Gubernur Sumbar Sampaikan 4 Metode Sekolah di Masa Pandemi
Berita Utama TITA SHANIA(Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) 20 Juli 2020 07:55:59 WIB
Empat kabupaten dan kota di Sumatra Barat (Sumbar) sudah membuka sekolah dan menerapkan sistem belajar tatap muka mulai hari Senin tanggal 13 Juli 2020. Empat daerah yang masuk kategori “zona hijau” itu adalah Kota Pariaman, Sawahlunto, Kabupaten Pesisir Selatan dan Pasaman Barat. Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, mengatakan sebenarnya ada enam daerah yang sudah kembali menjadi zona hijau. Selain empat daerah tersebut, juga ada Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun kedua daerah yang saling bertetangga itu, menunda dulu untuk tatap muka.
Dalam pembukaan tahun ajaran baru yang digelar secara virtual dari ruang kerja gubernur pada hari Senin (13/07), Irwan mengatakan metode belajar saat pembukaan tahun ajaran baru terdiri dari empat metode. Yakni, tatap muka, tatap maya, campuran tatap maya dan tatap muka serta pembelajaran jarak jauh (PJJ) luar jaring (luring).
Daerah yang berada di zona hijau, menurutnya, boleh tatap muka langsung dengan skenario tatanan normal baru, boleh campuran antara tatap muka langsung dengan tatap maya. Sementara untuk zona oranye dan zona kuning tetap dengan metode tatap maya atau “PJJ luring” bagi daerah yang tidak ada sinyal internet atau tidak ada HP. PJJ luring yakni dengan para siswa menjemput dokumen tugas ke sekolah, dikerjakan di rumah dan diantarkan kembali ke sekolah.
Dalam kebijakan pendidikan dimasa pandemi Covid-19, kita tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan murid, guru, keluarga dan masyarakat. Gubernur berharap keempat cara ini bisa dijalani tanpa mengorbankan pendidikan dan mudah-mudahan target dari kompetensi dasar (KD) terpenuhi. “Kriteria ketuntasan minimal (KKM) selesai walaupun dengan pendekatan tidak tatap muka.
Tahun ajaran baru sekarang, menurut gubernur, masih akan terus dilakukan secara daring (online). Hal ini karena masih banyak daerah di Provinsi Sumbar yang berzona oranye dan kuning. Pembelajaran melalui daring menuntut siswa dan guru untuk tidak gaptek alias gagap teknologi. Ia mengatakan, pendekatan dengan teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan. “Semua guru harus akrab dan ramah dengan IT. Murid-muridpun harus mengubah perilaku dari mendengar guru mengajar di kelas.