Memanfaatkan Ramadhan untuk Intropeksi Diri

Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 26 April 2018 10:23:26 WIB


Oleh Yal Aziz
SUDAH menjadi suatu kebiasaan bagi masyarakat Sumatera Barat untuk mempersiaan berbagai hal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Untuk itu wajar saja, jika persoalan ini membuat kondisi seminggu menjelang memasuki Ramadhan, akan terlihat berbagai kesibukan dan kemeriahan, yang sudah menjadi sebuah tradisi tahunan yang lumrah bagi masyarakat. 

Yang hebatnya lagi, selain persiapan batin dan spiritual, masyarakat juga melakukan persiapan berbagai kebutuhan Ramadhan dan sekaligus Idil Fitri. Untuk itu, wajar saja kalau momentum ini menjadi masa panen bagi para penjual aneka barang dan jasa.

Kemudian perlu dimaklumi juga jika banyak kebutuhan yang lahir seputar kedatangan puasa dan lebaran. Belanja kebutuhan rumahtangga meningkat, ongkos transportasi ikut naik seiring banyaknya undangan silaturahmi di mana-mana. Belum lagi kelak saat ritual mudik datang dan ditutup dengan perayaan Lebaran. Kesemuanya membutuhkan uang. 

Di sisi lain, bagi masyarakat ada juga yang memanfaatkan Ramadan untuk meningkatkan ketaqwaanya kepada Allah. Kenapa? Karena merupakan bulan suci yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Ramadan tak hanya mengajarkan bersabar menahan lapar dan dahaga sejak terbit hingga terbenam matahari, namun sarat dengan nilai mulia.

Ada keringanan yang diberikan Allah dalam pelaksanaan ibadah ini, misalnya terhadap mereka yang sakit atau dalam perjalanan, tetapi mereka tetap wajib menggantikan puasa yang ditinggalkan. 

Dan, bagi mereka yang berat menjalankannya diwajibkan membayar fidyah, yakni memberi makan kepada orang miskin. Dari awal kita melihat betapa mulia tujuan ibadah puasa. Pertama, agar kita yang menunaikannya menjadi insan yang bertakwa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dengan ketakwaan, manusia diajak untuk meningkatkan kualitas diri dan membantu meningkatkan kualitas sesama. 

Di bulan penuh ampunan ini, kita mendapat kesempatan luas untuk berzikir, mengingat Tuhan, serta merenungkan makna dan tujuan hidup. Namun, di dalamnya juga ada tuntunan untuk memelihara silaturahim, tidak melupakan arti hidup bersama. Di sinilah umat melihat realitas hidup yang tidak sepenuhnya menggembirakan. 

Di kanan kiri ada kesenjangan. Ada yang mendapat rezeki berlimpah, ada pula yang hidup berkekurangan. Mereka yang berpuasa dengan khusyuk, dan tidak banyak meladeni hiruk-pikuk dunia, akan berkembang mata batinnya. Hal-hal yang tampak rutin dan trivial dalam hidup sehari-hari, kemudian menampilkan makna. 

Di sinilah manusia modern menghadapi kesulitan. Sebagian mereka beribadah di tengah berbagai kesibukan dunia.  Bahkan, manusia di zaman now ini tak pernah lepas dari keterikatan pada urusan melalui gawainya. Alangkah sibuk dan penuh pikirannya. 

Selain padat, manusia modern juga sering merasa dituntut serba cepat. Untunglah muncul pemikir yang menggugat kehidupan serba cepat. Dalam bukunya In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed, Carl Honore mengingatkan kita tentang perlunya bekerja dan menjalani hidup tanpa didikte oleh kecepatan. Melalui serba hal yang tenang, lamban, akan terbuka keheningan. 

Inilah kunci untuk menangkap nuansa dan makna, termasuk di dalamnya mengapa kita harus melatih diri dengan puasa. Dalam keikhlasan dan kebeningan batin, akan teryakini bahwa puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan haus serta hubungan suami-istri. Dalam keheningan dan kebeningan batin, akan mudah lahir rasa syukur atas semua nikmat Tuhan. Akan muncul pula rasa welas asih terhadap sesama, khususnya terhadap mereka yang hidup susah. 

Tidak kalah pentingnya adalah munculnya rasa kecil tak berarti di tengah kebesaran Tuhan. Justru di tengah masa yang hiruk-pikuk dan kalut sekarang ini, kita melihat Ramadhan sebagai saat yang kita butuhkan untuk jeda dan merenungkan jati diri dan tujuan hidup. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.