UPAYA PEMENUHAN GIZI KELUARGA AGAR SEHAT
Artikel Zakiah(Tenaga Artikel) 23 Maret 2019 22:47:57 WIB
UPAYA PEMENUHAN GIZI KELUARGA AGAR SEHAT
Pernahkah anda mendengar ungkapan makan untuk hidup, bukan sebaliknya hidup untuk makan. Makna ungkapan ini sangat berkorelasi dengan gizi dalam keluarga. Karena tidak semua orang mampu memenuhinya , dan tidak pula sehat.
Masalah gizi adalah masalah yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia, termasuk Sumbar yang masih memiliki masyarakan dengan kemampuan ekonomi lemah. Masalah kemiskinan menyebabkan berkurangnya kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia seringkali dianggap sebagai penyebab utama kurang gizi
Program penanggulangan masalah kurang gizi telah dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan membantu keluarga miskin seperti program jaring pengaman sosial bidang kesehatan (JPSBK), revitalisasi posyandu, pemberian dan penigkatan Makanan Pedamping ASI (MPASI). Penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat tentang rawan pangan dan gizi telah menentukan penurunan gizi buruk di Sumbar. Kasus gizi buruk terutama dialami daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Walau banyak daerah mengklaim kasus gizi buruk sudah berkurang sejak beberapa tahun terakhir, tapi hal itu tetap harus diwaspadai. Persentase angka gizi buruk kita jauh lebih kecil dari persentase gizi buruk tingkat nasional. Persentase gizi buruk kita hanya 8, 2 % sedangkan nasional 17 %. Penanggulangan telah dilakukan pemerintah, terutama dengan pusat kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Masyarakat perludibekali dengan pengetahuan hidup sehat, agar punya pedoman untuk menerapkan perilaku hidup sehat melalui pemenuhan gizi yang berimbang.
Dalam keluarga, sangat diperlukan peran ibu dalam penyediaan, pemilihan dan pengolahan bahan yang tepat, teliti dan terampil sesuai kemampuan keluarga untuk dapat memenuhi gizi yang dibutuhkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi ketahanan pangan keluarga diantaranya adalah memanfaatkan halaman perkarangan disekitar rumah dengan menanam tanaman pangan yang bernilai ekonomis tinggi, minimal untuk memenuhi keperluan keluarga serta meningkatkan tanaman obat keluarga (toga). Pekarangan dapat dikelola secara terpadu dengan berbagai jenis tanaman, ternak, ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan guna pemenuhan gizi keluarga. Dengan pergiliran tanaman yang baik, hasil yang dipanen dapat berganti-ganti sehingga menu makanan keluarga dapat bervariasi dan dalam menyusun menu makanan yang sehat, perlu memperhatikan zat gizi yang terkandung seperti karbohidrat sebagai zat tenaga yang diperoleh dari beras, umbi-umbian,sagu,dll. Selanjutnya lauk pauk sebagai sumber protein dari daging,ayam, tahu,telur,tempe dan zat pengatur/vitamin dan mineral dari sayur dan buah. Disamping itu juga harus diwaspadai keracunan pangan dari proses penanaman, pemilihan dan pengolahan sampai terhidangnya makanan, hindari bahan makanan yang berbahaya seperti zat pewarna, bahan pengawet, produk kadaluarsa dan penggunaan pestisida. Dalam menyusun menu sebaiknya memperhatikan proporsi, 50-60% energy dari makanan pokok, 10% energy dari lemak, 15-25% protein dari hewani serta 50-80% vitamin dari sayuran berwarna, selanjutnya olah bahan pangan dengan cara pengolahan yang sesuai dengan memperhatikan kebiasaan makan keluarga.
Jangan lupa untuk membiasakan untuk membuat makanan tambahan sendiri sebagai pengganti jajan anak-anak, selain lebih aman, sehat dan akan menghemat jika kita kreatif mengolah makanan dari bahan pangan sederhana. Pokja III PKK juga secara berkala melaksanakan program PMT-AS (program makanan tambahan anak sekolah untuk memperbaiki gizi anak sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak sekolah. Untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak perlu mengeluarkan biaya mahal, asal kita rajin menggali ilmu pengetahuan mengenai gizi dan memberdayakan sumber daya yang ada disekitar kita. Semoga anak-anak Sumatera Barat menjadi anak yang berkualitas dengan gizi yang baik.