HUT RI ke-75

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 24 Agustus 2020 09:50:59 WIB


Di peringatan HUT RI ke-75, rakyat Indonesia dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Secara kondisi, rakyat Indonesia sudah merdeka dari penjajahan fisik. Tapi secara kesehatan, rakyat sedang berperang menghadapi Covid-19. Ciptaan Tuhan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. 

 

Sayangnya, dalam berperang menghadapi Covid-19 rakyat tidak kompak. Ada yang patuh dengan protokol kesehatan, ada yang mengabaikannya, dan ada yang tidak menganggap bahwa Covid-19 itu benar-benar ada. 

 

Menurut informasi yang saya dapat, sebagian orang yang terkena Covid-19 akibat tidak mematuhi protokol kesehatan. Bahkan sudah masuk di koran testimoni orang yang kena covid sehingga ia menyarankan agar masyarakat mendengar seruan pemerintah dan pihak terkait. 

 

Jika saja rakyat mematuhi proktokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, maka tidak akan terjadi lonjakan kenaikan seperti sekarang ini. Setelah Indonesia secara umum masuk ke normal baru atau new normal, perjalanan orang tidak lagi dihambat. Tapi hal ini menyebabkan peningkatan jumlah pasien positif covid. 

 

Covid-19 bisa saja dianggap sebagai penjajah baru yang datang di masa mengisi kemerdekaan. Dan melawannya dengan mematuhi protokol kesehatan. Karena yang tidak patuh berpeluang lebih cepat kalah oleh penjajah baru ini. 

 

Penjajah baru yang dihadapi memang bukan penjajah berbentuk tentara asing. Karena tidak kelihatan. Hal ini yang menyebabkan rakyat banyak lengah, sehingga ketika terkena mereka kaget, tidak percaya, dan keluarganya bersedih. 

 

Di ulang tahun kemerdekaan RI ke-75, Indonesia menghadapi situasi krisis kesehatan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo di depan sidang kabinet. Di mana di situ disebut agar menteri-menteri memahami situasi krisis yang sedang terjadi saat ini.

 

Oleh karena itu, krisis kesehatan yang berupa pandemi Covid-19 harus dihadapi dengan mematuhi protokol kesehatan. Dan itulah tanda kita merdeka. Karena kita yang mengendalikan keadaan, bukan covid. (Erwin FS)