Jumpa Pers kepala BPS Provinsi Sumatera Barat
Berita Utama Desi Marlinda(Diskominfo) 01 Februari 2019 15:44:33 WIB
Padang, Jum’at 1 Februari 2019
Inflasi di Indonesia pada Januari secara umum mengalami kenaikan sebesar 0,32%, dan khusus untuk kota Padang kenaikannya sebesar 0,24% demikan disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat, Dr. Ir. Sukardi, M.Si. dalam acara rilis berita resmi statistik bulan Desember 2018 di ruang Vicon BPS Sumatera Barat, Jum'at (1/2/2019). Angkutan udara memberikan andil tertinggi terhadap inflasi kota Padang, diikuti oleh bimbingan belajar dan ikan tongkol. Dari 23 kota IHK di Sumatera, 18 kota mengalami inflasi dan 5 kota lainnya mengalami deflasi.
Nilai eksport Sumatera Barat untuk bulan Desember 2018 mencapai US$113,36 juta atau terjadi penurunan sebesar 13,14% dibanding bulan November 2018, Secara akumulatif eksport Sumatera Barat bulan Janjuari-Desember 2018 mencapai US$1.595,01 juta atau turun 22,05% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Golongan barang eksport terbesar adalah dari eksport lemak dan minyak nabati sebesar US$85,97 juta, diikuti oleh golongan karet dan barang dari karet sebesar US$19,26 juta. Pergerakan angka eksport di Sumatera Barat menurut Dr. Ir. Sukardi, M.Si tidak terlalu besar dari bulan ke bulan.
Untuk sektor pariwisata jumlah wisata mancanegara yang datang ke Sumatera Barat melalui Bandara Internasional Minangkabau bulan Desember 2018 mencapai 4.801 orang. Angka ini mengalami penurunan dari bulan sebelumnya, hal ini dikarenakan tingginya harga tiket pesawat pada musim liburan akhir tahun. Wisman yang paling banyak berkunjung ke Sumatera Barat adalah warga Malaysia, Singapura, Australia. Tingginya animo warga Malaysia ke Sumatera Barat disebabkan sudah adanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke BIM serta harga tiket yang relatif rendah. Penurunan jumlah kunjungan wisman ini juga diikuti penurunan tingkat hunian kamar hotel di Sumatera Barat sebesar 6,76%.
Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang Provinsi Sumatera Barat pada triwulan IV tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 9,72%, hal ini antara lain disebabkan oleh penurunan industri pada barang kimia, barang dari bahan kimia, karet, barang galian bukan logam, dan industri makanan. Sementara itu, pada produksi Industri Manufaktur Mikro dan Kecil (IMK) di Sumatera Barat mengalami kenaikan 8,05%. Kenaikan ini karena peningkatan pertumbuhan produksi pada industri percetakan dan reproduksi media rekaman, industri furniture, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya, serta industri kayu, barang dari kayu dan gabus, barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya. (desimarlinda-diskominfo)