan semangat petani, ia kerap pula komunikasi dengan pedagang beras dari luar Sumbar soal persediaan beras ini. Kekurangan stok di daerah seberang, beras lokal Sumbar dipasok ke sana. Atau sebaliknya, jika di Sumbar sedang paceklik, kita minta beras didrop dan daerah mereka.

Dalam sidak tersebut, baik Mardi maupun distributor dan beberapa pedagang beras lainnya, meminta tim terpadu pengawasan keamanan pangan, rutin ke lapangan dan bila mereka ragu terhadap beras yang mereka beli dari daerah lain, tim terpadu diharapkan bersedia untuk mengecek kondisi beras tersebut.

“Kami tidak ingin rugi dan konsumen kecewa kepada kami. Sekarang memang aman-aman saja, karena beras lokal baru panen raya. Bila nanti musim paceklik, tentu dibarengi beras luar masuk. Di sini kami harapkan betul kehadiran tim terpadu.” jelas pedagang beras lainnya.

Soal permintaan itu, tim terpadu justru berterima kasih dan bila ada informasi yang meragukan terkait keamanan pangan, tim siap turun ke lapangan.

Ditambahkan Kabid Kewaspadaan Pangan, Novian Jamil, secara kasat mata sepintas tidak terlihat perbedaan antara beras asli dengan beras sintetis. Diamati lebih lanjut, untuk beras asli dan sehat dilihat dari warnanya. Tidak terlalu putih dan tidak bening. Biasanya putih pudar, lalu ada bintik di tengah.

“Kalau digigit. beras asli pecah berderai sedang beras sintetis itu, tidak pecah tapi terbelah. Perbedaan akan tampak lagi jika sudah dimasak,” ujarnya.