Pasambahan, Tari Penyambutan Tamu di Minangkabau

Berita Utama EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 30 Januari 2019 14:09:37 WIB


Hentakan gendang dan saluang (alat musik tiup khas Minang) mengiringi rombongan pengantin saat memasuki tempat acara. Dengan diantar keluarga, sang mempelai disambut tari Pasambahan, sebuah tari penghormatan dalam acara-acara besar di ranah Minang.

Sebelum duduk di kursi pelaminan, datanglah tiga orang gadis penari yang membawa carano, benda sakral berbentuk dulang berkaki dari kuningan. Di dalamnya berisi daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Carano menjadi simbol yang sarat makna untuk diberikan kepada calon mempelai sebagai syarat meminang di Minangkabau.

Kejadian tersebut berlangsung saat pernikahan Rado Alan Sura dengan Desty Sartika Putri di Aula Asrama Haji Padang, Sabtu (26/1) pagi.

Menurut Suhatril Idrus, tetua adat dari pihak mempelai pria, pernikahan ini memang di setting dengan nuansa adat Minangkabau yang kental.

"Walaupun berasal daerah yang berbeda, dimana pihak pria berasal dari Solok, sedangkan mempelai wanita dari Batusangkar, tetapi kita tetap menggunakan adat Minang yang sama, sebab secara harfiah, tari Pasambahan ini merupakan kesenian Minang yang umum digunakan," ujar Suhatril.

Dia menambahkan, walaupun perkembangan zaman telah maju, dimana arus teknologi mulai mengikis adat istiadat, kita jangan sampai lupa akan asal usul budaya. "Jika tidak terus dilestarikan, adat ini bisa hilang ditelan zaman," jelasnya.