Produktivitas Pekerja yang Terus Meningkat dan Predikat Layak Investasi
Artikel () 28 Februari 2018 10:06:17 WIB
Koran Sindo edisi 8 Maret 2018 di headlinenya menurunkan berita dengan judul “Produktivitas Pekerja RI Terus Meningkat”. Dalam paparannya disebutkan bahwa sejak 1990 produktivitas pekerja tumbuh 3,1 persen setiap tahun, dalam kurun 25 tahun. Data ini bersumber dari Asian Productivity Organization (APO).
APO merilis, pada 2015 produktivitas pekerja Indonesia mencapai 24.300 dolar AS. Dua kali lipat dibanding 1990. Dari 20 negara dengan produktivitas pekerja yang baik, Indonesia berada di urutan 11. Sementara jika dalam lingkup Asean, Indonesia di urutan 4.
Untuk daya saing, yang diterbitkan The Global Competitiveness Report 2017-2018, Indonesia ada di urutan 36 dari 137 negara. Sedangkan dalam lingkup Asean Indonesia ada di urutan 4 dari 9 negara.
Masih terkait masalah pekerja atau mungkin kabar baik yang masih berpautan adalah headline Media Indonesia edisi 7 Maret 2018 dengan judul berita “Dunia Akui RI Layak Investasi”. Di situ disebutkan bahwa dari 10 negara tujuan investasi terbaik adalkah Indonesia di urutan 2. Ini merupakan hasil survei US News, sebuah majalah mingguan yang terbit di Amerika Serikat. Sepuluh negara tersebut adalah: Filipina, Indonesia, Polandia, Malaysia, Singapura, Australia, Spanyol, Thailand, India, dan Oman. Di tahun lalu, posisi Indonesia ada di urutan 10, yang artinya ada perbaikan sehingga mengalami kenaikan peringkat.
Adapun factor-faktor yang menjadikan sebuah negara laya investasi adalah pertumbuhan ekonomi negaranya dinilai cukup tinggi, rasio utang masih rendah, likuiditas eksternal kuat, dan penerapan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang disiplin dan hati-hati. Dari segi kemudahan berbisnis, peringkat Indonesia juga terus mengalami kenaikan, yaitu 128 (2013), 120 (2014), 114 (2015), 105 (2016), 91 (2017), dan 72 (2018).
Produktivitas pekerja yang terus meningkat adalah modal berharga dalam mendukung investasi. Sehingga layak investasi. Oleh karena itu, apa yang sudah dicapai ini harus terus dipertahankan. Karena ini sangat mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat yang semakin baik.
Sementara itu dari Sumbar sendiri akan mengejar target investasi 8,5 triliun rupiah. Ini seperti diberitakan Bisnis Indonesia edisi 7 Maret 2018 dengan judul berita “Sumbar Kejar Target Rp8,5 triliun”. Potensi terbesar adalah energy panas bumi, kemudian pariwisata dan perikanan. Dari potensi energi panas bumi 1.600 MW yang ada di 16 titik, baru 2 perusahaan yang sudah ambil bagian.
Kemudian untuk pariwisata, difokuskan untuk pengembangan kawasan ekonomi khusus di Mandeh Kab. Pesisir Selatan dengan luas 400 hektare dan Siberut Barat Daya di Kab. Mentawai dengan luas 2.600 hektare. Namun tetap dilakukan pengembangan objek pariwisata lainnya yang ada di kabupaten/kota di Sumbar.
Maka, dengan produktivitas pekerja yang terus meningkat serta predikat layak investasi, mudah-mudahan ini menjadi modal berharga bagi Indonesia secara umum, dan Sumbar khususnya, untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (efs)
Referensi:
Koran Sindo, 8 Maret 2018
Media Indonesia, 7 Maret 2018
Bisnis Indonesia, 7 Maret 2018
ilustrasi: freefoto.com