Hari Pembalasan
Artikel () 22 Desember 2017 09:17:01 WIB
Mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena sewaktu kecil sempat mengaji setelah sekolah formal usai. Jadi di situ saya mendapatkan ilmu agama dari guru mengaji saya. Di sekolah formal pun saya juga mendapat ilmu agama ketika pelajaran agama Islam.
Ketika di sekoah dasar saya mendapatkan pengajaran pokok-pokok agama yang memang harus didapat ketika usia masih sangat belia. Yang dimaksud adalah masalah rukun iman dan rukun Islam. Rukun iman dan rukun Islam itu harus ada di pikiran dan hati setiap muslim. Karena tanpa kedua rukun itu, saya merasakan hidup bisa kehilangan orientasi.
Dalam kehidupan, ternyata pembenaman rukun iman dan rukun Islam sejak kecil itu sangat bermanfaat. Karena bisa membuat hidup seimbang. Bahkan menjadi semacam filter yang menjaga arah hidup. Bayangkan kalau seorang muslim di kepalanya tidak hafal rukum iman dan rukun Islam, kemungkinan dia akan tersasar hidupnya. Sedangkan yang hafal saja banyak yang tidak menjadikannya sebagai filter dalam kehidupannya.
Apa saja rukun iman dan rukun Islam tersebut? Saya uraikan lagi di sini. Rukun iman yaitu: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat, iman kepada Rasul-Rasul Allah WT, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada hari pembalasan (kiamat), dan iman kepada takdir (baik dan buruk). Sedangkan rukum Islam yaitu: mengucap dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.
Bayangkan jika seorang muslim tidak beriman kepada apa yang disebut dalam rukun iman tersebut. Kemungkinan hidupnya akan mengalami disorientasi. Perilakunya belum tentu baik, pola pikirnya berdasar hawa nafsu. Jikapun mampu hidup nyaman, tapi dirinya tidak akan tenang. Karena dalam Alquran sudah disebut bahwa hanya dengan mengingat Allah saja hati menjadi tenang.
Demikian pula muslim yang tidak melaksanakan rukun Islam, maka hidupnya akan mengalami disorientasi, perilakunya buruk, hidupnya tidak tenang, rezekinya sempit, ketika dilanda musibah ia tidak bisa paham sebabnya, dan berbagai ketidaktenangan lainnya. Bagaimana mungkin muslim tidak melaksanakan sholat, sehingga ia pun tidak bersayahadat. Sedangkan berpuasa di bulan Ramadhan pun tidak ia jalankan sehingga hidupnya terasa sempit dan tidak tenang. Jikapun ia punya uang banyak, tidak sholat, tidak puasa, tapi merasa tenang, itu adalah tipuan, apalagi jika ia tidak membayar zakat. Harta yang ia miliki sebenarnya bisa sekejap hilang.
Maka dengan demikian, seorang muslim memang harus ada di kepalanya masalah rukun iman dan rukun Islam, agar ia memiliki filter dalam hidup. Di samping itu, yang saya ingin bahas dalam tulisan ini adalah masalah hari pembalasan. Jika melihat narasi yang berkembang, hari pembalasan seolah-olah hanya hari kiamat saja. Padahal dalam dunia kerja atau kehidupan sehari-hari, sering kita saksikan jika ada seorang yang perilakunya buruk, arogan, mulutnya kasar, ingin disembah, ingin dilayani, tapi ia sendiri tidak sholat, tidak puasa, maka tiba-tiba di suatu waktu nasibnya berubah drastis. Pekerjaannya hilang atau mungkin usahanya bangkrut. Dan ia bingung, tidak terpikirkan bahwa itu boleh jadi balasan dari perilaku buruk yang ia lakukan sebelumnya kepada orang lain.
Dalam Alquran sendiri, ada ayat-ayat yang menerangkan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya, meskipun nilainya sangat kecil. Baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Dan hanya Allah SWT saja yang tahu kapan perbuatan buruk seseorang akan dibalas, demikian pula dengan perbuatan baik seseorang.
Oleh karena itu, dalam Alquran Allah SWT juga firmankan bahwa orang-orang yang dizalimi yaitu orang lain melakukan perbuatan buruk kepadanya maka diminta bersabar dan diiringi dengan shalat. Sementara bagi orang yang sering menzalimi atau berperilaku buruk kepada orang lain tidak diperintahkan bersabar atau sholat. Yang ada adalah peringatan untuk menunggu terjadinya pembalasan akibat perbuatan buruknya.
Aplikasi di dunia kerja misalnya, saya sering mendengar cerita orang-orang yang tiba-tiba terkena musibah, baik sakit, kecelakaan dan lainnya. Dan di antara penyebabnya setelah ditelusuri ke tempat kerjanya dengan bertanya kepada yang kerja di situ adalah orang-orang seperti ini melakukan kezaliman kepada orang lain, baik di tempat ia bekerja maupun di rumah dan tempat lainnya.
Maka, dengan beriman kepada hari pembalasan, seorang muslim sudah sepantasnya takut akan berbuat buruk kepada orang lain karena balasannya tidak diketahui seperti apa dan datangnya sekejap dan tiba-tiba, tidak bisa ditolak oleh siapapun, betapapun sangat berkuasanya ia di mata manusia.
Beriman kepada hari pembalasan adalah cara seorang muslim untuk menikmati hidupnya di dunia. Karena hidup di dunia adalah dalam rangka mempersiapkan bekal untuk hidup di akhirat. Jika hidup diperbanyak dengan perilaku positif, maka insya Allah balasan positif, yang datangnya tidak disangka-sangka, di luar ekspektasi, akan menambah semangat seseorang untuk selalu berusaha menjaga perilakunya. (efs)
ilustrasi: freefoto.com