PLAFON KEHIDUPAN DUNIA

Artikel () 21 Juni 2016 10:10:29 WIB


(Ceramah Ustadz H.Irsyad Syafar,Lc)

Oleh :  SITI ZAKIAH

 

Apabila seorang mukmin telah bertekad untuk berjuang di jalan Allah, memenangkan    agamaNya dan membela risalah NabiNya, maka dia wajib menetapkan plafon kehidupan dunia yang akan dinikmatinya. Dia mesti tegaskan sejauh mana dia akan berhubungan dengan kenikmatan dunia dan perhiasannya.

 

Kenapa plafon ini perlu ditetapkan? Karena mengikuti berbagai rayuan dan tarikan         dunia akan membuka selera yang selalu bertambah dari waktu ke waktu. Akibatnya hati bisa tersandera dengan berbagai tawaran yang seharusnya dia merdeka dari itu semua.

 

Pepatah arab mengibaratkan hawa nafsu itu bagaikan seorang bayi. Kalau dibiarkan, dia bisa menyusu sampai usia baligh. Tapi kalau disapih dia akan berhenti menyusu.

 

Jiwa akan menjadi tamak bila terus diberi makan. Tapi kalau dibiasakan dengan yang    sedikit, ia akan merasa cukup.

Allah berfirman:

 

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ (ص 26)

 

Artinya: "Dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu, niscaya kamu akan disesatkannya     dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat   adzab yang pedih, karena mereka melupakan hari penghitungan." (QS Shad: 26)

 

Seorang salaf pernah menyatakan, "yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu akan    menghalanginya dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan akan melupakannya   terhadap akhirat.

 

Oleh karena itu, membuat flapon bagi diri sendiri dan membiasakannya dengan satu       batasan level kehidupan, akan menjamin hadirnya rasa cukup dan qanaah, dan menyingkirkan sikap berlebihan atau glamor.

 

Kita tidak dalam rangka mengharamkan yang halal, atau mempersempit kehidupan. Ini hanya mempersiapkan jalan bagi para pejuang di jalan Allah. Sebab takkan mungkin     berpadu tamak kepada dunia dengan memenangkan akhirat. Tak akan bisa berdampingan keinginan meninggikan kalimat Allah dengan keinginan memperbanyak ghanimah.

 

Rasulullah saw bersabda:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى...

 

Artinya: "Wahai manusia, marilah menuju Tuhan kalian. Sesungguhnya yang sedikit      tetapi mencukupi, lebih baik dari pada banyak akan tetapi melalaikan..." (HR Thabrani, Ahmad, Hakim, Ibnu Hibban dari Abu Darda')

 

Memang akan ada relatifitas dalam penetapan plafon kebutuhan hidup ini. Sebab, bisa    jadi sesuatu yang primer bagi sesorang, tapi bagi yang lain itu sekunder atau bahkan      kemewahan. Akan tetapi jiwa yang terlatih dan selalu tersambung kepada mulianya        tujuan akhirat akan lebih bisa mengukur dan menetapkannya.

 

Sesungguhnya hari ini kemiskinan dan kekayaan telah menjadi akhlak jiwa melebihi     materi dunia. Betapa banyak orang yang banyak harta tak bisa tidur nyenyak dan penuh      kegelisahan karena tak tercapainya tambahan harta. Sebaliknya betapa banyak orang      yang sedikit harta tapi kaya hati dan tenang perasaan, dapat tidur nyenyak karena apa     yang dimilikinya dirasakannya cukup.

 

Kita harus menyadari bahwa saat ini semakin banyak orang-orang yang miskin moral    dan harga diri, miskin akan nilai-nilai ruhiyah dan miskin dari mengingat Allah. Tentunya orang yang bertekad menjadi pejuang di jalan Allah tidak boleh masuk dalam barisan    mereka. Dan Ramadhan hadir menghampiri kita untuk menekan plafon dunia kita dan   menaikkan plafon akhirat.Semoga menjadi renungan untuk meningkatkan motivasi   beribadah kita selama Bulan Ramadhan