DURI DAN KERIKIL

Artikel Zakiah(Tenaga Artikel) 11 Desember 2018 07:33:45 WIB


DURI DAN KERIKIL
Ada kisah obrolan kecil dalam rumah tangga yang bisa kita ambil pelajarannya.
Suatu hari sang anak berkeluh kesah kepada kedua orangtuanya, karena pena yang baru dicuri kawan sekelasnya, akan tetapi ia tidak tahu siapa yang mencuri.
Sang ayah merespon santai “ jangan menangis nak, ayah akan belikan lagi pena baru” tersenyum.
Beda dengan ibunya berujar  ”wah itu harus dilaporkan ke gurunya, biar memperingati keras bagi pencuri di kelas” sambil mengerutkan dahi.
Ternyata polemik ini tidak sederhana, setelah beberapa hari, anak berkeluh kesah lagi dengan kasus yang sama, yaitu pena nya hilang. Anak itu yakin sekali ada yang mencuri.
 Kontan ibunya mengatakan ”ini sudah harus dilaporkan ke gurunya !. ini sudah 3 kali kamu dicuri terlalu !.
Sang ayah tetap senyum berkata kepada isterinya *”harga pena lebih murah dari harga pendidikan  anak kita, isteriku. Biarlah ayah belikan lagi pena untuk anak kita. Tidak perlu anak kita melapor ke gurunya.”*
Ayahnya menasehati anaknya 
*”Nak, kamu jangan sedih, pena hilang, itu peringatan bahwa kamu harus menjaga baik baik. Jangan sampai meninggalkan barang barangmu sembarangan. Berpikirlah bagaimana supaya pena kamu tidak dicuri lagi.”* sambil memeluk anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD.
Kejadian inipun berakhir begitu saja tidak ada lagi pencurian pena. Nasehat ayahnya sudah berbuah manis. 
Akan tetapi sang anak menghadapi masalah yang lebih berat dari pena. Sepulang sekolah anak ini menangis karena ia di ”bully”, dihina, dicemoohkan oleh kawan kawannya di kelas.
Anak itu menangis mengadu ke ibunya ”Bunda aku diledekin oleh kawan kawan di kelasku, dihina katanya sok pintar, sok cantik, sok rapi...”
Tentu membuat geram ibunya. 
Berbeda lagi dengan ayahnya yang tetap senyum sambil memeluk anaknya.
” anakku... jangan sedih. Mungkin mereka benar. Coba deh, apakah kamu  dengan kepinteranmu. Atau kamu berkata angkuh menunjukkan kamu cantik.” nesehat ayah kepada anaknya.
” tidak ayah. Aku itu tidak banyak bicara di kelas. Mereka saja yang tidak suka karena aku selalu bisa menjawab semua pertanyaan guru” jelas anaknya.
Ayahnya langsung mencium anaknya berkali kali. ” Masya Allah anak ayah hebat, kamu hebat nak. Kamu tidak sombong *tetapi orang lain menilaimu salah* bahkan kamu dihina hina. Itu hebat. Sabar ya Nak..” ujar ayahnya memberikan motivasi.
Berbeda dengan bundanya yang ingin cepat cepat lapor ke gurunya meminta suaminya untuk datang ke sekolah.
” sayangku, isteriku, biarlah anak kita menghadapi sendiri, tanpa intervensi guru. Ini pendidikan anak kita  jadi anak tangguh,  melatih dirinya menghadapi masalah. Tidak bermental lemah. *Kan sekolahan itu wadah belajar sebagai jembatan menuju kehidupan nyata*”

Sang ayah bertanya kepada anaknya.
”anakku , ayah bertanya kepadamu.
Ada seseorang tengah berjalan, mendapatkan jalur penuh duri dan kerikil tajam. 
Apakah yang ia harus lakukan  ?.
Apakah ia singkirkan duri dan kerikil itu  ?
Atau ia mencari jalan lain ?
Atau stop tidak mau berjalan lagi ?.” tanya ayah sambil senyum dan memeluk anakknya.
Anak itu terdiam berpikir dalam lalu menjawab dengan semangat ” aku pilih menyingkirkan duri dan kerikil, hmm... eh gak jadi ... aku pilih yang mencari jalan yang lain.” kata anak itu.
Sang ayah bertanya lagi.
”apakah kalau kamu membersihkan duri dan kerikil  di jalan itu selanjutnya apakah ada  jaminan bahwa didepannya tidak ada rintangan lagi   ?. 
atau kalau kamu ambil jalan yang lainnya apakah jaminan tidak akan ada duri dan keriikil tajam ?.”
Anak itu diam dan berpikir sambil menggaruk garuk kepalanya. ”jadi jawabannya apa dong ?.. berhenti kan tidak mungkin, karena harus tetap jalan” tanya anak kepada ayahnya penuh dengan penasaran.
Sang ayah merespon tertawa kecil ”gini anakku... kamu lupa ya ?. kan kamu punya alas kaki. Sepatu atau sandal. Jadi yang benar , ya pakai alas kaki lah ” jawab ayah tertawa lepas.
” hehehehe... iya ya.. ayah pintar sekali ” tawa anaknya.
Tiba tiba anakknya bertanya ”Terus apa hubungannya dengan aku , ayah ?” 
Sang Ayah langsung menggendong anaknya dan menjawab sambil memegang dada anaknya.
”sepatu kamu ada disini nak. Di dadamu.”
” kalau ada yang kamu tidak suka, kamu harus kuat. *Jangan cepat cepat menyalahkan orang lain.* 
*Pertama kamu periksa dirimu dulu, jangan jangan orang lain itu benar.* Kalau kamu yakin kamu benar ia salah, kamu harus kuatkan hati. Tetap sambut dengan senyuman. Kamu harus kuat seperti kakimu bertambah kuat dengan alas kaki. *Karena dimanapun berada, pasti ada duri dan kerikil. Pasti ada saja yang kamu tidak suka. Jadilah anak yang kuat.”*
 pesan ayah kepada anaknya.
Kisah diatas , bisa kita petik. Bahwa perbedaan hal yang pasti kita akan dapati dimanapun berada. Bahkan dengan pasangan hidup kita, bahkan dengan anak kita. Tugas kita adalah menguatkan mental untuk selalu saling menghormati perbedaan pendapat. Dan mengoreksi diri sendiri. Bisa saja orang lain itu benar, kita yang salah.Wallahu a'lam.