Makna dan Filosofi Setrika Arang

Artikel () 29 November 2016 13:29:56 WIB


Makna dan Filosofi Setrika Arang

Oleh : Teguh Gunung Anggun

 

Saat ini kemajuan teknologi sudah tidak terbendung lagi. Semua hal mengalami perkembangan yang pesat, contoh kecil saja yaitu setrika. Beberapa dasawarsa lalu, setrika kuno atau yang lebih dikenal dengan setrika arang tak jarang kita jumpai digunakan oleh para orang tua dahulu. Pada dekade sekarang ini, setrika jenisnya sudah banyak mulai dari setrika listrik dengan bentuk dan ukuran yang beragam sampai setrika uap dari berbagai brand merk. Kita tinggal memilih sesuai dengan kebutuhan dan menentukan jenis setrika seperti apa yang diinginkan. Sehingga saat ini dipasaran, setrika terdapat dalam berbagai varian dan pilihan yang dapat memanjakan kita.

Berbicara terkait setrika, jika ditilik lebih jauh akan mengungkit rasa penasaran kita. Siapakah yang sebenarnya pertama kali mempopulerkan dan menemukan benda ini. Melalui benda – benda kuno setidaknya kita mampu menguluti sedikitnya peradaban manusia dan masa lampau. Sejauh mana peradaban dan perkembangan pemikiran manusia pada sebuah zaman. Benda yang dihasilkan menjadi salah satu bukti otentik hasil kebudayaan pada masa itu.

Dari beberapa sumber yang dirujuk, setrika dipercaya mulai dikenal dan digunakan orang sejak tahun 400 SM oleh bangs Yunani. Saat itu, setrika digunakan untuk membuat lipatan – lipatan vertikal pada pakaian – pakaian kebesaran yang digunakan untuk melakukan upacara ritual tertentu. Bangsa Romawi juga tercata pernah menggunakan setrika yang bentuknya menyerupai setrika modern sekarang. Setrika yang digunakan bangsa Romawi saat ini dinamakan prelum. Jenis setrika ini menggunakan teknik pressing (tekanan). Berdasarkan catatan lainya, setrika juga dikenal digunakan oleh Bangsa Cina sekita abad ke 1 SM. Setrika ini berupa pot logam yang dapat diisi dengan bara api.

Pada dasarnya, penemu setrika tidak dapat ditentukan secara pasti karena belum ada bukti sejarah yang menerangkannya. Akan tetapi, banyak orang yang mempercayai kalau setrika ditemukan oleh Hendry W. Seely pada 1882, walaupun pada saat itu masih terdapat berbagai kelemahan. Setrika listrik datar yang masih mempunyai kelemahan, diantaranya lama panasnya, tetapi sangat cepat dingin. Seiring dengan berjalan waktu, setrika terus mengalami perkembangan, penemu – penemu lain pun mulai menyempurnakan hasil – hasil temuan sebelumnya (dikutip dari berbagai sumber).

Sementara di Sumatera Barat sendiri, jika memperbincangkan terkait setrika terdapat beberapa variasi nama dari setrika arang kuno yang mungkin dipakai oleh para buyut dan nenek moyang kita dulu. Dengan fungsi yang masih sangat terbatas. Ukuran besar dan berat serta proses yang sangat rumit untuk menggunakannya. Akan kita kuliti sedikit terkait beberapa variasi nama setrika arang atau setrika kuno dan makna filosofi apa yang ada dibalik benda bersejarah tersebut.

Gosokan Tampurung

Setrika arang di Pasaman Barat lebih dikenal dengan gosokan tampurung. Benda ini sudah dibilang sangat jarang ditemukan di daerah tersebut. Masyarakat sudah beralih menggunakan setrika listrik yang lebih mudah digunakan dan menghemat waktu. Menurut Vivi Lestari (30), salah seorang informan menyebutkan, bahwa ada seorang yang ingin membeli gosokan tempurung pada salah satu tetangganya dengan harga yang cukup tinggi. Tetapi, si pemilik gosokan tempurung ini sama sekali tidak mau memberikan benda langka ini kepada seseorang yang ingin membeli tersebut.

Kalau menurut informan, ada makna filosofis yang dilambangkan dari gosokan tempurung ini, etos kerja dari masyarakat dahulu sebagai masyarakat yang pekerja keras, memiliki semangat yang tinggi dan hidup secara mandiri. Mengapa dikatakan demikian, karena hal tersebut terlihat dalam proses tempurung ini. Butuh proses yang panjang dan cukup menguras waktu. Tetapi pada masa itu masyarakat tetap dapat bertahan. Misalnya, mulai dari proses pengerjaan awal mempersiapkan batok kelapa,kemudian menunggu sampai batok kelapa itu menghitam dan benar – benar panas, kemudian memasukan batok kelapa yang sudah menjdi arang kedalam setrika arang. Ukuran gosokan tempurung yang cukup besar dan memiliki massa yang cukup berat serta menyelutikan menggunakannya. Seluruh permukaan gosokan ini akan sangat panas, sehingga harus ekstra hati – hati karena sewaktu – waktu bisa saja arang panas keluar dari dalam gosokan yang tentu saja dapat merusak pakaian.

Di beberapa daerah Pasaman Barat sendiri, cara lain yang pernah digunakan agar lebih praktis adalah dengan cara meletakan gosokan temprung tersebut diatas kompor dengan pengaturan api yang stabil. Kemudian, sebelum disetrika ke pakaian, gosokan tersebut dicoba dulu ke selembar kertas atau kain. Hal ini bertujuan untuk menghindari ketika menyerika pakaian, tidak meniggalkan noda hitam pada pakaian. Selain menghindari pakaian dari noda hitam pada pakaian, hal tersebut juga bertujuan untuk mengurangi berat dari gosokan tempurung ini karena tidak perlu lagi membakar batok kelapa sebagai pemanas setrika.

Dihubungkan dengan pikiran masyarakat Minangkabau yang gemar berdagang. Disekita daerah tersebut sudah banyak yang menjual arang sehingga si penjual mendapat untung dan pembeli arang juga mempermudah pekerjaannya akan lebih menghemat waktu tanpa harus membakar batok kelapa lagi, sehingga pekerjaan semakin diperingkas, cukup dengan membakar arangnya saja lansung, gosokan tempurung ini sudah bisa digunankan. Kemudian masyarakat Minangkabau yang terkenal cerdik dan kreatif. Misalnya dengan ide untuk menganti panas dari arang dengan panas api dari kompor sudah menunjukan ke cerdikan dan kerativitas masyarakat Minangkabau pada masa itu.

Pangosok Baro

Sementara di Pesisir Selatan, setrika arang ini disebut pangosok baro. Menurut informasi, alat ini terbuat dari baja besi berwarna hitam, tebal dengan ukuran yang cukup besar penggunan juga butuh proses yang panjang dan sangat memakan waktu, bagian atas dari pangosok baro ini ada terdiri dari beberapa lubang, yang berfungsi sebagai pengatur suhu dari pangosok baro agar tidak terlalu panas jika di setrika ke pakaian.

Tidak berbeda dengan proses penggunaanya di daerah lain. Sebagaian masyarakat yang ditinggal di daerah pesisir, pola hidup masyarakat yang dekat dengan pantai memudahkan mereka untuk menemukan kelapa dengan mudah. Maka dengan setrika arang ini akan banyak untuk menghemat biaya karena bahan bakar untuk memanaskan setrika, berupa batok kelapa sangat mudah didapatkan. Jadi seluruh kebutuhan hidup dapat mereka manfaatkan seluruh dari bagian kelapa tersebut, mulai dari kayu, daun, buah serta batok kelapa tersebut.

Dalam masyarakat ada pribahasa yang cukup dikenal yaitu ganggam baro. Makna yang tersirat didalamnya yaitu : mengenggambara yang begitu panas. Terkadang bara batok kelapa hasil pembakaran itu tampaknya saja tidak berapi, tetapi panasnya begitu terasa . (TGA).