BUDAYA MELAMANG MENYAMBUT BULAN BAIAK (BAIK)

BUDAYA MELAMANG MENYAMBUT BULAN BAIAK (BAIK)

Artikel () 24 Juni 2016 11:25:53 WIB


Oleh: Teguh Gunung Anggun

Malamang, memasak beras pulut yang dimasukan kedalam sebatang bambu Aur ( Aua, dalam bahasa Minang), yang biasa dilaksanakan pada setiap masuk bulan baiak (besar) di dalam tradisi Minang. Tradisi ini turun temurun telah dilaksanakan oleh masyarakat Minang. Menjelang pada masuk ramadhan, pada bulan maulud (bulan kelahiran Nabi Muhamad), peringatan Isra’ Mi’rat Nabi Muhamad SAW. Selain pada bulan – bulan tersebut, malamang juga dilakukan pada prosesi 3 hari setelah meninggal, 7 hari, 14 hari serta 100 hari peringatan meninggal seseorang di dalam adat Minangkabau.

 

Malamang itu bisa ditemukan diseluruh Nagari yang ada di Sumatera Barat. Seperti umumnya di Kabupaten Pesisir Selatan, pinggiran Kota Padang, Pariaman dan Padang Pariaman serta daerah lainnya yang ada di Sumatera Barat. Selain bahan baku beras ketan (puluik dalam bahasa Minang), lamang juga dibuat dari berbagai bahan makanan lainnya seperti dari pisang, ubi dan lain sebagainya. Dengan campuran santan dari perasan kelapa dan racikan khusus peracik lamang menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat lamang.   

 

Lamang juga bisa didapatkan di pasar tradisional pada hari – hari biasa. Di pasar – pasar biasanya lamang dikombinasikan dengan tapai ( ketan hitam yang diragikan). Penikmat lamang akan ketagihan jika memakan lamang dengan campuran tapai, karena selain menjadi makan wajib dalam berbagai acara dan pertemuan dalam adat Minangkabau. Di Pesisir Selatan, melamang rutin dilaksanakan pada saat memasuki bulan Ramadhan, seperti bulan sekarang yang baru memasuki bulan ramadhan. Disetiap rumah penduduk akan terlihat prosesi memasak lamang pada 2 atau 3 hari menjelang ramadhan, begitu juga dengan 2 atau 3 hari menjelang lebaran.