Menurunnya Penjualan Kendaraan Bermotor
Artikel () 18 Juli 2017 05:46:38 WIB
Sebuah informasi di koran Bisnis Indonesia edisi 24/5/17 menunjukkan adanya trend penurunan penjualan kendaraan bermotor. Baik mobil maupun motor. Pada tahun 2014, penjualan mobil sebesar 1.208.019 unit, menurun di tahun 2015 menjadi 1.013.291 unit, dan di tahun 2016 naik sedikit menjadi 1.062.716. Namun dari tahun 2014 ke 2016 grafiknya menunjukkan penurunan.
Sedangkan untuk motor, pada tahun 2014 sebesar 7.867.195. pada tahun 2015 menurun kembali 6.480.155. Dan kembali menurun di tahun 2016 menjadi 5.931.285. Menurut seorang ekonom yang menjadi menteri pada beberapa waktu lampau, ia sempat menyampaikan, yang dikutip media, bahwa pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor menunjukkan membaiknya perekonomian.
Pernyataan ini sempat dikritik ekonom lain karena dianggap terlalu menyederhanakan masalah. Namun untuk konteks saat ini, boleh jadi pernyataan tersebut benar. Jika melihat data lainnya, ekonomi memang sedang mengalami penurunan. Misalnya saja penyaluran KPR (Kredit {Pembiayaan Rumah) yang juga mengalami kelesuan.
Saking lesunya penyaluran KPR, maka bank melakukan inovasi pembiayaan dalam rangka menarik minat calon kreditur. Di antaranya dengan menurunkan tingkat suku bunga atau margin.
Kembali kepada turunnya penjualan kendaraan bermotor, jika dilihat lagi yang menurun lebih dalam adalah penjualan sepeda motor. Sepeda motor identik dengan kendaraan yang digunakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Penjualan sepeda motor di tahun 2015 turun sebesar 17,63% dibanding taun 2014. Sedangkan penjualan mobil turun 16,11 persen untuk tahun yang sama. Pada tahun 2016 penjualan mobil sempat naik sebesar 4,87% dibanding tahun 2015. Itu pun dengan melakukan strategi penjualan produk baru di pasar sehingga membuat konsumen tertarik. Sedangkan untuk penjualan motor di 2016 turun sebesar 8,57% dibanding tahun 2015.
Menurunnya penjualan motor ini ada beragam sebab yang bisa dianalisa. Ada yang mengaitkannya dengan jadwal panen yang bermasalah sehingga terkait dengan kesiapan atau kemampuan konsumen membeli motor. Namun ada pula yang mengkaitkan dengan kondisi ekonomi mikro. Karena jika melihat kondisi ekonomi makro, secara umum ekonomi cukup stabil. Misanya saja pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5 persen yang dipandang cukup bagus.
Jadi, dari sisi ekonomi mikro telah terjadi pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan 900 KV yang dianggap orang mampu. Namun reaksi masyarakat, terutama melaui media sosial memperlihatkan reaksi ketidaksukaan karena tiba-tiba tagihan listrik mereka melonjak dua hingga tiga kali lipat.
Pemerintah sebenarnya menerima keluhan mayarakat yang tidak mampu jika ternyata listrik di rumah mereka dicabut subsidinya. Yaitu dengan melaporkan secara tertulis kepada pihak berwenang. Laoran yang masuk dan terverifikasi akan tetap mendapat subsidi dari pemerintah. Maka pemerintah pun kembali menaikkan pagu anggaran subsidi listrik ini akibat banyaknya laporan yang masuk.
Pencabutan subsidi listrik ini ternyata juga turut menyumbang angka inflasi. Sehingga kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah ada yang merasakan dua kali dampak, yaitu membengkaknya tagihan listrik dan terjadinya kenaikan harga akibat membengkaknya taihan listrik.
Kriteria masyarakat tidak mampu yang masih mendapatkan subsidi listrik ini mungkin belum tersosialisasi dengan baik. Sementara masyarakat yang dianggap mampu namun masih memiliki daya 900 VA di rumahnya merasa berat harus membayar tagihan baru yang berlipat. Mereka ini juga rentan terhadap penundaan membeli motor, karena sudah dihadapi oleh membengkaknya tagihan listrik.
Masalah di sisi mikroekonomi ini memang belum tentu bisa dirasakan oleh lebih banyak orang sehingga menjadi masalah nasional. Karena bagi masyarakat yang daya listrik di rumahnya sebesar 1.300 VA mereka tidak mengalami kenaikan tarif listrik seperti yang dialami pengguna 900 VA yang dicabut subsidinya sehingga tagihan membengkak signifikan.
Namun demikian, pengguna listrik 1.300 VA sangat mungkin juga mengalami beban berat dalam membayar listrik sehingga mereka menunda keinginan yang lain, dan satu di antaranya boleh jadi adalah keinginan memiliki kendaraan bermotor. Karena listrik merupakan kebutuhan riil yang harus dipenuhi terlebih dahulu dibanding yang lain.
Dari satu sisi masalah listrik saja kita bisa lihat adanya penyebab menurunnya penjualan motor. Di mana ini memperlihatkan bahwa kondisi makroekonomi yang baik dan stabil belum menjadi jaminan akan baiknya kondisi ekonomi mikro, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah yang rentan terhadap gejolak harga.
Produsen atau penjual harus lebih inovatif lagi agar produk mereka bisa terjual di tengah masalah yang dihadapi oleh para calon konsumennya. (efs)
Referensi: Bisnis Indonesia 24 Mei 2017
Ilustrasi: freefoto.com