Rumah Bersejarah di Pessel Dibiarkan Kurang Terawat

Rumah Bersejarah di Pessel Dibiarkan Kurang Terawat

Berita Utama EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 23 Januari 2018 19:25:11 WIB


Pesisir Selatan, 22 Januari 2018

Rumat panggung itu sepertinya bukan rumah gadang, mengingat bentuk gonjongnya tidak jelas terlihat. Kondisinya tak terawat dan dibiarkan seperti rumah tak berpenghuni. Padahal, rumah yang  memiliki 20 tiang penyangga berukuran 10 m X 10 m itu punya  sejarah panjang dan menjadi bagian dari perjuangan republik kala itu. Bahkan di atas rumah tersebut pernah dicetak uang ori (Oeang Repoeblik Indonesia).

Konon, rumah bergonjong yang diketahui tempat percetakan uang Republik Indonesia ini dibangun sejak 1928 silam. Dengan kondisi tidak terawat lagi, hanya tinggal dalam keadaan kosong meski tempat itu merupakan salah satu peninggalan sejarah yang ada di Kampung Koto Pulai, Lengayang, Pesisir Selatan. 

“Memang terlihat seperti rumah tua kosong saja. Sebab untuk saat ini tidak ada adalagi sisa dokumen atau benda-benda lain yang tersisa di rumah ini,” sebut Gendril salah seorang warga Kampung Koto Pulai sekaligus pemerhati kampungnya dan Kepala KUA di Lengayang.

Dari cerita yang didapat, rumah tua bergonjong ini merupakan salah satu percetakan uang yang bernama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) dengan nilai tukar Rp.25 dan Rp.50 kala itu, walau tidak ada data secara pasti yang menyebut. Uang ini dikatakan sebagai nilai tukar untuk membiayai para pejuang guna mempertahankan daerah dari jajahan Belanda.

“Benar, ceritanya memang seperti itu. Sebab, Kampung Koto Pulai juga dijadikan sebagai tempat pengungsian masa itu dari kejaran Belanda dan pertahanan daerah,” terangnya.

Menurut Gendril, secara topografis Koto Pulai berada di tengah kawasan hutan dan berhubungan langsung dengan hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Memang agak pelosok, berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat Kecamatan Lengayang.

Dijelaskan, antara 1945-1949 Kabupaten Pesisir Selatan-Kerinci atau sebelum dimekarkan saat itu dipimpin Bupati Militer Aminuddin St. Syarif. Ketika itu, Koto Pulai dipilih sebagai wilayah strategis pertahanan dan lokasi pengungsian dari kejaran para penjajah.

“Namun menurut keterangan, uang yang dicetak di rumah bergonjong itu hanya berlaku di Pesisir Selatan-Kerinci saja. Mungkin saat itu Rupiah belum tersebar luas,” jelasnya.

Gendril saat itu memang tidak bisa menceritakan secara detail. Tetapi, dengan kondisi rumah sejarah yang hanya tinggal seperti rumah tidak berpenghuni itu ia merasa prihatin. Sebab sebagai peninggalan sejarah kemerdekaan yang ada di daerah itu, rumah tersebut tidak pernah dirawat dan diperhatikan pemerintah lagi.

“Tidak hanya percetakan uang saja. Dari sejarah yang saya dapat rumah ini juga menjadi tempat pengungsian dari penjajah ketika itu. Apalagi, untuk menyelamatkan diri dari tawanan Belanda,” terangnya.

Walinagari Kambang Timur, Sondri KS berharap, peninggalan perjuangan didaerah itu bisa mendapat perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Sebab, dengan adanya peninggalan sejarah tersebut menjadi jejak tentang sejarah yang ada di kampung itu.

“Kami berharap peninggalan ini tetap selalu terjaga. Sebab, setiap peninggalan sejarah harus bisa diketahui dari masa ke masa. Tanda bukti, bahwa perjuangan kemerdekaan itu ada,” pungkasnya. 

Sumber : kantorberitathetarget.com