Baik Buruk Suatu Negara Tergantung Wanitanya

Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 02 April 2019 08:39:16 WIB



Di suatu negara, jika wanitanya rusak, maka rusaklah negara tersebut. Namun jika wanitanya baik maka baik pulalah negaranya. Kemudian, wanita yang sholihah atau yang taat beribadah merupakan perhiasan dunia. Kenapa? Karena wanita memiliki inner beauty yang luar biasa, dan wanita identik dengan keindahan. 

Agama Islam memandang wanita  memiliki banyak keistimewaan dan bahkan wanita  bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan laki-laki. Alasan atau dalilnya sebagaimana diungkapkan  di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa. Bahkan, Nabi Muhammad Rasulullah SAW ketika ditanya siapa orang yang paling berhak untuk dihormati dan didahulukan, dengan lantang dan tegas dijawabnya. "ibumu! ibumu! ibumu! kemudian ayahmu“. 

Kemudian, jika kita menghitung-hitung berapa jumlah keistimewaan kepada wanita dalam pandangan Islam, jelas tak akan terhitung.  Lantas timbul pertanyaa, wanita yang seperti apa yang bisa mendapatkan keistimewaan dalam pandangan Islam itu? Jawaban tegasnya, wanita sholihah.

Wanita dalam rumah tangganya sangat berperan. Alasannya karena rumah tangga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang di dalamnya rumah tangga tersebut terdapat ayah, ibu, serta anak. Kemudian, semua anggota keluarga mempunyai tugas dan fungsi masing- masing, dimana wujud keluarga merupakan bentuk organisasi yang masing- masing anggota keluarga sangat berperan. Tentunya semua orang berkeinginan menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. 

Untuk mewujudkan keluarga yang tentram tidak semudah membalik telapak tangan. Kenapa? Karena semua anggota keluarga haruslah  mengerti dan menempatkan tugas dan fungsinya masing masing secara proporsional. Maksudnya, ketika seorang suami bekerja dengan susah payah membanting tulang, memeras keringat untuk mencari nafkah mencukupi kebutuhan rumah tangganya, so  pasti akan membutuhkan kehadiran seorang istri yang dapat menyenangkan, melegakan, melepaskan rasa lelah di badan maupun penat dalam pikiran dan yang memberikan inspirasi harapan serta motivasi baru untuk menunaikan tugas- tugasnya. 

Logikanya, tugas istri yang penuh rasa tanggungjawab tak hanya mementingkan kepentingannya sendiri, sehingga tak merasakan kelelahan  didalam mengurus rumah tangganya. Baginya, mengurus suami dan anak-anak merupan pekerjaan mulia dengan tetap bertawakal kepala Allah.  

Sebagai seorang wanita walaupun tidak sesholihah Khadijah Al-Kubra, Siti Aisyah, Siti Hajar, dan lain sebagainya, namun, paling tidak berusahalah untuk  menjadi sholihah, sehingga punya arti dan makna bagi suami dan anak. 

Khusus terhadap wanita, agama Islam memberi perhatian yang besar terhadap keluarga dan pembentukan keluarga itu sendiri. Hal itu karena keluarga adalah cikal bakal terbentuknya masyarakat yang baik. Sehingga, dapat dikatakan bahwa warna kehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh baik dan buruknya keluarga yang terdapat dalam keluarga tersebut.

Terwujudnya suatu hubungan rumah tangga yang harmonis tidak terlepas dari berbagai pihak, terutama suami istri sebagai pilot dan co-pilot dengan cara menempatkan diri pada posisi dan kedudukan masing-masing. Dan yang terpenting adalah dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Keduanya diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan serta kodrat yang berbeda. Istri memiliki fungsi dan peran yang tidak dapat digantikan oleh suami. Demikian halnya suami. Fungsi dan peran tersebut kemudian dikenal dengan sebutan hak dan kewajiban.

Salah satu kewajiban suami adalah memberi nafkah pada istri dan keluarga. Seorang suami harus berusaha agar kebutuhan anggota keluarganya tercukupi,namun seiring berkembangnya sistem komunikasi, industri, dan teknologi, saat ini sering dijumpai istri bekerja di luar rumah (sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita bekerja) seperti halnya suami. Bahkan tidak jarang, para istri berhasil dalam pekerjaannya di luar rumah dan bahkan menjadi penopang sumber kehidupan keluarganya menggantikan posisi suami.

Fenomena perempuan bekerja bukanlah hal yang baru. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan berburu, istri sudah ikut bekerja. Ketika suami pergi berburu, istri pun menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan makanan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Meski pekerjaan seorang istri saat itu hanya terbatass pada sektor domestik, namun pekerjaan itu sangat mengandung nilai ekonomi yang tinggi.

Ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris dan industri, peran wanita semakin beranjak dari sektor domestik ke arak publik, seperti bertani, berladang, membuka warung, bekerja sebagai buruh pabrik, dan lain sebagainya,namun tak jarang dijumpai pemikiran masyarakat yang menganggap bahwa perempuan yang bekerja diluar rumah telah menyalahi kodratnya dan pada akhirnya akan melahirkan ketidak seimbangan dalam rumah tangga yang akan berdampak pada keluarga.

Seiring dengan modernitas zaman, pola gerak dan aktivitas perempuan berubah dan turut mempengaruhi ideologi, pemikiran, serta peran yang selama ini dijalaninya. Apabila dahulu perempuan hanya berkutat pada ranah domestik, namun sekarang perempuan banyak menekuni aktivitas di ranah publik dengan berkarir dan mampu mandiri dari segi ekonomi. Maka, peran tersebut seharusnya tidak dibakukan, karena hanyalah bentukan sosial saja.

Dalam era globalisasi pembangunan nasional dalam konteks sumber daya manusia, keterlibatan antara laki-laki dan perempuan merupakan hal yang sangat esensial. Oleh sebab itu, kepedulian holistik yang melihat sumber daya manusia dengan peran kekhalifahannya di bumidengan acuan nilai-nilai agama dan nilai luhur budaya bangsa, perlu disinergikan dalam konteks dimensi domestik dan publik sekaligus. Dimensi publik yang menyangkut aspek perempuan dibidang iptek, ekonomi, ketenagakerjaan, politik dan ketahanan nasional. Dimensi domesticmencakup aspek kesejahteraan keluarga, kesehatan, hubungan keluarga yang simetris. 

Ketika wanita bekerja, maka tidak serta-merta permasalahan keluarga hilang, namun dapat dimungkinkan timbulnya persoalan baru yang lebih rumit dan krusial serta berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga. Apabila wanita bekerja, maka tugasnya menjadi lebih berat, disamping bekerja, ia juga harus mengurus rumah tangga seperti melayani suami, mendidik anak, dan sebagainya. Hal ini tidak jarang sangat rentan menimbulkan masalah, karena seorang wanita sering dipersalahkan ketika anak-anak mereka prestasi belajarnya menurun atau merasa kurang diperhatikan yang berdampak anak kurang betah tinggal di rumah, dan tidak jarang anak-anak tersebut melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang bertentangan dengan norma agama dan sosial. 

Kedepan kita berharap agar para wanita tidak melupakan kodratnya dan tetap menjadi wanita yang sholihah dan berhasil menjadi ibu rumah yang baik dan berguna bagi suami dan anak-anaknya. Semoga (Penulis wartawan tabloid bijak/berbagai sumber)