WAG dalam WAG: Grup Kecil yang Bisa Membelah Organisasi

WAG dalam WAG: Grup Kecil yang Bisa Membelah Organisasi

Artikel Satria Oki Sanjaya, S.I.Kom.(DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN STATISTIK) 24 Agustus 2026 10:08:07 WIB


Oleh: Ibnu Sectio Caisaria, S.IP., M.I.Kom.

Padang, 24 Agustus 2026 — Di sebuah organisasi dengan 10 orang dalam satu WhatsApp Group (WAG), hampir selalu ada grup lain yang hanya berisi lima orang. Di sana percakapan lebih cair, candaan lebih bebas, dan kadang keputusan terasa lebih cepat dibuat.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, persoalan kadang muncul ketika lima orang di grup kecil itu sedang membicarakan lima orang lainnya.

Selamat datang di fenomena “WAG dalam WAG”—sebuah gejala kecil dalam komunikasi yang, jika dibiarkan, bisa menjadi persoalan besar.

WhatsApp kini telah menjadi urat nadi komunikasi di banyak entitas, institusi, komunitas, lingkungan sosial, bahkan keluarga. Informasi, koordinasi, pembagian tugas, hingga keputusan sehari-hari berlangsung melalui layar ponsel. Praktis, cepat, dan murah.

Namun, ada satu hal yang mesti dipahami: teknologi komunikasi tidak pernah benar-benar netral. Cara orang menggunakan ruang komunikasi dapat membentuk hubungan, persepsi, bahkan peta kekuasaan informal di dalam organisasi.

WAG kecil sebenarnya wajar. Manusia memang cenderung membangun kelompok berdasarkan kedekatan, kesamaan kepentingan, pengalaman, penderitaan (baca: parasaian) atau bahkan kesamaan dalam menghadapi persoalan. Dalam situasi tertentu, grup kecil justru membuat koordinasi menjadi lebih efektif.

Persoalannya bukan ada atau tidaknya WAG kecil. Persoalannya adalah apa yang terjadi di dalamnya dan apa dampaknya terhadap kelompok yang lebih besar.

Bayangkan sebuah rapat kantor. Secara formal, keputusan belum dibuat. Namun sebelum rapat dimulai, sebagian peserta sebenarnya sudah mengetahui arah keputusan karena pembahasannya telah berlangsung di grup kecil.

Ketika rapat berlangsung, keputusan seolah-olah baru dibicarakan. Padahal, sebagian orang sudah datang dengan kesepakatan yang hampir selesai. Anggota lain hanya mengikuti arus dan menerima hasil akhirnya tanpa pernah mengetahui proses yang melatarbelakanginya.

Di titik inilah persoalan dimulai.

Pertama, muncul kesenjangan informasi. Mereka yang berada di grup kecil memiliki akses lebih cepat terhadap informasi, sementara yang lain menjadi penerima informasi belakangan.

Kedua, terbentuk kelompok inti dan kelompok di luar lingkaran. Belum tentu ada niat untuk mengeksklusikan siapa pun. Namun, persepsi dapat tumbuh lebih cepat daripada klarifikasi. Mereka yang tidak berada di dalam grup kecil bisa mulai bertanya-tanya: mengapa saya tidak diajak? Mengapa keputusan ini sudah seperti diketahui sebagian orang?

Ketiga, WAG kecil dapat berubah menjadi ruang gema atau echo chamber. Pendapat yang sama terus dipantulkan oleh orang-orang yang sama. Kritik terhadap pimpinan semakin tajam, prasangka terhadap rekan kerja semakin kuat, dan sebuah kesimpulan bisa dianggap benar hanya karena berulang kali dibicarakan di antara orang-orang yang sepemikiran.

Yang lebih berbahaya adalah ketika ruang koordinasi berubah menjadi ruang membicarakan orang yang tidak hadir.

Di sinilah batas antara komunikasi informal dan gosip organisasi menjadi semakin tipis.

Menariknya, gosip tidak selalu lahir karena orang ingin bergosip. Kadang ia tumbuh karena organisasi tidak menyediakan ruang yang cukup aman untuk menyampaikan keresahan. Ketika orang merasa tidak nyaman berbicara secara terbuka, mereka akan mencari ruang lain. WAG kecil kemudian menjadi tempat yang terasa lebih aman untuk mengeluarkan keluhan, kritik, bahkan penilaian terhadap orang lain.

Masalahnya, ruang yang terasa aman bagi lima orang belum tentu aman bagi organisasi secara keseluruhan.

Lantas, apakah WAG kecil harus dilarang?

Tentu tidak.

Melarangnya hampir mustahil dan bahkan tidak masuk akal. Organisasi tetap membutuhkan ruang informal untuk bertukar pikiran, melakukan brainstorming, membangun kedekatan, atau menyelesaikan koordinasi teknis dengan cepat.

Yang dibutuhkan bukan pelarangan, melainkan aturan main dan budaya komunikasi yang sehat.

Prinsipnya sederhana: apa pun yang dibahas atau diputuskan di grup kecil dan berdampak pada kelompok besar, harus kembali ke ruang komunikasi bersama.

Kalau lima orang membahas sesuatu yang hanya menyangkut pekerjaan mereka berlima, tentu tidak menjadi persoalan. Tetapi jika pembahasan itu menghasilkan keputusan yang menyangkut sepuluh orang, maka informasi dan keputusan tersebut semestinya kembali ke ruang bersama. Dengan demikian, grup kecil berfungsi sebagai jembatan, bukan menjadi ruang untuk membangun tembok.

Selain itu, organisasi perlu memastikan WAG resmi tidak sekadar menjadi tempat menumpuk instruksi. Grup formal harus menjadi ruang komunikasi yang informatif, responsif, dan cukup terbuka untuk menerima pertanyaan maupun kritik.

Pimpinan juga perlu menciptakan ruang aman agar pegawai tidak merasa harus mencari “jalan belakang” untuk menyampaikan ketidakpuasan.

Sebab, jika ruang resmi terlalu kaku, komunikasi informal akan tumbuh semakin kuat. Jika suara kritis tidak mendapatkan tempat di ruang bersama, ia akan mencari tempat lain. Dan ketika tempat lain itu hanya berisi orang-orang yang memiliki pandangan serupa, organisasi berisiko kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh.

Pada akhirnya, “WAG dalam WAG” bukan persoalan aplikasi. Ini persoalan kepercayaan.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak memiliki kelompok-kelompok kecil. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu memastikan kelompok-kelompok kecil itu tetap terhubung dengan kepentingan bersama.

Sebab, ketika informasi hanya berputar di lingkaran tertentu, yang hilang bukan sekadar informasi. Yang perlahan hilang adalah rasa percaya.

Maka pertanyaannya bukan lagi, “Siapa saja yang ada di WAG kecil?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah WAG tersebut sedang menjadi jembatan untuk mempercepat pekerjaan, atau sedang menjadi tembok yang memisahkan orang-orang di dalam organisasi?”

Bukankah teknologi hanya menyediakan sarana, sementara kitalah yang memberi nilai? (*ISC)