Pentingnya Peranan Swasta dalam Pembinaan Olahraga

Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 08 Februari 2017 10:56:45 WIB


Pentingnya Peranan Swasta dalam Pembinaan Olahraga

Oleh Yal Aziz

Mens sana in corpore sano. Begitulah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya;''Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat." Maksudnya jika jiwa seseorang sehat, maka tubuhnya akan sehat juga. Begitu pula sebaliknya.

Kini dizaman moderen atau diera digital ini, kegatan olahraga tak hanya sekdar untuk kesehatan, tapi juga untuk adu prestasi dan gengsi, sehingga tak mengherankan bila ada insan olahraga yang mau menghabiskan uangnya bermiliar-miliar untuk sebuah prestasi demi harga diri.

Begitu juga dengan kepala negara dan kepala daerah, yang sengaja menguras pemikiran dan menyiapkan anggaran  untuk mengejar sebuah prestasi dalam menyiapkan dan mengirimkan atlet mengikuti berbagai multi event, seperti Olimpiade, Asian Game, SEA Game, PON dan Porwil, serta kejurnas.

Untuk itu tak mengherankan pula  jika olahraga dalam berbagai kegiatannya, tak hanya menjadi perhatian atlet, pelatih, pengurus saja. Tapi telah menjadi perhatian, pengusaha, insan pers, intelektual, perbankan, birokrat, militer, pemerintah daerah, pelajar, ahli dan masyarakat umumnya.

Fakta ini, bisa diartikan kalau kegiatan olahraga telah masuk ke dalam domain publik dan bukan lagi dimonopoli mereka-merka  yang mengaku insan olahraga semata. Dampaknya, tentu saja keterlibatan banyak pihak dari berbagai lembaga, latar belakang yang beragam tersebut merupakan sesuatu yang sangat positif.

Hanya saja selama ini perkembangan dan pembinaan olahraga dalam persoalan dana atau biaya, sangat bergantung dengan perhatian dan kepedulian  pemerintah, baik pemerintah tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten. Dampaknya, jelas berpengaruh terhadap geliat dan perkembangan dan pembinaan olahraga itu sendiri, karena anggaran nagara, pemerintah sangat terbatas untuk membiaya kegiatan olahraga tersebut.

Kita bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari even-even olahraga yang diselenggarakan oleh komponen masyarakat swasta, pengusaha, mahasiswa dengan mengandalkan bantuan dana dari pemerintah. Hasilnya, kurang memuaskan. Bahkan ada atlet yang potensial tak bisa menggapai prestasi tingkat dunia karena keterbatas dana dari pemerintah yang disalaurkan melalui KONI Sumatera Barat.

Khusus KONI Sumatera Barat yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah Sumatera Barat, hanya mengandalkan bantuan dari dana APBD saja, tanpa ada dukungan dari penguasaha swasta atau perusahaan swasta. Meskipun ada bantuan pihak ketiga seperti PT Smen Padang, Bank Nagari, itupun jauh dari kebutuhan KONI itu sendiri dalam membantu setiap cabag olahraga.

Seharusnya kini, Pengurus KONI Sumatera Barat dalam paradigma baru pembangunan prestasi olahraga, perlu merangkul dan menjalin kerjasama dengan pengusaha swasta serta elemen stakeholder lainnya. Kenapa? Karna peran dukungan pengusaha swasta dalam biaya pembinaan atlet sangat memegang peranan penting dalam persoalan pendanaan.

Kemudian bagi KONI Sumatera Barat, persoalan dana dalam mendorong peningkatan prestasi atlet, suatu kepastian yang tak bisa diabaikan. Caranya tentu,  pengurus KONI Sumbar haruslah menjalin kerjasama yang harmonis dengan setiap pengurus provinsi (pengprov) semua cabang olahraga, tanpa pilih kasih.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, selalu mengingatkan KONI Sumbar untuk mencari pihak ketiga dalam persoalan dana pembinaan atlet. Bahkan Nasrul Abit menegaskan dana APBD untuk membiayai kebutuhan pembinaan olahraga sangat terbatas.

Kemudian, Wagub Sumbar menyarankan kepada Pengurus KONI Sumbar untuk melakukan pendekatan kepada beberapa orang pengusaha, institusi, agar tergerak hatinya untuk menjadi pembina atau sponsor baik dalam hal dana, tenaga pelatih dan lainnya. Dengan kata lain, alangkah bagusnya jika ada yang mau menjadi "Bapak Angkat" dalam pembinaan olahraga di Sumatera Barat ini. (penulis Ketua Serikat Media Siber Indonesia Sumatera Barat)