Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Sumatera Barat Maret 2020
Berita Utama Desi Marlinda(Diskominfo) 14 April 2020 09:37:49 WIB
IHKmerupakan salah satu indikator ekonomi penting yang dapatmemberikan informasi mengenai perkembangan harga barang/jasa yang dibayar oleh konsumen. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/jasa yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang/jasa mempunyai kaitan yang erat sekali dengan kemampuan daya beli yang dimiliki masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan tetap. Tingkat perubahan IHK (inflasi/deflasi) yang terjadi akan mencerminkan daya beli dari uang yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semakin tinggi inflasi maka semakin rendah nilai uang dan semakin rendah daya belinya.
• Deflasi di Kota Padang terjadi karena adanya penurunan indeks pada 3 (tiga) kelompok pengeluaran. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,55 persen, diikuti penurunan indeks pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing sebesar 0,01 persen. Inflasi di Kota Bukittinggi terjadi karena kenaikan indeks pada 6 (enam) kelompok pengeluaran. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,93 persen dan diikuti kenaikan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,23 persen.
• Laju inflasi tahun kalender sampai bulan Maret 2020 Kota Padang dan Kota Bukittinggi masing-masing sebesar 0,34 persen dan 0,77 persen. Laju inflasi year on year Kota Padang (Maret 2020 terhadap Maret 2019) sebesar 2,01 persen dan Kota Bukittinggi sebesar 2,76 persen.
• Dari24(duapuluhempat)kotaIHKdiSumatera,sebanyak10(sepuluh) kota mengalami inflasi dan 14 (empat belas) kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,64 persen dan terendah terjadi di Kota Pekanbaru sebesar 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 0,79 persen dan terendah terjadi di Kota Padang dan Kota Bengkulu masing-masing sebesar 0,02 persen. Kota Padang menduduki urutan ke 13 (tiga belas) dari semua kota deflasi di Sumatera dan Kota Bukittinggi urutan ke 7 (tujuh) dari seluruh kota yang mengalami inflasi di Sumatera. Secara nasional Kota Padang menduduki urutan ke 44 (empat puluh empat) dari semua kota yang mengalami deflasi di Indonesia dan Kota Bukittinggi urutan ke 28 (dua puluh delapan) dari semua kota yang mengalami inflasi di Indonesia. (Rilis / BPS Sumbar)