Rahmah El Yunusiyah: Perempuan Minang yang Menyalakan Cahaya Pendidikan Indonesia
Berita Utama Beny Junaidi,S.Sos.,M.I.Kom(Operator - Admin) 03 Mei 2026 17:06:04 WIB
Padang - Di kaki Gunung Singgalang, tepatnya di Kota kecil Padang Panjang, Sumatera Barat, sejarah pernah mencatat lahirnya seorang perempuan yang kelak mengguncang fondasi tradisi. Hajjah Rahmah El Yunusiyah bukan sekadar nama dalam buku sejarah, ia adalah fajar bagi pendidikan perempuan di Indonesia. Di tengah masyarakat awal abad ke-20 yang masih membelenggu ruang gerak perempuan, Rahmah tampil sebagai pembaru yang berani, visioner, dan progresif.
Akar Tradisi dan Kegelisahan Intelektual
Lahir pada 26 Oktober 1900, Rahmah tumbuh dalam ekosistem intelektual Minangkabau yang religius. Meskipun tanah kelahirannya dikenal sebagai gudang ulama, Rahmah mendapati sebuah kenyataan pahit: akses pendidikan formal adalah "wilayah kekuasaan" laki-laki. Perempuan seringkali hanya ditempatkan di ranah domestik, terisolasi dari hiruk-pikuk ilmu pengetahuan.
Rahmah muda tidak tinggal diam. Ia melihat ketimpangan ini bukan sebagai takdir, melainkan sebagai tantangan yang harus didobrak. Baginya, sebuah keyakinan sederhana namun revolusioner lahir, ‘Perempuan berhak memperoleh pendidikan yang sama bermutu.’
Menantang Dominasi Zaman
Pada masa kolonial Belanda, pendidikan bagi perempuan Muslim bukan hanya barang mewah, melainkan sesuatu yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat tradisional. Namun, Rahmah memiliki argumen teologis dan sosiologis yang kuat.
Ia meyakini bahwa Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika seorang ibu buta huruf dan tak berwawasan, maka generasi masa depan bangsa akan lahir dalam kegelapan. Baginya, mendidik perempuan bukan sekadar masalah emansipasi, melainkan strategi mutlak untuk kedaulatan bangsa.
Diniyyah Puteri: Monumen Revolusi Pendidikan
Langkah konkret Rahmah dimulai pada 1 November 1923. Dengan tekad bulat, ia mendirikan Madrasah Diniyyah Puteri. Ini bukan sekadar sekolah agama biasa, ini adalah institusi modern khusus perempuan pertama yang memadukan kurikulum secara holistik.
Integrasi Ilmu yaitu Siswi tidak hanya menghafal Ayat dan Fikih, tetapi juga mempelajari ilmu kesehatan, administrasi, dan wawasan sosial, Kemudian Kemandirian, Rahmah membekali muridnya dengan keterampilan praktis seperti menjahit dan kepemimpinan agar mereka menjadi sosok yang mandiri secara ekonomi dan mental. Karakter yang Fokus utamanya adalah melahirkan perempuan yang saleh secara spiritual, namun cerdas secara intelektual.
Diplomasi Global: Dari Padang Panjang ke Al-Azhar
Kiprah Rahmah melampaui batas geografis nusantara. Pemikirannya yang melampaui zaman menarik perhatian Universitas Al-Azhar, Mesir, salah satu episentrum pendidikan Islam dunia.
Kekaguman dunia internasional memuncak saat Rahmah tercatat sebagai perempuan pertama dari Asia Tenggara yang memperoleh gelar kehormatan “Syaikhah” sebuah gelar otoritas keagamaan yang sangat prestisius dari Al-Azhar. Pengakuan ini menjadi stempel validasi bahwa gagasan dari sebuah kota kecil di Sumatera mampu memberikan inspirasi pada panggung global.
Warisan Cahaya yang Tak Kunjung Padam
Rahmah El Yunusiyah berpulang pada 26 Februari 1969, namun api perjuangannya tetap menyala. Diniyyah Puteri hingga kini masih berdiri kokoh, terus menetaskan generasi perempuan tangguh yang tersebar di berbagai sektor kehidupan.
Mengapa sosoknya begitu penting hari ini? Pertama yaitu Keberanian Berpikir Merdeka, Ia membuktikan bahwa norma sosial yang membatasi bukanlah harga mati. Kedua, Agen Perubahan, Ia tidak menunggu perubahan datang dari pemerintah atau penjajah, ia menciptakannya sendiri dengan tangannya. Terakhir ialah Visi Jangka Panjang, Ia memahami bahwa investasi terbaik sebuah bangsa adalah pendidikan kaum perempuannya.
Sejarah seringkali terlalu maskulin dalam menyoroti tokoh-tokoh perubahan. Namun, Rahmah El Yunusiyah hadir sebagai pengingat abadi bahwa dari ruang kelas yang tenang dan niat yang tulus, seorang perempuan bisa mengubah arah masa depan sebuah negeri. Dari Padang Panjang, ia menyalakan cahaya ilmu yang tak akan pernah padam oleh waktu.
Berita Terkait Lainnya :
- akumulasi perizinan yang diterbitkan Bid. PTSP berdasarkan Bidang Usaha
- Pesona Ranah Minang yang Mendunia Hingga Kancah International
- Fasilitasi Penyerahan Arsip bagi OPD yang Mengalami Pengalihan Urusan/Kewenangan
- Rakor Evaluasi Penanganan Banjir dan Longsor
- Organisasi Perempuan Sumbar Ikuti Pendidikan Politik