ANTARA CIMEEH DAN DENGKI !

Artikel Pinto Janir(Pinto Janir) 23 Juni 2014 08:39:55 WIB


Keh...keh...keh!

 

Puncak tawa itu adalah keh...keh...keh. 

 

Ada 2 pesan dari tawa terkekeh kekeh, pertama tawa cimeeh, kedua tawa sebenar-benarnya tertawa karena melihat, mendengar atau mendapati sesuatu yang sangat lucu atau bahkan juga tragis. Apakah tertawa terkekeh-kekeh merupakan salah satu ekpsresi bahagia atau senang yang berlebihan? Tidak. Ujung dari tertawa karena bahagia atau senang hati itu adalah air mata. Saya masih ingat kata orangtua: " Jan gadang bana galak, bekoh manangih?". Namun, ujung dari tertawa terkekeh-kekeh adalah cimeeh. Ya, cimeeh.

 

Ada 2 sifat cimeeh, satu cimeeh membangun, dua cimeeh membunuh karakter karena ketakmampuan diri berbuat seperti orang yang dicimeehkan. 

 

Untuk menjadi seorang pencimeeh yang bijak, dibutuhkan 2 hal; satu kecerdasan atau wawasan dan kecakapan hidup. Dua, hati yang jernih dan wangi. Tukang cimeeh karena mencimeeh berdasarkan 'kecemburuan sosial' cap dirinya berstempel 2. satu; dungu, dua busuk hati. Tukang cimeeh seperti ini, adalah tukang yang menanggung. Ia menjadi ulat bulu di ranting halus, jilatang di tengah parak. Dan, ia serba tanggung dan serba gantung. Kemampuannya tipis, tapi keinginannya tebal. Bayang-bayangnya singkat, tak pernah sama dengan badannya. Tapi, ia ingin benar mengejar bayangnya yang tak pernah terukur, karena gantang paruiknyo satekong, panjang pangananyo sajangka. 

 

Hidup itu bagiku, pikiran. 

 

Apa-apa yang akui pikirkan, itulah yang hidup. Bila kupikirkan tanah, hiduplah tanah. Kupikirkan angin hiduplah angin. Kupikirkan laut, hiduplah laut.  Kupikirkan besi, hiduplah besi. Kupikirkan api hiduplah api. Kupikirkan mimpi hiduplah mimpi! 

 

Hidup itu pikiran tak hanya sekedar hidup di ruang benakku, di ruang kalbuku. 

 

Apa dan bagaimana-bagaimananya tentang apa yang kudapatkan hari ini, karena hasil olah pikiranku masa lalu. Apa yang kupikirkan saat duduk ini, saat hidup kini, adalah realita masa nanti. Bagiku hidup itu dugaan yang positif dan pikiran yang besar. Aku sadar sesadar-sadarnya kini, bahwa setelah kulihat, ternyata tak ada ikan besar yang hidup di air yang dangkal. 

 

Bila dulu aku berpikir hanya sebatas segelas kopi dan rokok yang tak boleh lenyap, sekarang aku harus berpikir agak lebih besar untuk mewujudkan sesuatu yang besar. Aku tak lagi berpikir soal kopi semata, yang aku pikirkan aku memiliki perkebunan kopi yang besar. Bila perlu, dari ladang kopiku yang besar, aku memiliki pabrik pengolah biji kopi menjadi kopi yang besar. Aku tak lagi berpikir tentang rokok berbungkus-bungkus, bila perlu aku harus memikirkan memiliki ladang tembakau yang besar, pabrik kertas yang besar dan pabrik rokok yang besar. 

 

Aku sudah muak memikirkan hal-hal kecil yang tak akan pernah dicatat oleh waktu dan ruang dalam pahatan batu nisan perjalanan kehidupan.

 

Assalamualaikum alam, assalamualaikum langit, assalamualaikum bumi, assalamualaikum laut, assalamualaikum gunung, ajarkan aku bertasbih kepadaNya dengan benar!

 

Laillahaillallah...Laillahaillallah...Laillahaillallah...Laillahaillallah...Laillahaillallah...

 

Ya Allah, putuskan makrifat pikiranku, lecut aku dengan syariatmu, altarkan aku pada hakikat itu dalam syahadat aku mengaku, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. 

 

Hidup singkat, kematian pasti, tak ingin aku terjebak berlama-lama dalam kebodohan dan kedunguan duniawi. 

 

Aku dan pikiranku dan hatiku dan jiwaku dan ragaku adalah aku karenaMu. 

 

Aku dan pikiranku ya Allah, adalah aku yang bertawajjuh padamu. Aku tundukkan kepalaku, aku hadapkan pandanganku ke hatiku. Aku tongkatkan lidahku ke langit-langitku.  Hiduplah hiduplah hiduplah laillahaillallah...laillahaillallah...Aku bergetar. Jiwaku bergetar. Tubuhku bergetar. Jantungku bergetar. Dalam getarmu, aku merasakan kasihMu yang luar biasa itu nikmatnya...

 

Aku kecil saja, aku debu saja, aku hina...hina di matamu, tapi tiggikan aku di mata insanimu di ruang rasa cipta dan karsa itu, Ya Allah! 

 

Ya Allah, jauhkan saja aku dari busuk hati, wangikan hatiku dari aroma surgamu. 

 

Ya Allah, jauhkan aku dari segala prasangka buruk, jadikan aku dan pikiran menjadi orang-orang yang berprasangka baik untuk membuat hidupku dan orang lain menjadi baik. 

 

Ya Allah, jauhkan setan-setan dan iblis-iblis dariku....

 

Dekat-dekatkan aku pada malaikatMu. 

 

Aku tak ingin jadi iblis.

 

Aku juga tak ingin jadi malaikat. 

 

Aku hanya ingin tetap menjadi manusia seperti apa yang Engkau kodratkan pada seluruh insani. 

 

Jadikan aku manusia "bermutu" bukan manusia mubazir yang penuh dengan pikiran buruk, cimeeh buruk, orang-orang buruk, orang-orang tanggung....

 

Ya Allah, di saat banyak kekuranganku, anugerahmu padaku tak terhingga. Ya Allah, jangan sampai anugerahmu ini mengundang kedengkian umatmu yang lain padaku. jangan sampai anugerahmu ini membuat orang menghabiskan waktu untuk hanya sekedar memikirkanku sehingga ia lupa mengerjakan hal-hal yang positif untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk anak bininya. 

 

Ya Allah, jangan aniaya pikiran orang lain karena "kekuranganku" dan "anugerahmu yang berlebih padaku. Kasihan dia!

 

Ya Allah, perlihatkan padaku kekuasaanMu, di bawah tulisan ini....

 

Apakah pada serbuah riwayat sakralpun 'manusia' kerdil akan terkekeh-kekeh atau mencimeeh!

 

Ya Allah, izinkan aku memaafkan para pendengki-pendengki yang membuat dunia gelap dan kacau! (Pinto Janir)