Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 14 Ramadhan 1438H Jangan Putus Asa

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 14 Ramadhan 1438H Jangan Putus Asa

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 11 Juni 2017 16:30:00 WIB


Pada setiap yang kita hadapi, kadang kita terlalu larut dalam situasi, lupa dengan kondisi. Kita putus asa saat ditimpa ujian. Putus asa adalah sifat manusiawi, tapi sifat tersebut tidak dibenarkan untuk dituruti. Karena sesungguhnya pada setiap yang kita hadapi terdapat ujian dari Allah, di mana Allah meminta kita untuk bersabar dan senantiasa memperbaiki diri.

Pada firman Allah disebutkan

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat". (Q.S. Al Hijr: 56)

Jadi sifat keputusasaan yang kita turuti, bukannya akan berdampak positif pada diri kita, malah akan mengarahkan pada kesesatan. Otomatis hal tersebut berdampak negatif pada kita, merusak diri kita. Bukannya tujuan dan harapan kita dapatkan, malah sebaliknya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Tetapi saat kegagalan tersebut, diolah sedemikian rupa menjadi hikmah, pelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri dalam koridor kesabaran, hasilnya insyaAllah akan konstruktif bagi kita. Diri kita akan jadi tertempa lebih baik lagi, sehingga akan semakin siap menghadapi ujian-ujian berikutnya.

Untuk menjadi sabar dan tidak putus asa, hendaknya pada setiap diri, melakukan tuma'ninah, berhenti sejenak untuk bermuhasabah, introspeksi diri, dan mengevaluasi apa yang menjadikannya gagal, salah, atau tidak berhasil. Ambillah air wudhu, shalat sunnah, dan zikir kepada Allah. Dengan demikian, kita menghadapi ujian tersebut dengan lebih tenang dan berusaha mengatur posisi jiwa kita kembali.

Allah berfirman :

.وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah: 45-46)

Khusyu' pada ayat di atas kita selami bahwa kita perlu benar-benar menghayati setiap kejadian demi kejadian yang kita alami, apakah dalam bertindak kita sudah sesuai dengan aturan kehidupan yang ada, sesuai tuntunan Allah atau belum. Kita diminta untuk mengevaluasi setiap kegagalan yang terjadi pada kita, melunakkan ego bahwa kita sudah melakukan semuanya dengan benar. Dengan ego yang melunak, kita akan lebih mudah dan jujur dalam "berkaca".

Tapi jika kita terjebak dalam keputusasaan, lupa untuk bersujud dan mengambil hikmahnya, maka yang kita dapatkan adalah kegagalan dalam kehidupan.

Kita lihat banyaknya contoh orang yang gagal tapi jujur dalam mengevaluasi kegagalannya tersebut, kemudian dia berhasil, sukses, dan bermanfaat bagi orang banyak. Adanya kendaraan yang kita nikmati kegunaannya saat ini, tidak ada yang dihasilkan dengan sekali eksperimen. Banyak yang membuatnya dengan ribuan kali percobaan gagal dan dana yang habis sangat banyak, tapi mereka terus jujur pada keilmuannya untuk mengevaluasi, dan kemudian mendapatkan kesuksesannya.

Mungkin listrik akan tetap tidak ada hingga sekarang, jika para ilmuwan fisika cepat frustasi dalam risetnya. Dunia IT dan gadget tidak akan ada jika para pelajar zaman dahulu tidak mau mengembangkan bilangan biner dalam wujud nyata. Demikianlah dan sangat banyak contoh kegagalan yang dikelola dengan evaluasi dan semangat pantang menyerah atau putus asa, membuahkan kesuksesan dan manfaat, yang membuat mereka dan orang lain bangga dan terbantu.
 
Wallahu a'lam bishshawaab
(by. fb.IP n Akral)