Menyulam Kebaikan, Menambal Keburukan
Artikel Havina Mirsya \'afra, S. Sos.(DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN STATISTIK) 12 Agustus 2026 07:32:08 WIB
Oleh : Eko Faiz (Pemerhati Sosial)
“Adakalanya hidup ini penuh dengan kebaikan, adakalanya menyembur keburukan dalam mendedikasikan hidup”. Dari sebait kalimat ini muncul keinginan menulis substansi sederhana tapi penuh makna dalam Menyulan Kebaikan, Menambal Keburukan.
Hidup adalah rangkaian pilihan. Setiap hari kita berhadapan dengan kesempatan untuk berbuat baik, tetapi pada saat yang sama juga berhadapan dengan berbagai kelemahan, kesalahan, dan keburukan yang muncul di sekitar kita. Karena itu, kehidupan tidak cukup hanya diisi dengan keinginan untuk menjadi baik. Kita juga perlu belajar menyulam kebaikan sekaligus menambal keburukan.
Menyulam kebaikan berarti merangkai hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang bermakna. Sebuah senyum, sapaan yang ramah, kejujuran dalam bekerja, kepedulian kepada sesama, kesediaan membantu, dan keberanian membela kebenaran adalah benang-benang kecil yang jika terus dirajut akan menghasilkan kehidupan yang lebih indah. Kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung. Sering kali ia justru tumbuh dalam ruang-ruang sunyi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada yang melihat.
Namun, hidup tidak pernah sempurna. Di tengah kebaikan selalu ada kekurangan. Ada kesalahan dalam mengambil keputusan, ada pelayanan yang belum optimal, ada komunikasi yang tersumbat, ada kepentingan yang berbenturan, bahkan ada perilaku yang merugikan orang lain. Di sinilah pentingnya menambal keburukan.
Menambal bukan berarti menutupi kesalahan agar tidak terlihat. Menambal berarti memperbaiki bagian yang rusak agar tidak semakin melebar. Kesalahan harus diakui, dievaluasi, dan diperbaiki. Kekurangan harus dijadikan pelajaran. Konflik harus dikelola. Ketidakadilan harus dikoreksi. Dengan demikian, menambal keburukan bukanlah upaya menghapus kenyataan, melainkan keberanian untuk memperbaiki sesuatu yang tidak semestinya.
Dalam kehidupan pemerintahan, filosofi ini menjadi sangat penting. Pemerintahan tidak akan pernah luput dari kekurangan. Sistem dapat mengalami kelemahan, kebijakan bisa menghadapi persoalan di lapangan, dan aparatur dapat melakukan kesalahan. Yang terpenting bukan membangun citra seolah-olah semuanya sempurna, tetapi memiliki keberanian untuk mengidentifikasi persoalan dan memperbaikinya.
Menyulam kebaikan dalam birokrasi dapat dimulai dari pelayanan yang ramah, proses yang transparan, penggunaan anggaran yang bertanggung jawab, pengambilan keputusan berbasis data, serta kepemimpinan yang memberi teladan. Sementara itu, menambal keburukan dilakukan melalui evaluasi, pengawasan, perbaikan tata kelola, penguatan integritas, dan keberanian mengoreksi praktik-praktik yang tidak sesuai dengan prinsip pemerintahan yang baik.
Kita sering kali lebih mudah melihat keburukan daripada menghargai kebaikan. Satu kesalahan dapat menghapus seribu kebaikan dalam pandangan sebagian orang. Karena itu, budaya apresiasi terhadap kebaikan juga perlu dibangun. Mereka yang bekerja dengan tulus perlu diberikan penghargaan, bukan sekadar dalam bentuk materi, tetapi juga melalui kepercayaan, kesempatan berkembang, dan pengakuan atas kontribusinya.
Di sisi lain, kebaikan tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan keburukan. Bersikap baik bukan berarti permisif terhadap kesalahan. Menjaga keharmonisan bukan berarti mengorbankan prinsip. Justru kebaikan membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar, mengingatkan ketika ada yang keliru, dan memperbaiki ketika terjadi penyimpangan.
Pada akhirnya, menyulam kebaikan dan menambal keburukan adalah dua pekerjaan yang harus berjalan bersamaan. Kebaikan perlu terus diperbanyak, sementara keburukan harus terus dikurangi. Keduanya membutuhkan ketekunan, ketulusan, dan keberanian.
Sebab kehidupan yang baik bukanlah kehidupan tanpa masalah, melainkan kehidupan yang mampu memperbaiki masalah dengan cara yang baik. Pemerintahan yang baik bukanlah pemerintahan yang tidak pernah salah, tetapi pemerintahan yang mau belajar, memperbaiki diri, dan terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Mari kita menyulam kebaikan dari hal-hal kecil dan menambal keburukan dari tempat-tempat yang mulai retak. Karena pada akhirnya, kualitas kehidupan kita ditentukan oleh apa yang kita rajut hari ini dan apa yang berani kita perbaiki sebelum menjadi kerusakan yang lebih besar.