Sekelumit Harapan Si 'Pemetik Sayur'
Berita Utama Desi Marlinda(Diskominfo) 10 April 2019 16:05:13 WIB
Padang, Info Publik - Ditengah modernisasi dan teknologi yang serba digital, seyogyanya tercipta banyak lowongan pekerjaan untuk semua kalangan. Mirisnya, semua teknologi yang serba modern itu tidak menyentuh kehidupan Fitrawati (46), seorang buruh pemetik sayur dalam mencari pekerjaan yang layak untuk menopang kehidupannya.
Fitrawati adalah contoh dari sekian banyak wanita tangguh dalam mencari sesuap nasi yang tak kenal lelah dan putus asa. Rela mengorbankan waktu dan menahan letih demi menghidupi keluarga tercinta.
Dengan telaten tangannya memetik sayur dan langsung mengikat sayur tersebut menjadi satu ikatan yang hampir sama besar satu sama lain, Keuletannya membuat decak kagum, mungkin karena tiap hari bergelut dengan rutinitas yang sama, sehingga Fitrawati udah hapal berapa banyak sayur harus ditumpuk agar jadi 1 (satu) ikat dengan ukuran yang pas.
“Bagusnya dipetik subuh atau sore hari, karena pada saat itu sayur dalam keadaan segar, dan akan didapatkan kualitas paling baik, berbanding terbalik kalau dipetik tengah hari," jelas wanita paruh baya ini saat ditemui Tim MMC Diskominfo Sumbar di salah satu komplek perumahan Kota Padang, Minggu(7/4/2019).
Fitrawati bercerita dalam satu hari dia bisa menghasilkan 30-40 ikat sayur dan dibayar dengan upah Rp500/ikat. Sementara pemilik kebun menjual 1 (satu) ikat sayur tersebut dengan harga Rp6000/ikat.
Suatu pekerjaan yang membosankan mungkin bagi kita, dimana bayarannya tidak sebanding dengan jerih payah yang dilakukan. Namun dengan ikhlas dan lapang dada, Fitrawati menerima semua konsekwensi itu.
Dia telah melakoni pekerjaan ini sebagai pemetik sayur sejak tahun 1998, dan dibantu oleh anaknya, Ayu (16) dan masih tercatat sebagai pelajar di salah satu SMA di Kota Padang.
"Saya sudah jenuh dengan pekerjaan ini. Namun apa daya, karena keterbatasan ilmu dan kemampaun fisik yang dipunya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya berharap, pemerintah dapat memberikan pelatihan atau berbagai bentuk keterampilan sehingga bisa mencari pekerjaan lain yang lebih layak dan dapat mengubah kehidupan kedepan," harapnya.
Dia juga bercerita, bahwa dirinya dulu punya kebun sayur sendiri, namun pada 2009 bertepatan dengan gempa mesar melanda Kota Padang, ibu ini mengalami kecelakaan dan mengalami patah tangan, sehingga kebun tersebut harus dijual untuk pengobatan.
Pada kesempatan itu tim bertanya, apakah ada insentif dari pemerintah untuk meringankan kehidupannya, dia mengatakan tahun kemaren ada seperti bantuan beras. Tapi untuk tahun sekarang tidak lagi.
“Dulu ibu dapek bantuan bareh dari pemerintah, tapi lah satahun ko indak ado lai do, indak tau masalahnyo apo. (dulu ibu dapat bantuan beras dari pemerintah, tapi sejak tahun kemaren tidak dapat lagi, tidak tahu masalahnya apa.red)," ungkapnya.
Terakhir dirinya meminta bantuan tim, jika ada pelatihan yang diselenggarakan pemerintah, agar diinformasikan, sehingga wanita sepertinya mempunyai pekerjaan yang memadai, agar mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. (Rina Yuli Hefni/TIM MMC Diskominfo)