“MINANGKABAU”

Artikel () 25 November 2016 14:58:19 WIB


“MINANGKABAU”

Risers Exspedition of West Sumatera

Oleh : Teguh Gunung Anggun

MINANGKABAU adalah pesona lembah – lembah, keindah gunung, ketenangan danau, lenggak – lenggok jalan dan ketangguhan jembatannya. Siapa saja menjejak di sana niscaya merasakan aura “ Magis” yang sangat mengasikan.

Jika dipersempit, berkunjung ke Sumatera Barat berati makanan, tradisi dan pemandangan. Dari Bukittinggi hingga Padang, dari Jam Gadang, Danau Maninjau yang eksotis, ayam bakar, dan rendang yang menggugah hingga Lembah Harau yang melegenda.

Saya bersama Tim ERTIGA Mania Risers Exspedition memulai perjalanan yang berbeda, yaitu dari bagian timur ke arah barat. Untuk perjalanan ini kami berkendara dengan menggunakan mobil dari Riau hingga ke Kota Padang. Tentu tidak cukup sehari untuk menikmati semua ke indahan dan semua Kota – kota di Ranah Minang ini.

Selasa

12.00 Tamasya di jembatan

Inilah jembatan termasyur di Sumatera Barat, Jembatan Kelok Sembilan. Jembatan ini diresmikan pada tahun 2013 itu terletak di daerah Lima Puluh Kota atau berbatasan dengan Kota Pekan Baru. Jembatan dengan tiang – tiang tinggi, meliuk – liuk diantara tebing – tebing tinggi menjadi pemandangan tersendiri. Saya menikmati jalan dan jembatan ini dari ketinggian sambil menyeruput air kelapa muda yang segar. Sebagian pengendara lain yang singgah memesan jagung bakar.

13.00 Terang Bulan

Tidak jauh dari Jembatan Kelok Sembilan, sekitar sepuluh menit berkendara, sebuah rumah makan menyambut ditepi jalan. Semilir angin gunung membawa aroma rendang dan ayam bakar. Saya dan rombongan mengambil tempat diarea belakang rumah makan ini. Sungai kecil dan Bukit di belakang rumah makan, menjadi keunikan tersendiri sekaligus menambah cita rasa makanan. Namanya rumah makan Terang Bulan, rumah makan yang ikelola oleh generasi ketiga saat ini. Dinamakan Terang Bulan, sesuai dengan nama bus yang dulu sering singgah pada saat kali dibuka pada tahun 1936.

15.00 Bersampan di Lemah

Terletak tidak jauh dari pusat Kota Kabupaten Lima Puluh Kota, lembah ini menjanjikan berupa – rupa pemandangan dan pengalaman bagi pengunjungnya. Bagaimana tidak, di lembah yang seperti dikelilingi tebing – tebing granit terjal ini, terhampar sawah yang menghijau, terselip beberapa air terjun dan ladang yang luas.

Tidak hanya itu, dilembah ini terdapat juga kanal – kanal yang sengaja dibangun dengan sejumlah fasilitas. Kanal – kanal ini dibangun diatas lahan yang cukup luas. Untuk mengelilinginya anda dapat memakai sampan yang ada, lalu mendayungnya melalui kanal yang cukup panjang. Di kejauhan, air terjun terlihat diantara tebing – teing yang tingggi sekitar 150 meter ini. Tebing – tebing itu menjadi surga bagi para pemanjat tebing. Untuk masuk kelembah ini anda akan dikenakan retribusi 5000 per orang.

17.00 Searah Jarum Jam

Bukittinggi masih sangat ramai saat kami tiba, angkutan kota, bus dan andong memenuhi jalan, terutama sangat mendekati Pasar Atas dan Pasar Bawah yang terkenal itu. Dari Pasar puncak Jam Gadang telah terlihat. Di sore itu, Alun – alun disekitar Jam Gadang itu ramai pengunjung. Mereka berfoto disekeliling menara, memutari menara serupa dengan jarum jam. Kami ikut menikmati malam yang perlahan turun di Kota Bukittinggi dengan segelas kopi yang dijajakan para pedagang.

05.30 Disambut Pagi

Pagi di Kota Bukittinggi seperti Negeri diatas awan. Saatnya saya membuka jendela dikamar hotel, udara dingin menyeruak. Kabut menyelimuti Kota. Di kejahuhan nampak jelas Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang sangat kokoh berdiri, seperti mengucapkan selamat pagi. Saya meminjam sepeda milik hotel, lalu mengelilingi Kota Bukittinggi. Aktivitas warga mulai mengeliat adalah harmoni tersendiri kota ini.

10.00 Melintasi Ngarai

Hanya sekitar lima menit berkendara dari hotel, ada tempat wisata yang terkenal di Bukittinggi. Di sini terdapat Ngarai Sianok, lembah yang dikelilingi tebing cadas. Bersama rombongan, kami berjalan melewati nagari, lalu naik keatas bukit. Di Ngarai ini terdapat “ Great Wall” yang memiliki panjang sekitar 1kilometer. Jalan ini disebut dengan Janjang Koto Gadang, menghubungkan Kota Bukittinggi dengan Agam. Beberapa teman yang tidak sanggup melalui perjalanan yang cukup jauh berfoto diatas jembatan gantung sudah sangat memuaskan. Dari jembatan ini, Ngarai dan puncak – puncak tebing terlihat sangat menawan.

11.40. Meliuk 44 Kali

Dari Bukittinggi, kami melanjutkan perjalanan melalui wilayah Kabupaten Agam. Tidak lain dan tidak ukan kami menyasar kelok 44 dan tentunya Danau Maninjau. Sebelum memasuki kelok 44, jalanan yang kami lalui cukup sempit. Tanjakan cukup dan tinkungan cukup tinggi menghadang. Saat jalanan mulai menurun, angka 44 terpampang disudut jalan yang berbelok tajam. Ini menandakan Kelok 44 yang fenomenal itu.

Setiap berbelok, air yang membiru terlihat dari bawah. Danau Maninjau yang tenang berwarna biru tenang, kntras dengan sekelilingnya yang berwarna hijua. Dengan luas hampir 100 kilometer persegi, danau ini seperti cawan raksasa jika dilihat dari atas.

Kami makan di rumah makan yang terletak tidak jauh dari danau. Meski berasa diketinggian berkisar 500 meter diatas permukaan laut, udara siang itu sangat terik. Sambal hijau yang kami lahap dengan rendang membuat keringat mengucur deras. Namun jagan khawatir, angin yang bertiup sepoi – sepoi dengan pemandangan yang mempesona disepan mata akan membuat jiwa lebih tenang. Selamat menikmati Ranah Minang. (TGA)