Menyikapi Bencana dan Gempa
Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 03 Desember 2018 15:59:32 WIB
SELAMA kurun waktu 2018 ini, bencana datang silih berganti. Berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor hingga letusan gunung berapi. Bila dipandang dari sisi geologi Indonesia memang merupakan negara yang rawan akan bencana.
Sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Musibah ini disebabkan tingginya curah hujan yang terjadi sejak awal Oktober 2018 lalu. Bahkan, selain merendam rumah warga, banjir disertai longsoran tanah menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur jalan, jembatan hingga pasokan listrik.
Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar Jasman menyampaikan, terkait kesiapsiagaan bencana, Pemerintah Provinsi (Pemprov) telah mengeluarkan edaran melalui Surat Nomor 360/1223/BPBD/X-2018 perihal Peningkatan Kesiapsiagaan Aparatur Masyarakat terhadap Bencana, tertanggal 1 Oktober 2018.
Melalui surat itu, gubernur meminta para kepala daerah untuk melakukan koordinasi dan menyiapkan langkah-langkah teknis dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan aparatur dan masyarakat terhadap bencana di wilayah masing-masing. Dia mengungkapkan, berdasarkan pertimbangan atas tingginya curah hujan beberapa hari terkakhir, gubernur mengimbau para kepala daerah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Para bupati dan wali kota diminta melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya banjir dan tanah longsor. Selain itu juga diminta agar seluruh daerah mengaktifkan Posko Penanggulangan Bencana 1x24 jam setiap hari dan agar seluruh kepala daerah aktif berkoordinasi melalui SKPD terkait dengan daerah lain dan Pemprov untuk saling memberikan informasi kondisi di daerah masing-masing.
Kemudian, Rabu, 12 Desember, 2018, akes jalan Padang-Bukittinggi yang putus. Bahkan, dampak longsor menutup akses jalan sepanjang 30 meter dengan ketinggian 2 meter.
Tapi sebagai Muslim kita meyakini semua itu adalah atas kehendak Allah (Al Jabbar). Meskipun secara geografis menjadi wilayah rawan bencana jika Allah tidak berkehendak maka bencana alam takkan mungkin terjadi. Dialah yang menguasai langit dan bumi beserta isinya. Dzat yang mengatur atau memerintah segala makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak dan iradah-Nya. "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," (QS al-Hadid: 22).
Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Dia pun menetapkannya untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Dengan tanda-tanda tersebut, Allah mengingatkan kewajiban hamba-hamba-Nya, yang menjadi hak Allah ‘azza wa Jalla. Hal ini untuk mengingatkan para hamba dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang. Allah Ta’ala berfirman;"Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Israa: 59)
Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman; “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Fushilat: 53)
“Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain” (QS. Al-An’am: 65).
Kini, sebagai masyarakat Ranah Minang, selain meningkatkab ketaqwaan, juga diharapkan juga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Caranya, selain menysukuri nikmat Allah, juga mingkatkan waktu untuk beribadah. Semoga. (berbagai sumber dan penulis wartawan tabloidbijak.com)