Hegomini Wisata Halal
Artikel () 23 November 2016 13:58:34 WIB
Hegomini Wisata Halal
Oleh : Arzil
Daerah Sumatera Barat (Sumbar), mendapat pengakuan dari pemerintah pusat sebagai destinas wisata halal. Ini dibuktikan dengan pemberian penghargaan Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 kepada Provinsi Sumbar, oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata, Jumat (7/10) lalu.
Penghargaan yang diberi pemerintah itu pada ajang Kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional (KPHN) 2016. Dalam ajang bergensi itu, Sumbar meraih dua penghargaan, yakni Destinasi Wisata Halal Terbaik, Destinasi Kuliner Halal Terbaik. Selain itu, pemerintah juga mengapuk biro travel yang ada di Sumbar, yaitu Ero Tour sebagai Biro Perjalanan Wisata Halal Terbaik, dan juga Rumah Makan Lamun Ombak sebagai Restoran Halal Terbaik.
Sebenarnya, dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh World Travel Market di London pada tahun 2007 disebutkan bahwa ada potensi yang sangat besar bagi pariwisata halal dari sisi ekonomi.
Tulisan lain dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs web The Economistjuga menyebutkan adanya prospek yang cukup besar bagi indsutri pariwisata halal, tidak hanya berhubungan dengan produk halal seperti makanan ataupun minuman non-alkohol, tetapi juga pelayanan yang halal terutama yang berhubungan dengan interaksi antara wisatawan laki-laki dan perempuan.
Sebenarnya, potensi pariwisata halal telah terbukti menjadi salah satu industri yang diperhitungkan, namun pengetahuan dan wawasan akan konsep pariwisata halal belum begitu menggaung di Tanah Air.
Hal ini terlihat dari akomodasi tempat wisata di Indonesia yang belum optimal mendukung nilai-nilai kearifan lokal daerah, khusus di Sumbar, yang lebih kental dengan islaminya, maka alangkah baiknya akomodasi yang menjadi instrument pendukung wisata halal itu disiapkan. Jangan ada lagi kesan, misalnya saja musala yang kotor dan masih ada tempat yang menjual makanan dan minuman beralkohol, serta contoh lainnya.
Bisa dikatakan konsep bagi pariwisata halal berarti segala sesuatu yang tidak membahayakan manusia dan lingkungan, yang sesuai dengan koridor aturan wisata halal itu sendiri.
Bahkan, penjelasan tertulis Budi Faisal, dari Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB), pada sebuah artikel menyebutkan selama bagian-bagian pariwisata itu tidak bertentangan dengan prinsip Islam, mereka bisa dikatakan halal.
Menurut Budi lagi, prinsip pariwisata halal pada dasarnya menarik bagi turis. Pertama, makanan yang disajikan terbukti sehat dan bersih. Kedua, tempat wisata tidak menyediakan makanan dan minuman beralkohol. Untuk itu dirinya berharap konsep halal bisa diterapkan di Indonesia di semua lini destinasi wisata Indonesia.
Dari data yang didapat hingga 2015, pertumbuhan industri pariwisata halal dapat dikatakan sebagai pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan jenis pariwisata lainnya. Tampaknya, dengan menjadi destinasi wisata halal itu.
Setidaknya sudah mengambarkan bahwa Sumbar memang ingin mencari peluang ekonomi dibalik penghargaan yang didapat itu. Pasalnya, peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menjadi destinasi wisata halal ini, masih terbuka lebar.
Malah menurut artikel yang diterbitkan oleh traveltourismindonesia.com digambarkan pariwisata halal itu sebagai berikut; pertama, pertumbuhan sektor pariwisata mencapai 100 persen lebih cepat daripada sektor wisata lainnya. Lalu, income yang didapat dari pemberlakuan pariwisata halal itu mencapai $ 135 miliar, nilai pemesanan perjalanan ke luar negeri (outbound), dan diperkirakan bisa tumbuh mencapai $ 200 Miliar pada tahun 2020.
Yang menjadi pertanyaan, apakah penghargaan sebagai destisasi wisata halal nasional yang diraih Sumbar, hanya berlaku diatas kertas saja? Sementara di sisi lain peluang yang diberikan melalui destinasi wisata halal itu, akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi Sumbar dari berbagai lini.
Semoga saja, prestasi untuk memajukan Sumbar di sektor pariwisata melalui penghargaan yang didapat diwujudkan, sejalan dengan itu akomodasi bagi pendukung destinasi wisata halal itu segera disiapkan secara optimal oleh pemerintah. Bagi masyarakat, jangan pula terlalu cepat pesimistis dengan langkah Pempro Sumbar dan kabupaten kota lainnya di Sumbar.
Memang untuk menyiapkan destinasi wisata halal itu tidak bisa dilakukan secara serta merta, tapi butuh dukungan berbagai elemen, termasuk masyarakat sebagai pelaku langsung dari sektor pariwisata. (*)