Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Sumatera Barat April 2020
Berita Utama Desi Marlinda(Diskominfo) 04 Mei 2020 12:43:51 WIB
IHKmerupakan salah satu indikator ekonomi penting yang dapatmemberikan informasi mengenai perkembangan harga barang/jasa yang dibayar oleh konsumen. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/jasa yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang/jasa mempunyai kaitan yang erat sekali dengan kemampuan daya beli yang dimiliki masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan tetap. Tingkat perubahan IHK (inflasi/deflasi) yang terjadi akan mencerminkan daya beli dari uang yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semakin tinggi inflasi maka semakin rendah nilai uang dan semakin rendah daya belinya. Press Release BPS Sumbar (4 Mei 2020)
• Deflasi di Kota Padang terjadi karena adanya penurunan indeks pada 4 (empat) kelompok pengeluaran. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,47 persen, diikuti penurunan indeks pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,17 persen. Inflasi di Kota Bukittinggi terjadi karena kenaikan indeks pada 7 (tujuh) kelompok pengeluaran. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,58 persen dan diikuti kenaikan kelompok kesehatan sebesar 1,00 persen.
• Laju deflasi tahun kalender sampai bulan April 2020 Kota Padang sebesar 0,14 persen dan laju inflasi Kota Bukittinggi sebesar 0,83 persen. Laju inflasi year on year Kota Padang (April 2020 terhadap April 2019) sebesar 1,32 persen dan Kota Bukittinggi sebesar 2,48 persen.
• Dari 24 (dua puluh empat) kota IHK di Sumatera, sebanyak 20 (dua puluh) kota mengalami inflasi dan 4 (empat) kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tembilahan sebesar 0,43 persen dan terendah terjadi di Kota Padangsidimpuan sebesar 0,04 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar 0,92 persen dan terendah terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 0,08 persen. Kota Padang menduduki urutan ke 5 (lima) dari semua kota deflasi di Sumatera dan Kota Bukittinggi menduduki urutan ke 3 (tiga) dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera. Secara nasional Kota Padang menduduki urutan ke 7 (tujuh) dari semua kota yang mengalami deflasi di Indonesia dan Kota Bukittinggi urutan ke 33 (tiga puluh tiga) darisemua kota yang mengalami inflasi di Indonesia.